Dalam perjalanan pulang, ketiga
bersaudara itu sudah mulai merasakan datangnya badai amukan dari Lily yang akan
segera tiba.
“Gawat deh”, gumam Ical sambil
memandang kedua kakaknya dengan pandangan memelas.
—————
4
“Hu…hu….hu…hu….hik…”, Lily menangis
sesenggukan dengan tangan kanan memegang gagang telepon dan tangan kiri
memukul-mukul bantal. Matanya yang besar mencucurkan banyak air mata kesedihan.
Diseberang telepon, Elin dengan
sabar mendengar keluh kesah sahabatnya, “Tenang
non, tenang…Mungkin nggak seburuk dugaanmu”, ucap Elin menenangkan.
“Nggak buruk gimana ?”, ujar Lily
ditengah tangisnya, “ketiga lelaki nakal itu bahkan menyebutnya monyet ! monyet
lho…”
“Monyet ? yah, nggak salah juga, kita
kan
memang saudara monyet ?”
“Elin !”, seru Lily kesal mendengar
ucapan Elin.
“Ya..ya..sori, terus gimana sikap Sean ?”, tanyanya serius.
“Sudah seminggu ini Sean sama sekali
nggak bisa ditemui, kalaupun aku lihat dia ada, dia sama sekali nggak mau
menyahut seperti biasanya”, jawab Lily sambil mengambil tisue untuk mengelap
hidungnya.
“Sudah coba masuk ke halaman belakangnya ?”
“Nggak berani, aku cuma berani
memanggilnya dari atas pohon…hu huu..”, tangis Lily bertambah keras.
“Kenapa nggak berani ?”
“Dia sepertinya marah sekali, waktu
aku coba-coba masuk halaman, dia langsung mengeluarkan seekor anjing yang buesar
sekali….Bayangin, dia sampai pakai anjing buat mengusir aku !”, teriak Lily
penuh emosi.
“Lho…anjing darimana dia ?”
“Nggak tau !”
“Terus ketiga lelaki usil di rumahmu gimana ?”
“Huuhh…”, Lily berteriak sambil
memeluk Molly dan Bunny, kedua kelinci mungilnya. “Mereka sudah dapat hukuman,
disuruh mama bersih-bersih rumah selama sebulan penuh, disuruh papa antar susu
sapi ke pelanggan tiap hari Senin dan Kamis, aku juga nggak mau buat kue lagi
!”
“Senin dan Kamis ? Seperti puasa ya…Baguslah, peternakan sapi perah
ayahmu bisa terbantu
kan
,
terus mereka sudah minta maaf ?”
“Sudah, tapi belum aku maafin,
mereka benar-benar keterlaluan, mas Arya kan sudah umur 26, tapi kelakuannya
masih aja seperti itu, mas Ogi juga, kalau Ical sih aku masih bisa maklum”,
Lily berkata sambil terus menangis sesenggukan. Sementara dibelakangnya, ketiga
lelaki usil itu menguping pembicaraannya, dan yang termuda merasa lega karena
Lily tidak begitu marah dengannya.
“Langkah selanjutnya apa ?“
“Nggak tahuuu..hu..hu….aku harus
gimana Liin ?”
Elin mendesah, “Kalau menurutku sih, coba aja ke rumahnya lagi, bawa kue buatanmu yang
paling enak, siapa tahu dia sudah mau terima kamu”, usulnya.
“Kalau nggak mau gimanaa…?”
“Coba terus, kamu ini biasanya
kan
nggak gampang menyerah ?”
, ujar Elin terus menyemangati.
“Sungguh ? Aku orangnya nggak
gampang menyerah ?”, tanya Lily tak yakin.
“Ohoo…tentuu…ingat insiden motor ?”
“Ya…”, ujar Lily sambil
mengingat-ingat kejadian sewaktu ia sangat ingin mengendarai motor sendiri dan
tidak diperbolehkan oleh saudara-saudara lelakinya.
Tapi semakin tidak boleh, semakin
giatlah Lily untuk belajar. Dan sebagai jalan keluar ia pun menyewa sepeda
motor dari temannya, dan selama seminggu penuh ia belajar ditemani Elin yang
memang sudah bisa mengendarai motor. Lalu diakhir minggu tubuh Lily babak belur
akibat berendam di sawah, berenang di sungai, memeluk pohon, mencium aspal dan
berguling di tong sampah.
Selain menghadapi omelan orang
tuanya serta saudara-saudara, Lily juga harus merogoh kantong untuk membayar
kerusakan pada motor yang disewanya itu. Namun karena kegigihannya itulah,
sekarang ia bisa membawa motor sendiri.
“Teruus…ingat timpukan untuk Tommy ?”
“Yaa..”, Lily kembali teringat
sewaktu ia masih duduk dibangku SMA.
Waktu itu ia jatuh cinta pada
seorang lelaki bernama Tommy yang sangat populer di sekolahnya karena ia sangat
tampan dan jago bermain basket. Untuk mendapat perhatian dari Tommy, Lily pun
mengeluarkan jurus-jurus andalan wanita untuk menaklukkan lelaki, apalagi kalau
bukan kue.
Sebulan penuh ia belajar memasak
dengan ibunya dan bahkan ikut kursus. Sambil terus belajar memasak, Lily juga
terus mendekati Tommy, bahkan dengan cara ikut bergabung ke grup cheerleader
agar ia bisa berada lebih dekat dengan Tommy. Kue pun mengalir ke perut Tommy.
Suatu ketika Lily berjalan menuju
ruang olahraga untuk memberikan tart blackforest pada Tommy yang sedang
berlatih basket. Tapi Lily justru mendapati Tommy sedang bermesraan dengan
seorang gadis saingan Lily yang sangat menyebalkan, dan tart itu pun berakhir
di kepala Tommy dan gadis saingan Lily.
Karena merasa bersalah, dan karena
Tommy merasa mulai menyukai Lily, maka berganti Tommy-lah yang mengejar Lily.
Tolak ditolak, Tommy tetap gigih, akhirnya sebagai senjata pamungkas, Lily
membuat puding coklat super besar. Dan waktu pertandingan olahraga, disaat
Tommy mendekatinya, kue itu pun ia timpukkan ke kepala Tommy di depan orang
banyak sehingga membuat Tommy marah bukan kepalang dan menendang-nendang bangku
kayu sampai rusak berat.
“Yaah…aku agak keterlaluan waktu
itu”, ujar Lily sambil menghela napas.
“Eh,
nggak..justru bagus sekali, ketahuan deh sifat Tommy yang kalau marah suka merusak
barang dan suka ngomong jorok”, bantah Elin. “Naah..jadi sekarang kamu nggak boleh menyerah begitu aja”,
sambungnya.
“Tapi Sean
kan
lain…dia orang bule..”
“Apa bedanya orang non bule sama orang bule ? Sudah, kamu coba lagi,
telepon aku kalau sudah berhasil”, ujar Elin lalu menutup teleponnya, meninggalkan Lily yang
masih menangis sesenggukan sambil memeluk kedua kelinci mungilnya.
©©©©©©
Setelah berjam-jam berusaha
memantapkan diri, keesokan harinya Lily pergi ke rumah om Agus dalam misi
menaklukkan Sean. Kali ini pasti berhasil, pikir Lily optimis, dan untuk
mencapai keberhasilan itu, ia telah membawa megaphone pinjaman dari temannya
yang seorang pelatih senam pagi. Lily yakin Sean akan keluar dan menemuinya.
“Test..test..”,
Lily mencoba megaphone berwarna coklat itu sebelum melakukan aksinya. Ia telah
berada di atas pohon dan siap untuk memancing Sean keluar dari rumah tanpa ada
resiko digigit anjing.
“Halo…halo…ada orang di rumah ?”, Lily memulai aksinya. “Disini
Lily Ayu Sudibyo…, halo…Spadaa…”. Lily menunggu sahutan dari dalam namun
suasana tetap sepi. “Sean darliing…, jadi
orang jangan pemarah, begitu aja marah, payah deh, sampai pakai anjing segala.
Hati-hati nanti digigit kena rabies lho ! Kalau aku sih nggak bakalan bisa
digigit anjing itu, hmm…pohon ini memang sangat membantu”, Lily berbicara
panjang lebar berusaha menarik perhatian Sean.
“Wahhh.. banyak sekali buah mangganya, bisa dijual nih, lumayan
kan
…Sean, kalau kamu
nggak keluar, mangganya aku ambil dan aku jual biar kamu rugi”
, seru Lily ambil mengambil sebuah
mangga. “Ehh..?? Hiiy, kenapa ada ulat
bulu disini, wah, ranting-ranting”, suasana menjadi hening sejenak
sementara Lily sibuk mencari ranting untuk mengusir ulat bulu, “fiuuh akhirnya…biar ulat bulu itu berenang
di kolammu ya Sean,
kan
kamu nggak pernah berenang”
, ujar Lily sambil terkikik.
“Sean keluar doong…, ini lho aku bawa kue tart keju buatmu,
hmm…ditanggung enak deeh…”, ujar Lily sambil mengeluarkan kardus berisi kue tart keju buatannya.
Namun suasana tetap hening, Sean tidak muncul sama sekali.
Lily merasa kesal dan sudah mulai
putus asa, tapi ia masih memiliki satu strategi lagi untuk memancing Sean
keluar. “Ehem…test..test…pendengar
sekalian, kali ini saya akan menyanyikan lagu yang mengisahkan seorang gadis
yang tersiksa karena perlakuan kaum lelaki yang seenaknya sendiri”, hening
sejenak, “OoOooOooh…”, Lily memulai
nyanyiannya dengan koor panjang. “Wanita
dijajah pria sejak dulu kalaa…dijadikan perhiasan sangkar madu….namun adakala
pria…”
BRUAK !!, nyanyian Lily terpotong
karena dari dalam rumah muncul seorang lelaki dengan muka cemberut dan langsung
mengomel.
“Hei”, seru Sean sebal sambil
berkacak pinggang, “hentikan nyanyianmu itu, suaramu membuat telingaku sakit !”
Melihat Sean keluar, hati Lily
langsung berbunga-bunga, tapi ia tidak menghentikan nyanyiannya dan tetap
menyanyi dengan suara sumbangnya, “Ooh..wanita
dijajah pria…”
“Lily …”, ujar Sean dengan nada
penuh ancaman.
“Sejak dulu kalaa….”, Lily tak mempedulikan ancaman Sean.
“Lily…”, ulang Sean.
“Dijajah priaa…”, Lily terus bernyanyi sambil menunjuk-nunjuk kearah bawah.
“Iya, baiklah, kamu boleh turun”,
seru Sean kesal.
“Dijadikan perhiasan….”, lanjut Lily dan kali ini ia menunjuk kue tart yang
dibawanya.
“Iya, aku mau makan kue itu”, seru
Sean semakin kesal.
“Sangkar madu…”, Lily masih meneruskan lagunya sambil menunjuk-nunjuk dirinya.
“Iya, aku mau berbincang dan makan
kue denganmu”, akhirnya Sean berteriak sambil menutup telinganya karena sudah tak tahan mendengar suara Lily.
Lily pun berhenti bernyanyi dan
tersenyum penuh kemenangan, lalu ia meletakkan tali megaphone di bahu kiri dan
dengan perlahan turun dari pohon.
“Hei, bantu dong”, teriaknya pada
Sean.
“Turun sendiri”, ujar Sean dari
tempatnya berdiri.
“Huh, dasar pelit”, gerutu Lily
sambil turun dari pohon dengan perlahan karena selain ia takut kue tartnya
jatuh, ia juga takut celananya terlihat sebab ia menggunakan rok selutut
seperti biasanya.
Sesampainya dibawah Lily segera
berlari menghampiri Sean yang disambut Sean dengan amarah, “Kenapa kamu kesini
?”, bentak Sean, “I don’t want to see you !”
Lily yang berdiri di depan Sean
sempat terbengong-bengong melihat sikap kasar Sean, tapi sebagai gadis yang tak
mudah putus asa, ia pun membalas bentakan Sean dengan suara semanis madu walaupun
hatinya dongkol bukan main.
“Aduuuh..jangan begitu dong, kalau
marah terus nanti mukanya seperti monyet, monkey…lho…”, ujar Lily sambil
berjalan masuk ke rumah.
“Don’t call me monkey !”, seru Sean,
namun Lily berlagak tidak mendengar dan terus berjalan. Sean memandangi Lily
dengan pandangan kesal, “Hei, kenapa kamu masuk ke rumah ? Pulang
sana
! Dasar wanita nggak
tahu diri !”, usirnya.
Langkah Lily terhenti, hatinya
terasa sakit mendengar kata-kata Sean, menurutnya kata-kata Sean keterlaluan
dan ia tak pernah diperlakukan kasar seperti ini oleh orang lain. Lily menoleh
dan berusaha tetap terlihat gembira.
“Sudahlah Sean, jangan marah
terus..mau makan kue nggak ?”, ujar Lily dengan bibir mengkerut maju.
“Terus bagaimana dengan ulat bulu
yang kamu lempar ke dalam kolam renang, sudah kamu selamatkan ?”, tanya Sean
masih dengan emosi membara. Sean sendiri tidak tahu mengapa ia begitu marah
pada Lily.
“Ulat bulu yang mana ? Sudah, kita
ke dalam”, jawab Lily santai.
Sean menoleh kearah kolam renang dan
tidak melihat apa-apa disana, semuanya bersih, ia menjadi salah tingkah karena
mengomel terus. Akhirnya Sean menerima ajakan Lily dan mengikutinya masuk ke
dalam rumah.
Lily langsung menuju dapur
sesampainya di dalam rumah, mengambil pisau, mengeluarkan kue dari dalam kardus
dan memotongnya menjadi delapan bagian, kemudian meletakkan di piring kecil dan
mengangsurkan kepada Sean yang terus memperhatikannya disudut dapur dengan
pandangan sebal.
“Kita makan sambil nonton TV yuk”,
ujar Lily sambil ngeloyor pergi ke
ruang tengah meninggalkan Sean yang bertambah dongkol.
Lily menoleh kearah Sean, “Sini”,
panggil Lily sambil melambaikan tangannya.
Sean pun duduk di sebelah Lily lalu
mulai makan kue tartnya. Membuat Lily menjadi girang.
“Omong-omong, mana anjing besar itu
?”, tanya Lily sambil melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
“Aku kembalikan”, jawab Sean ketus.
“Pinjam ? Dari teman ?”
“Memangnya dari monyet !?”
“Kamu masih marah sama aku ?”, tanya
Lily mendengar jawaban Sean yang singkat-singkat dan ketus semua.
Sean melirik Lily, “Ya”, jawabnya
tetap ketus sambil mendorong lengan Lily dengan kesal.
Tubuh Lily sedikit terhuyung,
“Heii…Aku minta maaf atas kelakuan ketiga lelaki itu, aku bahkan nggak tahu
apa-apa mengenai hal itu”, jelas Lily sambil balas memukul Sean.
“Oh,
Really ?”, tanya Sean curiga.
Lily memandang Sean dengan pandangan
tak percaya, “Masa kamu anggap aku yang menyuruh mereka untuk melabrakmu ?”
“I
believe you can do that”, ujar Sean sambil mengernyitkan wajahnya karena
merasa menggigit sesuatu yang aneh.
“Hei, hei, jangan asal menuduh ya”,
ujar Lily sambil memasukkan potongan terakhir kue tart kedalam mulutnya.
“Aku nggak sembarang menuduh,
buktinya barusan kamu bisa teriak-teriak di luar tanpa merasa malu, iya
kan
?”, ujar Sean sambil
mengeluarkan benda asing dari mulutnya, “Hei apa ini !?”, serunya sambil
menunjukkan benda berukuran 3 cm dan berwarna coklat itu pada Lily.
Lily memandangi benda itu, lalu
dengan tenang ia menjawab, “Ooh, itu
kan
cuma batang kuas kue yang tadi aku cari-cari,
itu made in Lily lho..”
Sean mendorong kepala Lily dengan
jari telunjuknya, “Kamu ini, dasar sembrono, kalau termakan bagaimana ?”
“Ahh…tapi nggak termakan
kan
? Tenang saja…sisa
kuenya pasti sudah nggak ada lagi benda berbahaya”, elak Lily.
“Oh, begitu ya ?”, ujar Sean sambil
berdiri.
Dari ujung matanya, Lily melihat
Sean berdiri dan berjalan menuju dapur, tak lama kemudian Sean kembali sambil
membawa sisa kue tart yang masih banyak serta sebuah sendok sayur yang besar.
“Sini kamu”, ujar Sean begitu duduk
di sebelah Lily.
Lily menoleh dan melihat Sean sedang
menyendok kue dengan sendok sayur, “Sedang apa Sean ?”, tanya Lily bingung.
Sean tersenyum licik, “Tadi katamu nggak
akan ada lagi benda berbahaya di sisa kue ini, jadi kamu harus menghabiskan
untuk membuktikan itu”, ujar Sean sambil menyorongkan seonggok besar kue ke
mulut Lily.
“Apa ??”, seru Lily kaget. Ia tak
akan sanggup menghabiskan kue sebanyak itu. “Nggak mau…”:
Sean tidak peduli dan terus
menyodorkan kue itu didepan wajah Lily, “buka mulutmu”, ujarnya sambil nyengir licik.
Lily bergeser mundur sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya “No way maan..”
Namun Sean terus menyodorkan kue itu
sehingga Lily terpaksa berdiri dan lari ke meja makan sambil berteriak-teriak
minta ampun.
“Ampuun..”, teriak Lily sambil
tertawa-tawa.
Melihat Lily lari, Sean pun
mengejarnya dengan tangan kanan memegang sendok sayur penuh kue dan tangan kiri
memegang sisa kue yang masih banyak sangat banyak.
“Tidak ada ampun bagimu”, seru Sean
sambil tertawa jahat. Lily berputar-putar di sekeliling meja makan dan terus
diikuti Sean yang tak mau mengampuninya.
Beberapa saat kemudian -setelah
berlari kesana kemari- Lily pun merasa letih, ia sudah tak sanggup berlari lagi sehingga ia
memilih bersembunyi dibalik lemari untuk menghindari Sean yang sedang
kesetanan.
Sementara itu Sean yang tiba-tiba
kehilangan Lily, memanggil-manggilnya dengan suara penuh ancaman. “Lily….where are you…”.
Sean mencari Lily sambil terus
memanggilnya dengan suara seram. Tiba-tiba Sean melihat ujung rok Lily dari
balik lemari, ia pun berjingkat-jingkat perlahan sambil terus membawa kue.
“Baa !!”, seru Sean dengan suara
keras sehingga membuat Lily terlonjak kaget bukan kepalang dan tak sengaja
tangannya menyenggol kue yang dipegang sehingga jatuh berantakan di lantai.
BRAAK.
“Ya ampun Sean…, kamu bisa membuatku
terkena stroke di usia muda”, ujar Lily sambil mengelus dadanya.
Sean tidak menjawab, tetapi ia
menunjuk ke bawah, ke arah kue yang berantakan, “Lihat ulahmu itu”, ujarnya
dengan wajah menuduh dan tak lupa menjitak kepala Lily.
“Enak saja, salah sendiri kamu
mengejar-ngejarku dengan membawa-bawa kue segala”, seru Lily sambil memelototi
Sean.
“Nah, kalau sudah begini, enaknya
diapakan ?”, tanya Sean.
“Ya dibersihkan, memangnya mau
dimakan lagi ?”, jawab Lily kesal.
“Kamu ?”, ujar Sean sambil menunjuk
Lily lalu menunjuk kue itu.
Lily menggelengkan kepalanya, “Berdua
lah yaw…”
©©©©©©
Sambil berkonsentrasi mengendarai
motornya, Lily tersenyum mengingat kejadian di rumah Sean tadi. Akhirnya ia dan
Sean membersihkan kue itu bersama-sama, ia mengangkat puing-puing kue dari
lantai, sementara Sean yang bertugas mengepel lantainya. Sungguh-sungguh
kejadian yang langka bisa melihat lelaki seperti Sean mau mengepel lantai. Dan
akibat insiden itu, mereka berdua menjadi benar-benar berbaikan. Lily merasa
sangat gembira sekali.
Tapi tak lama kemudian Lily kembali
menjadi sedih ketika ia bertanya kepada Sean, apakah ia mau jalan-jalan
dengannya malam ini.
“Malas”, ujar Sean sambil membuat
kopi susu untuk Lily dan ia sendiri.
“Kenapa kok malas ? Sebentar aja..”,
bujuk Lily.
“Aku ingin tidur”
“Cuma sebentar aja kok, tidur
kan
bisa nanti”, Lily
terus merayu Sean.
“No..”,
ujar Sean keras kepala.
“Huh, dasar jelek”, seru Lily marah.
“What
did you say ?”
“Sean jelek, pergi sebentar saja
nggak mau”, seru Lily sambil mengambil kopi dari tangan Sean dan langsung
meminumnya. “Uhuk…uhuk..uhuk…”
“Sudah tahu masih panas, main
serobot saja”, gerutu Sean sambil menepuk-nepuk punggung Lily.
“Jadi nanti kita pergi ?”, tanya
Lily ditengah batuk-batuknya.
“Sama sekali nggak”, Sean
menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mantap.
Bibir Lily menjadi cemberut, ia
merasa kesal karena Sean tidak mau, padahal Lily hanya ingin menghabiskan malam
terakhirnya dengan Sean. Itu saja.
5
Sean memandang langit-langit
kamarnya yang ber-relief merumitkan dengan mata menerawang. Akhir-akhir ini
Sean semakin sering melamun dan yang ia lamunkan tidak lain adalah gadis manis
yang suka memakai rok bernama Lily. Entah mengapa, apabila ia bersama Lily ia
selalu merasa bergairah, gembira dan cepat tersulut emosinya. Dan yang paling
menggelikan adalah ia merasa sangat senang apabila dipuji Lily¾benar-benar
aneh.
Sean menggeleng-gelengkan kepalanya,
ia tak mengerti kenapa ia bisa seperti itu bila dekat dengan gadis pendek itu,
padahal selama ini ia selalu bersikap tenang dan bisa menahan diri —
teman-temannya selalu bilang bahwa dia sangat cool. Tetapi sejak kehadiran Lily
- ditambah dengan sekelompok lelaki yang cerewet-cerewet itu - , ia
tidak bisa menahan diri dan mudah emosi. Ia menjadi sering mengomel dan
cemberut. Ia tidak sanggup menghadapi sikap Lily yang berani, apa adanya dan
kekanak-kanakkan.
Sean tersenyum.
Ia selalu saja menolak membantu Lily
turun dari pohon, bukannya tidak mau, tetapi ia tidak bisa menahan matanya
untuk tidak melihat celana dalam Lily yang selalu bermotif lucu dan kekanakkan - hello
kitty, teddy bear, strawberry dan sebangsanya-, dan ia tidak bisa menahan perasaan
gelinya. Jadi ia lebih baik tidak menolongnya daripada terkena jurus kung fu
Lily begitu Lily tahu ia melihat celananya.
Mengapa ia bisa seperti ini ?, pikir
Sean heran sambil membalikkan tubuhnya yang tergeletak diatas spring bed king
size yang selembut awan. Ia belum pernah merasakan hal seperti saat ini kepada
seorang gadis.
Gadis-gadis yang hadir dalam
hidupnya selalu saja seorang gadis yang cantik, tinggi, langsing dan anggun.
Penampilan mereka semua bagaikan peri-peri yang lemah gemulai. Sean memang
selalu menyukai gadis-gadis anggun karena menurutnya demikianlah seharusnya
seorang gadis itu. Dan karena Sean adalah seorang dari keluarga terpandang,
kaya raya dan berwajah tampan, maka ia tidak kesulitan untuk mendapatkan
seorang gadis yang sesuai dengan kriterianya.
Walaupun demikian, Sean tidak pernah
bisa bertahan dengan seorang gadis dalam waktu lama, karena dalam jangka waktu
yang hanya sebentar, Sean sudah dapat mengenal kepribadian, maksud dan
keinginan dari gadis-gadis itu. Dan hasilnya, semua membuat Sean kecewa dan
marah.
Semua gadis itu hanya menyukai wajah
dan penampilan Sean, kekayaan serta kedudukan sosialnya, tidak ada yang murni
menyukai diri Sean apa adanya. Sean tidak pernah bisa menampilkan sifatnya yang
suka asal-asalan, agak menuntut dan terkadang kekanakan - ia
mengakuinya-, bisa pingsan semua gadis itu bila mengetahui sifat asli
Sean.
Lain halnya dengan Lily, gadis itu
bisa membuatnya mengeluarkan semua sifat aslinya tanpa bisa ditahannya.
Terlebih lagi, Sean yakin gadis itu tidak punya niat buruk. Terbukti dengan
seringnya Lily mengajaknya jalan-jalan dengan sepeda motor bebeknya dengan
maksud agar Sean tidak kehabisan uang. Lily juga memperlakukan Sean dengan
wajar tanpa bersikap memuja yang berlebihan seperti gadis yang selalu
mendekatinya. Satu yang Sean yakin, gadis itu jatuh hati kepadanya karena
melihat wajahnya yang tampan.
Yah, ia tidak menyalahkan gadis itu,
ia sendiri sering jatuh hati pada wanita cantik. Tapi ia tetap menganggap bahwa
Lily tidak punya niat tersembunyi lainnya selain ingin dekat dengannya. Apalagi
setelah mengetahui sifat aslinya, Lily tidak merasa takut, ngeri, kecewa atau
mundur. Tetap saja bersemangat mendekatinya dan ceria.
“Hhhh..”, desah Sean tak
bersemangat.
Ia selalu saja memikirkan Lily,
padahal sudah tiga hari sejak Lily berteriak-teriak dengan megaphone, ia belum
pernah kerumahnya lagi. Padahal Sean sangat menantikannya. Mungkin Lily marah
karena ia menolak ajakannya jalan-jalan yang sangat Sean sesali. Sean megutuk
dirinya yang sok cuek dan sok angkuh.
“WAAA”, teriak Sean frustasi.
Ia bangun dari tempat tidurnya dan
berjalan menuju sebuah meja yang terletak disudut ruangan. Disana boneka
kelinci yang dibelikan Lily dia letakkan.
Apakah lebih baik kutelepon, pikir
Sean bimbang sambil menimang-nimang boneka mungil itu. Tapi apa nanti alasannya
?, Sean makin bimbang. Sudahlah, bilang saja minta diantar jalan-jalan, pikir
Sean puas.
Ia lalu mengambil ponsel yang
diletakkannya diatas meja disamping tempat tidurnya dan mulai mencari-cari
nomor ponsel Lily. Dulu Lily pernah memasukkan nomornya ke ponsel Sean yang
sama sekali tak pernah dihiraukan Sean.
Setelah pencet
sana
pencet sini, akhirnya Sean menemukan
sebuah nomor ponsel yang bertitel ‘Lily my sweet darling’. Sean menggertakkan
gigi karena gemas.
“Dasar gadis itu”, gumamnya sambil
mengacak-acak rambutnya. Ia benar-benar kewalahan menghadapi tingkah Lily.
Setelah ragu sejenak, akhirnya Sean
menekan tanda call pada ponselnya dan tak lama kemudian terdengar nada sambung.
KLIK. Telepon diangkat.
“Halo”
Dahi Sean berkerut karena yang
menjawab adalah suara seorang lelaki. “Siapa ini ?”, tanya Sean ketus.
“Lho, ini siapa dulu ?”, jawab suara itu tak kalah ketus.
Sean terdiam sejenak. “Oh, ini pasti
kakaknya Lily yang sok jago itu”, ujar Sean dengan penuh keyakinan.
“……Oh, dan ini pasti lelaki bule yang lebih baik berteman dengan monyet saja
itu”, ujar suara
itu dengan nada mengejek.
“Dimana Lily ?”, tanyanya dengan nada tinggi
karena hatinya menjadi dongkol mendengar ejekan itu.
“Tak tahu yaa…”, jawab suara yang rupanya Ogi mengejek.
Sean mengepalkan tangannya, “Aku…”
“Mau apa cari-cari Lily ?”, potong Ogi, “kamu
nggak mau bertemu sama dia
kan
?”
“Aku berubah pikiran”, jawab Sean
menggerutu.
“Kalau begitu kamu telat”, ujarnya penuh kemenangan.
Kerutan di dahi Sean makin dalam,
“Apa maksudmu ?”
“Ya…, dia nggak ada di
Malang
”
“Apa ???”, seru Sean kaget. “Apa
maksudnya ??”
“Pikir sendiri”
“Tapi…”
Tuut Tuut Tuut. Telepon telah
ditutup.
Sean memandangi ponselnya dengan
mata nanar. Benarkah, benarkah ia telah terlambat ? Disaat ia ingin lebih
mengenal gadis itu ? Disaat ia mulai menyukai gadis itu ? Lalu kemana gerangan
gadis bernama Lily itu ? Apakah ia sudah pindah ? Ia harus memastikannya, batin
Sean gelisah, ia akan coba menelepon rumahnya untuk memastikan bahwa keluarga
Lily belum pindah. Untunglah Lily juga memasukkan nomor telepon rumahnya.
Nuut Nuut…, terdengar nada sambung.
KLIK Telepon diangkat.
“Halo”,
terdengar suara seorang wanita yang lembut, berbeda dengan suara Lily yang
berisik dan jauh dari lembut. Pasti ibunya Lily, pikir Sean.
“Selamat pagi, bisa saya bicara
dengan Lily ?”, ujar Sean sangat sopan.
“Lily ? Siapa ini ya ?”, tanya suara lembut itu.
“Saya Sean”, jawab Sean ragu-ragu.
Ia khawatir akan diomeli oleh ibu Lily karena sikapnya yang cuek kepada anak
gadisnya.
“Sean…Teman kuliah ?”
“Bukan, saya…”
“Oh, iya saya tahu”, potong suara itu, “Sean yang dibelakang
pak Agus itu
kan
?”
“Belakang pak Agus ?”
“Rumahnya”
“Oh iya”
“Maaf ya, Lilynya nggak ada”, ujarnya dengan lembut.
“Boleh tahu kemana ?”, tanya Sean
penuh harap. Ia sangat ingin bertemu dengan Lily.
“Aduuh…saya nggak bisa bilang, tanya saja sama orangnya ya ?”, jawab wanita itu.
“Sudah saya telepon, tapi yang
terima kakaknya”
“Oh
iya nomor ponselnya ganti, tanya saja nomor barunya sama kakaknya”, usul
wanita itu.
“Dia nggak akan mau memberitahu
saya”
“Pasti mau”,
jawab wanita itu yakin.
“Tidak bisakah saya minta tolong
pada ibu ?”
“Kenapa ? Tanya saja sendiri”
“Tapi..”
“Yang gentleman, Lily hanya suka lelaki yang gentleman…Saya beritahu,
menjadi seorang lelaki itu harus pemberani, selain itu…bla…bla…bla…bla….”
Lima
belas kemudian Sean baru bisa
menutup telepon, itu pun setelah Sean mengatakan ada tamu. Ibu Lily terus
menasihatinya agar berani dan tidak kekanak-kanakkan, ia dianggap tidak
gentleman karena tidak mau tanya pada kakak-kakak Lily.
“Bagaimana mau gentleman ??”, teriak
Sean putus asa di kamarnya yang sepi dan dingin. “Baru dengar nama ‘Sean’ saja
seperti mendengar nama buronan, langsung disemprot habis-habisan !!”
©©©©©©
Minggu berikutnya —minggu kedua
setelah kepergian Lily— Sean mencoba menelepon nomor ponsel Lily lagi, tapi
yang menerima tetap seorang lelaki. Sean juga mengintip rumah om Agus dengan
cara memanjat pohon mangga seperti yang biasa Lily lakukan, bukannya melihat
sosok gadis manis itu, tetapi ia justru ditempeli 2 ekor ulat bulu sebesar
jempol -yang ia yakin suami istri karena berdempetan- sehingga
seharian ia gatal-gatal.
Minggu ketiga, ia mencoba telepon ke
rumah Lily dan kali ini yang mengangkat adalah ayahnya. Harapan Sean timbul
kembali, tetapi ternyata hasilnya sama saja, Sean harus berusaha mencari nomor
ponsel Lily yang baru itu sendiri. Ia juga kembali memanjat pohon mangga untuk
mengintip rumah om Agus setelah sebelumnya memeriksa ketidak-beradaan pasangan
ulat bulu, namun tetap saja ia tidak melihat Lily. Ia hanya melihat dua sosok
wanita berumur 45 ke atas yang nampak manis dan pria berumur 50-an yang nampak
masih gagah, mereka pasti ayah dan ibu Lily.
Dan saat ini sudah akhir minggu
keempat, pikir Sean sambil menyesap jus anggur kesukaannya, namun Sean belum
berhasil juga melacak nomor ponsel Lily.
Di tengah udara panas yang
menyengat, Sean duduk-duduk di kursi empuk di teras halaman belakang sambil
memikirkan langkah berikutnya dalam misi pencarian jejak Lily.
Hari sebelumnya Sean mencoba
mendatangi kakak Lily yang nomor satu untuk menanyai nomor ponsel Lily. Sean
berharap kakak Lily ini mau memberitahunya, namun hasilnya sama saja, Sean
disuruh pulang dan tidak boleh kembali lagi. Sean pun menjadi putus asa. Ia tak
tahu harus mencari Lily kemana.
“Damn
it !”, umpat Sean seraya melempar gelas berisi jus anggurnya ke arah pohon
mangga tempat Lily memanjat hingga pecah berkeping-keping.
Ia merasa kesal sekali memikirkan
Lily, ditambah lagi semalam ia mendapat telepon dengan berita mengejutkan dari
ibunya di Inggris. Sambil terus mengumpat ia berjalan ke arah pohon mangga
untuk membereskan pecahan gelas itu, ia tak mau Lily akan terkena pecahan gelas
bila suatu saat datang kerumahnya lewat pohon mangga itu.
Namun betapa terkejutnya Sean ketika
telah berada di bawah pohon mangga karena tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh
didekatnya, yang rupanya dilempar dari arah rumah Om-nya Lily.
Wah, pikir Sean, apa ada pencuri ?
Dan ketika ia melihat apa gerangan yang jatuh, ternyata sebuah tas ransel hitam
yang besar. Pasti pencuri, pikir Sean yakin. Ia harus menghentikannya.
Sean pun mulai menyingsingkan lengan
bajunya, bersiap-siap untuk menghajar sang pencuri sial itu, lalu bersembunyi
di semak-semak dekat pohon mangga agar bisa mengejutkan dan menyergap pencuri
itu.
Perlahan-lahan terlihat sebuah
tangan menjulur dari belakang tembok, diikuti munculnya sebuah kepala dengan
mata yang melirik kesana kemari dengan waspada, dan Sean segera bersembunyi
ketika mata itu melirik ke arah persembunyiannya.
Selama beberapa saat Sean hanya diam
meringkuk dibalik semak-semak, baru ketika ia yakin pencuri itu sedang turun
dari pohon, ia putuskan untuk berdiri dan menyergapnya secara tiba-tiba.
“Wa..”, seru Sean tertahan.
Langkahnya terhenti seketika begitu
melihat sesosok mungil yang mengenakan baju rajut berwarna merah hati dan rok
pendek berwarna senada sedang sibuk menuruni pohon mangga. Gadis itu turun
perlahan-lahan sambil menenteng sandalnya yang berhak tinggi.
“Lily ?”, bisik Sean tak percaya
pada dirinya sendiri sambil mengerjapkan mata.
Gadis itu tiba-tiba saja muncul
disaat saat sedang bingung mencarinya, benar-benar mengejutkan Sean.
Lily telah sampai di bawah dan sibuk
membetulkan roknya yang sedikit terangkat sambil menggerutu. Ia tak melihat
Sean yang berdiri di belakangnya dengan mimik wajah berubah-ubah, terkejut,
kagum, senang, dan terakhir marah.
Sambil terus menepuk-nepuk bajunya,
Lily berbalik ke arah Sean berdiri. “WAW !!”, seru gadis ketika mengangkat
wajah dan melihat Sean yang bertampang seram. “… Seaaan…”, teriak gadis itu
sambil berlari ke arah Sean dengan tangan tebuka seperti di film-film
India
,
hendak memeluk Sean.
Namun Sean berkelit.
“Hoi ! Kok begitu ? Nggak mau dipeluk gadis
cantik ya ?”, Lily tersenyum manis sambil mencolek tangan Sean.
Sean hanya diam memandang gadis itu
dengan mata melotot. Tadi, sejenak ia merasa senang bukan kepalang melihat Lily
muncul, namun tak lama kemudian ia menjadi geram mengingat kepergian Lily yang
tiba-tiba tanpa berpamitan dengannya, dan tiba-tiba saja gadis itu muncul lagi
dihadapannya tanpa ada perasaan bersalah, justru cengar-cengir.
“Marah ya ?”, ujar Lily sambil
berbalik untuk mengambil tas ranselnya yang sangat besar itu. “Kita masuk saja
yuk, ditanggung kamu senang”, Lily mengedipkan mata lalu menggandeng tangan
Sean dan mulai melangkah masuk ke rumah Sean.
Dengan kasar Sean mengibaskan
tangannya dari genggaman Lily, lalu ia berteriak emosi, “Bagus ya, pergi sebulan
nggak bilang-bilang. Kemana saja kamu ?”
Lily berbalik dan memandangi Sean
dengan pandangan gembira, “Kamu mencariku ?”
Sean tersentak, gadis ini
benar-benar membuatnya salah tingkah. “Siapa yang sudi mencarimu ?”
Lily tersenyum lalu berkata genit,
“Ahh…Mister Sean William Atkins…jangan malu kalau memang rindu pada saya”
“Siapa yang…Hei…”, kalimat Sean
terputus karena Lily sudah berlari ke dalam rumah bersama tas ransel di punggungnya
dengan tertawa-tawa riang.
Sean pun mengikuti Lily masuk ke
dalam rumah. Dan seperti biasa, ia menemukan Lily berada di dapur sedang sibuk
memotong sebuah kue berwarna kuning dengan keju menggunung diatasnya.
“Sean sini deh, enak sekali kue ini,
tadi pagi sebelum kesini aku membuatnya”, ujar gadis itu dengan ceria, “terus
waktu aku lihat di dalam kulkas banyak sekali keju, maka aku putuskan membuat
kue gunung keju..mmm…bahasa Inggrisnya berarti…
Cheese
Mountain
Tart”, lanjutnya sambil tertawa-tawa.
Sean mendatangi gadis itu dan
mencolek krim dan keju parutnya, “Mmm….not
bad”, ujarnya.
“Iya
kan
…enak..”, ujar gadis itu sambil sibuk
mengambil piring kecil dan sendok. “Nah, ayo kita bawa ke ruang tengah, kita
makan sambil nonton TV”, ujarnya lalu berbalik dan melangkah menuju ruang
tengah.
Sean memandangi punggung gadis itu
dengan perasaan kesal yang menggunung layaknya keju diatas tart itu.
“Huh”, gerutu Sean sambil mengikuti
gadis itu menuju ruang tengah.
Begitu duduk di sofa, Sean langsung
bertanya pada Lily.
“Kemana sih kamu selama sebulan ini
?”, tanyanya dengan suara ditenangkan. Ia tak ingin Lily bilang bahwa ia rindu
pada gadis itu ¾ walaupun memang betul.
Lily melirik, memandangi Sean,
“Penelitian”, jawabnya dengan mulut penuh kue.
Dahi Sean berkerut, “Penelitian ?
Penelitian apa ?”
“Untuk skripsi, aku harus cari data
di perusahaan di
Surabaya
”,
jawab Lily sambil mengambil keju batangan yang ada didalam potongan kue Sean.
Sean memukul tangan Lily sehingga
gadis itu tak bisa mengambil keju batangan itu, “Jadi kamu ke
Surabaya
? Terus nomor ponselmu ganti ya ?”
Bibir Lily cemberut, “Iya ganti,
habis mas Ogi ngotot mau pakai nomorku, aku juga nggak tahu apa maksudnya, dia
kan
punya nomor sendiri”
Aku tahu maksudnya, batin Sean
kesal, pasti ketiga lelaki usil itu mau menjauhkanmu dariku.
“Terus kenapa kamu nggak memberitahu
aku kalau kamu mau ke
Surabaya
? Biasanya
kan
kamu selalu mengoceh ?”, tangan Sean kembali memukul tangan Lily yang masih
berusaha mengambil keju batangan di potongan kue Sean.
Gadis itu memandang Sean dengan
sorot mata menuduh, “Rencananya aku mau bilang sewaktu jalan-jalan, tapi kamu
nggak mau diajak jalan-jalan, malas katamu. Malamnya waktu aku coba telepon,
ponselmu mati dan telepon rumah juga nggak bisa”
“Oh, waktu itu ponsel dan telepon
rumah memang aku matikan karena ada gangguan dari Inggris, lagipula kenapa kamu
nggak bilang kalau mau penelitian selama sebulan, aku pasti mau kamu ajak
jalan-jalan”, ujarnya sambil melahap keju batangan disertai tatapan memelas
Lily.
“Ya, mauku
kan
bilang waktu jalan-jalan, tapi kamu
menolak, aku jadi jengkel setengah mati sampai lupa bilang”, ujar gadis itu
sambil meneruskan makan kuenya.
“Kalau nggak bisa telepon, sms
kan
bisa ?”
“Ck, malas ah, aku cuma mau bilang
langsung”
“E-mail ?”
“Kapan kamu beritahu alamat e-mailmu
?’
“Oh iya”
“Eh Eh…Aku bawa oleh-oleh untukmu
lho”
“What
?”
“Lihat saja nanti”, ujarnya sambil
menunjuk tas ransel besar itu.
“Paling-paling barang aneh”
“Yee, ditanggung senang deh….Eh,
mana ponselmu ?”, tanya Lily sambil mengulurkan tangannya.
“Mau apa ?”, tanyanya sambil
menyerahkan ponselnya.
Gadis itu menerima ponsel Sean lalu
menekan-nekan tombolnya dengan antusias, “Aku masukkan nomor ponselku yang
baru”, ujarnya sibuk menatap layar ponsel Sean.
“Jangan diberi nama yang aneh-aneh”,
Sean memperingatkan sambil mendorong kepala Lily dengan ujung telunjuknya.
Lily melirik Sean dengan kesal
karena Sean selalu mendorong atau menjitak kepalanya.
“Sakit hei..“, Lily berseru seraya
memukul lengan Sean yang bagi Sean rasanya seperti dicolek saja.
Sementara Lily sibuk memencet-mencet tombol
ponsel, Sean kini duduk dengan gelisah disamping Lily, ia hendak mengatakan
sesuatu pada gadis itu, tetapi bingung harus mulai darimana.
“Ehm..Lily”, ujar Sean mulai
berbicara setelah terdiam beberapa saat, “aku mau membicarakan sesuatu”
Mendengar suara Sean yang serius,
gadis itu menghentikan aktivitasnya, lalu memandang Sean dengan penuh tanda
tanya. Lily sangat heran melihat mimik wajah Sean yang terlihat sangat
ragu-ragu dan bimbang.
“
Ada
apa ?”, tanya Lily kemudian.
“Mmm…listen,
actually I have a big trouble in
UK
”,
ujar Sean ragu tanpa memandang mata Lily. “Aku ingin minta bantuanmu”,
lanjutnya.
Lily hanya diam dan mendengar Sean
melanjutkan perkataannya.
“Begini”, Sean duduk dengan gelisah
di kursinya, seperti ingin kabur dari kursi itu. “Aku ingin kamu jadi pacarku”,
gumamnya pelan.
Mata Lily langsung terbelalak sampai
Lily merasa matanya itu bisa meloncat keluar. “Hah ? A..apa ?”, Lily tak
mempercayai pendengarannya.
“Aku ingin kamu jadi pacarku”, ulang
Sean lagi.
Lily membelalakkan matanya tak
percaya. Ini sungguh-sungguh tak terduga, Sean tiba-tiba saja memintanya untuk
menjadi kekasihnya ! Walaupun merasa aneh, tetap saja hati Lily berbunga-bunga
mendengar ucapan Sean.
“Sungguh ?”, tanya Lily dengan mata
berbinar antara senang dan heran. Lily ingin mendengar ucapan Sean sekali lagi.
Namun bukannya kata-kata mesra yang
keluar dari mulut Sean, dengan nada tinggi Sean berujar, “Hei, jangan Ge’er
dulu ……aku minta kamu jadi pacarku cuma untuk sementara, dan hanya pura-pura saja“
Lily terbengong, “Apa…?”
“Ya, pura-pura”
“Pura-pura ? Apa maksudmu ?”
Sean kembali salah tingkah, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal
karena gelisah. “Beberapa hari yang lalu ibuku di Inggris meneleponku dan
menyuruhku segera pulang karena aku akan dinikahkan dengan seorang gadis
pilihan orang tuaku, tentu aja aku nggak mau”, Sean berhenti sejenak untuk
melihat reaksi Lily, lalu melanjutkan ketika Lily tak bicara apa-apa. “Tapi
tadi malam nenekku meneleponku, katanya kalau aku nggak pulang dan turun
tangan, maka orang tuaku akan terus mengejarku dimana pun aku berada. Aku nggak
mau itu terjadi, sebab aku sudah punya rencana untuk membangun ranch sendiri, kamu tahu
kan
, peternakan.
Peternakan yang akan kubangun di pedesaaan di Inggris, yang akan kupenuhi
dengan kuda yang terbaik dan gagah”, ujar Sean memandang Lily.
“Hmm jadi kamu ingin menjadikan aku
pacar bohongan supaya orang tuamu nggak jadi menikahkanmu dan kamu pun bisa
meneruskan impianmu ?”, ujar Lily sambil menahan kemarahannya.
Sean semakin merasa tak enak hati,
“Ya…begitulah…Tapi kamu akan kubayar dengan sangat tinggi, aku…”
“Kamu ini !”, potong Lily dengan
berang, “kamu kira aku ini perempuan apa ? Enak aja mau dijadikan pacar
bohongan untuk menghadapi orang tuamu yang super seram itu, dibayar lagi, kamu
kira aku materialistis ?? Aku sama sekali nggak mau !! No way !!“
“Lily aku…”
“Huh, aku nggak bisa dimanfaatkan
!”, teriak Lily marah, lalu tanpa berkata apa-apa lagi ia berlari ke halaman
belakang, memanjat pohon mangga dan meninggalkan Sean yang merasa bersalah.
6
Lily merebahkan tubuh diatas tempat
tidurnya yang dilapisi bed cover berwarna ungu. Sambil menutup mata ia kembali
teringat percakapan siang tadi dengan Sean yang membuatnya bimbang.
Kini di kamarnya yang nyaman, Lily
berbaring dengan gelisah. Sambil menggerutu, Lily melemparkan bantalnya ke
jendela kamar.
“Enaknya gimana nih ?”, gumamnya
sambil mengacak rambutnya.
Lily merasa sangat marah kepada
Sean, sebenarnya ia juga ingin membantu Sean, tetapi cara Sean meminta tolong
membuat marah Lily. Apakah semua orang kaya selalu menyelesaikan masalah dengan
uang ?, pikir Lily dengan geram.
¯¯La la la la la… ¯¯. Ponsel Lily berbunyi.
Lily segera mengambil ponsel yang
diletakkannya diatas meja belajar.
“Sean”, gumam Lily melihat nama di
layar ponselnya. Setelah bimbang sejenak, akhirnya Lily memutuskan untuk
menjawabnya. “Halo !”, ujar Lily ketus.
“…….. .Kamu marah sekali ?”, terdengar suara Sean.
Lily hanya diam.
“I was wrong, I’m sorry”
“Sungguh ?”, akhirnya Lily menjawab.
“Ya…aku merasa sungguh bersalah, maafkan aku, kalau kamu memang nggak
mau, it’s okey, aku akan menghadapi orang tuaku sendiri…walaupun nggak tahu
caranya”, ujar Sean
dengan suara semakin pelan.
Lily menggoyang-goyangkan kakinya
yang berada diatas kasur dengan keras. “Ahhh..kamu ini, kalau kamu begini aku
nggak bisa menolak untuk membantumu”, seru Lily kesal.
Mendengar suara Sean yang memelas,
Lily tak tahan dan jadi sangat ingin membantu Sean dari cengkeraman orang
tuanya yang sepertinya sangat seram itu.
“Jadi kamu mau membantuku ?”, suara Sean berubah gembira.
“Tapi ada syaratnya !”, ujar Lily
setengah berteriak.
“Oh, apa pun itu akan aku penuhi”, jawab Sean senang.
“Semua biaya ditanggung, akomodasi,
transportasi….”
“Siap”
“….nanti disana, di tempatmu, aku
juga mau jalan-jalan dan kamu harus mau mengantarkan kemana pun akau mau”
“Ah, malas kalau jalan-jalan, aku…”
“Mau nggak ??”
“Oke..oke…”
©©©©©©
“Heehh ?? Ke Inggris ??”, seru ayah
dan ibu Lily berbarengan, tak percaya mendengar penuturan Lily disaat makan
malam bersama seluruh keluarga.
“Ehem, ke Ruddington”, ujar Lily
sambil memonyongkan bibirnya. Ia sudah menduga akan reaksi saudara-saudara
lelaki serta orang tuanya.
“Ruddington itu di Inggris ya ?”,
tanya Ogi yang sedang sibuk mengunyah dendeng kesukaannya.
“Bukan, di Afrika !”, ujar Arya
kesal melihat Ogi yang terkadang mengajukan pertanyaan tak bermutu.
“Terus kamu mau pergi sama siapa dan
kenapa ?”, tanya ibunya dengan penasaran.
“Sama Sean”
“APA ??”, kini giliran ketiga lelaki
bersaudara yang koor bersama sambil memelototi Lily.
Lily memilin rambutnya dengan
gelisah, “Lily cuma mau di ajak jalan-jalan kok”, ujarnya pelan.
“Jalan-jalan ? Kenapa dia harus
mengajakmu ?”, tanya ayahnya sambil menyesap kopi tubruk kesukaannya.
“Mmm..soalnya Lily yang minta ikut,
lagipula dia nggak punya teman dekat seperti Lily”, ujar Lily berusaha
meyakinkan.
“Oh, jadi karena kamu minta ikut,
terus dia mau ngajak kamu, membiayai semuanya ?”, tanya Arya curiga.
Lily menganggukkan kepala, “Iya”.
“Nggak mungkin, pasti ada udang di
balik batu”, tuduh Arya.
“Mmmm…ya…mm…”, Lily bergumam bingung
harus menjawab apa.
“Nah
kan
, benar ada sesuatu ?”, desak Arya.
Lily pun menyerah dan akhirnya
menceritakan yang sebenarnya. Lily menceritakan derita Sean dengan nada memelas
agar keluarganya mau membiarkannya pergi membantu Sean.
“Hua ha ha ha ha…”, Ogi tertawa
terbahak-bahak setelah selesai mendengar penuturan Lily. “Nggak sangka…lelaki
sombong itu bisa kebingungan, biar tahu rasa dia”, ujar Ogi penuh semangat
disertai pelototan Lily.
“Kenapa harus kamu yang pura-pura
jadi pacarnya ?”, tanya ibu Lily.
“Ibunya berulang kali menyuruhnya
pulang, tapi dia nggak mau dengan alasan punya teman wanita seorang gadis asli
Indonesia
.
Jadi siapa lagi kalau bukan Lily ?”, jawab Lily sambil memandang penuh
permohonan pada ayah dan ibunya.
“Apa jaminannya kalau dia nggak akan
mengganggu mbak ?”, tanya Ical yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
Lily menoleh ke arah adiknya dan
tersenyum manis, “Kami akan tinggal di rumah neneknya, jadi dia nggak akan
berani ganggu mbak, soalnya nenek dan kakeknya selalu ada di rumah”
“Huh, aku nggak akan percaya sama
dia”, ujar Ogi tak setuju sambil terus memasukkan potongan daging ayam ke dalam
mulutnya.
“Tenang aajaa.. lagipula dia nggak
suka Lily kok”, ujar Lily pelan. Ia merasa sedih ketika mengatakannya.
“Kok begitu ?”, tanya ibunya heran.
“Yaah…dia cuma anggap Lily teman
biasa”, ujar Lily sedih, “Naah, jadi dia nggak akan ganggu Lily deh”,
sambungnya.
Dan begitulah, selama makan malam,
Lily terus membujuk dan merayu seluruh keluarganya. Setelahnya, tenaga Lily
terasa terkuras habis.
©©©©©©
Setelah mendapat persetujuan dari
seluruh keluarga - walaupun belum 100 persen setuju-,
keesokan paginya Lily memutuskan untuk datang ke rumah Sean untuk memberitahu
kabar gembira itu. Walaupun Lily merasa sedih karena Sean hanya memintanya
berpura-pura menjadi kekasihnya, tetapi hati Lily juga merasa gembira karena
bisa ikut membantu Sean, ditambah lagi bisa pergi ke Inggris, gratis pula.
Dengan mengenakan baju kesukaannya,
baju rajut lengan pendek berwarna kuning cerah, rok jeans biru sebatas lutut
serta sandal berhak tinggi, Lily pun berangkat bersama sepeda motor
kesayangannya, serta tak lupa membawa Molly dan Bunny. Tak sampai 15 menit,
Lily pun sampai di rumah Sean.
“Hai”, sapa Lily dengan gembira
melihat Sean berjalan dari dalam rumah.
“Hai”, balas Sean sambil membukakan
pintu pagar dan mempersilahkan Lily masuk.
Berjalan di samping Sean, Lily
dengan tidak ditutup-tutupi memandang Sean dengan heran. Bukannya gembira
karena kedatangan Lily, justru wajah Sean terlihat muram. Benar-benar membuat
Lily heran.
“
Ada
masalah ya ?”, tanya Lily duduk di sofa
di ruang tengah rumah Sean sambil mengeluarkan Molly dan Bunny dari dalam
kandang.
Sean menatap televisi yang baru
dinyalakan Lily, tidak menatap Lily. “Ya”, jawabnya singkat.
Lily mengangkat alisnya, merasa
heran. “
Ada
apa
sih ? Cepat katakan. Kamu membuat perasaanku nggak enak“, ujarnya sambil
memukul lengan Sean.
Sean menggaruk-garuk kepalanya yang
ditumbuhi bulu lebat bernama rambut sambil bergumam tidak jelas.
“Ngomong yang jelas”, ujar Lily.
Sean menoleh dan memandang Lily
dengan tatapan tak enak, “Aku nggak jadi mengajak kamu ke Inggris”, ujarnya
pelan.
“Kenapa ??”
“Yah….aku nggak ingin merepotkanmu
dan…”
“Kamu sama sekali nggak
merepotkanku, aku ikhlas kok”, sela Lily.
“Aku tahu, tapi aku nggak bisa
mengajakmu pergi”
“Kenapa ?”
“Ya nggak bisa”
“Ya, kenapa ?”, desak Lily.
“Kamu ngotot sekali sih ?”, intonasi
Sean meninggi.
“Habisnya…aku sudah susah-susah
minta ijin sama seluruh anggota keluarga, eehh…nggak tahunya batal. Sebal
kan
?”, ujar Lily ikut
emosi.
“Salah sendiri, kenapa cepat-cepat
minta ijin”, ujar Sean sembarangan.
“Apa ??”, seru Lily tak percaya.
“Aku
kan
belum memastikannya, jadi seharusnya
kamu jangan bilang-bilang dulu”, tambah Sean sambil memandang Lily dengan
pandangan menuduh.
“Kamu ini…”, ujar Lily dengan nafas
terengah karena sangat marah.
Sean memandang Lily dengan tatapan
menantang. “Apa ?”
“HYAA…”, teriak Lily tiba-tiba
sambil seraya berdiri. Membuat kedua kelinci mungil Lily terkejut dan langsung
lari masuk ke kandangnya.
Sean juga terkejut dan ikut berdiri.
“Mister
Sean !”, seru Lily sambil menunjuk-nunjuk hidung Sean. “Kamu mau mencicipi
jurus kung fu monyetku ya ?”
“No,
thanks”, ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kamu harus merasakannya !!”, teriak
Lily penuh kemarahan sambil menyiapkan kuda-kuda jurus monyetnya.
“Lily…tenang Lily…aku..”
“HYAAT !!”, omongan Sean terpotong
oleh serangan tinju Lily.
Sean dengan gesit menghindar, yang
makin mengobarkan amarah Lily.
“Lily, tenang”, ujar Sean sambil
sibuk mengelak dari pukulan dan tendangan Lily.
Melihat serangannya tidak ada yang
kena, Lily pun berhenti, “Kamu gesit sekali ya”, ujarnya dengan nafas
terengah-engah.
Sean memandang Lily, “Please, aku
nggak mau kamu marah”, ujarnya seraya mendekati Lily. Ia lalu memegang tangan
Lily, bermaksud menenangkan gadis itu.
Baru sebentar Sean memegang
tangannya, amarah Lily kembali meledak. “Huh, aku amat sangat marah sekali !”,
teriak Lily sementara tangannya mencekal lengan Sean dan kakinya menjerat kaki
Sean.
BRUAKK !!
“Aduuuh…”
“Sakit ?”
“Minggiir ! Jangan menindihku !”
“Nah, sudah jera
kan
?”
“No way !”
“Oh ya ? Kalau begitu, aku banting
lagi ya”
“Waa…., ampuun…”
Sean memandang Lily dengan puas.
“Jangan diulangi ya”, ujarnya sambil menyentil hidung Lily yang tergeletak
dibawahnya.
“Curang, kamu ternyata juga bisa
kung fu”, ujar Lily sambil berusaha mendorong tubuh Sean.
“Kamu nggak pernah tanya”, Sean
tetap tidak mau membebaskan Lily.
Lily menggeliat-geliatkan tubuhnya,
“Ya deh..aku memang lupa tanya, tapi sekarang minggir, aku mau berdiri”
“Janji nggak marah lagi ?”
“Iya iya”, ujar Lily kesal.
Sean pun mengangkat tubuhnya dari
atas tubuh Lily yang mulai kesemutan, kemudian beranjak menuju dapur. Tak lama
kemudian Sean kembali ke ruang tengah, ia melihat Lily sedang sibuk
menekan-nekan tombol remote TV dengan kaki bersila diatas sofa, tangan memeluk
dua kelinci mungil dan bibir maju.
“Ini”, Sean menyodorkan puding rasa
strawberry dengan saus vla yang diatasnya diberi buah ceri oleh Sean.
Lily melirik Sean dengan sinis,
“Nggak mau”
“Lily…”
“Tambah buah strawberry baru mau”
Sean melotot. Lalu tanpa berkata
apa-apa ia kembali ke dapur dan mengambilkan buah strawberry.
“Ini my Lady”, ujar Sean sambil
mengangsurkan semangkuk besar puding rasa strawberry lengkap dengan buah
strawberry dan ceri yang diterima Lily dengan senang.
“Dengar ya”, ujar Lily sambil
memasukkan seonggok besar puding beserta buah ceri ke dalam mulutnya. “Aku
masih marah, kamu belum dimaafkan”
“Yes
my Lady”, jawab Sean penuh hormat.
“Huh, Sean jelek”, ujar Lily dengan
mulut penuh puding.
Sean tersenyum lebar karena amarah
Lily sudah mereda.
“Jangan senyum-senyum”, ujar Lily
ketus sambil menjitak kepala Sean, “nanti harus kirim oleh-oleh yang banyak !”
Sean mengusap-usap kepala yang
dipukul Lily dengan wajah kesakitan, “Ya..ya…, aduuh…sakit sekali tahu”, seru
Sean sambil menendang lengan Lily untuk membalas jitakan Lily, menyebabkan
tubuh Lily jatuh diatas sofa.
“Aaah…”, Lily berseru keras ketika
tubuhnya terjatuh diatas sofa sehingga puding beserta vla dan buahnya tumpah di
pipi Lily akibat tendangan Sean.
Bukannya membantu, Sean justru
menambah lagi, kali ini menempelkan telapak kakinya di pipi Lily yang tidak
terkena puding.
“Sean !! Kamu jorok sekali !!”,
jerit Lily kesal. Ia tidak bisa bangun karena telapak kaki Sean di menempel di
pipinya dan menekannya dengan keras.
Karena Lily menggeliat-geliat, Sean
mengangkat kakinya dan tertawa terbahak-bahak melihat wajah Lily yang cemberut
dan belepotan vla.
Lily memandang Sean dengan bibir
cemberut. Lalu secepat kilat ia mengambil bantal sofa dan mulai memukul-mukulkannya
ke tubuh dan kepala Sean.
“Ini balasannya”, ujarnya dengan
kesal. “Nih”
“A ha ha ha..ampuun…ampuun….”, seru
Sean dengan kedua tangan sibuk menahan serangan Lily.
“Ho ho ho..tiada ampun bagimu”, ujar
Lily penuh kemenangan. “Kamu membuat wajahku yang cantik jelita ini kotor”
“Lily..tolong hentikan…”, ujar Sean
mulai kesulitan setelah terus-terusan diserang Lily dengan ganas.
“Enak saja”, teriak Lily terus
memukulkan bantal kearah Sean.
Karena merasa terdesak, Sean segera
mengambil bantal dari tangan Lily begitu ada kesempatan dan langsung
melemparkannya jauh-jauh beserta bantal-bantal lain yang ada di sofa.
“Waa”, teriak Lily sambil berusaha
mempertahankan satu-satunya bantal yang tersisa.
Namun karena tenaga Sean lebih kuat,
maka ia pun kehilangan senjatanya. Sambil menggerutu, Lily mengangkat wajahnya
untuk menunjukkan wajah marahnya kepada Sean. Matanya langsung melebar ketika
melihat seringai di wajah Sean.
“Sean…mau apa kamu ?”, ujar Lily
ngeri.
Wajah Sean tersenyum licik.
“Berani-beraninya kamu memukulku”, ujarnya dengan suara diseram-seramkan sambil
mengarahkan tangannya ke arah Lily, seperti mau mencengkeram.
“Sean…sabar…sabar..”, ujar Lily
ngeri sambil berusaha menjauhkan diri.
“Hiyaa..!!!”, seru Sean tiba-tiba.
Kedua tangannya memegang wajah Lily.
“Hiiy…ampuun…ampuun…mister…”, pekik
Lily penuh kengerian sambil menutup matanya.
Ia terus menggeleng-gelengkan
kepalanya untuk melepaskan cengkeraman Sean, Lily mengira Sean akan
mencubit-cubit wajahnya sehingga ia berteriak-teriak ketakutan. Namun
tunggu-ditunggu, Lily tak merasakan sakit di wajahnya, justru ia merasakan
belaian lembut di wajahnya.
Perlahan ia membuka matanya dan yang
dilihatnya membuatnya heran, Sean sedang membersihkan pipinya yang belepotan
saus vla dengan lengan bajunya.
“Sean ?”, ujar Lily bingung.
Sean menjitak kepala Lily. “Dasar
jorok, lihat…wajahmu kotor sekali”, ejek Sean.
“
Kan
kamu yang bikin kotor”, tuduh Lily.
“Siapa suruh menjitak kepalaku”, ujar
Sean tak mau disalahkan sambil terus membersihkan pipi Lily.
“Kamu menyebalkan sih”, Lily membelalakkan
matanya.
“Aku memang begitu, kamu
kan
sudah tahu”, Sean
mengusap-usap pipi Lily dengan tangannya untuk memeriksa apakah sudah bersih
atau belum. “Ok, sudah bersih, lain kali hati hati”, ujar Sean melepaskan wajah
Lily dengan tiba-tiba. Membuat kepala Lily bergoyang-goyang.
“Hei !”
Sean hanya tersenyum tak bersalah.
©©©©©©
7
TOK TOK TOK
“Ly..Lily..”
TOK TOK TOK
“Ly….”
BRAK !
“Apa sih mas, mengganggu saja ih”
“Kamu jangan di kamar terus, sini
deh ikut mas Arya ke ruang tengah, ada yang mau mas bicarakan”, Arya
mencengkeram lengan Lily dan menyeretnya keluar dari kamar.
Lily berusaha melepaskan tangan
kakaknya yang mencengkeramnya dengan erat, “Nggak ah, malas”, ujarnya kesal.
Arya tak mau melepaskan
cengkeramannya dan terus menyeret Lily ke ruang tengah yang telah terisi oleh
seluruh anggota keluarga.
“Nah, duduk !“, perintah Arya sambil
menunjuk kursi sofa yang berada di tengah-tengah, sehingga Lily merasa dikepung
oleh orang tua dan saudara-saudara lelakinya.
Dengan kesal Lily pun menjatuhkan
diri di sofa empuk itu dengan bibir cemberut bukan main.
“Ly…”, ujar ibunya sabar, “kita
semua khawatir melihatmu yang sudah seminggu ini sama sekali nggak mau periksa
rumah om Agus, nggak mau bikin kue, nggak main sama Molly dan Bunny, nggak mau
di ajak jalan sama Elin, malas kuliah, malas pergi kursus masak, memangnya ada
apa ?”
Bibir Lily makin cemberut. “Nggak
ada apa-apa”, jawabnya ketus.
“Lily kamu jangan begini, semua
bingung karena kelakuanmu itu”, ayahnya mulai kesal melihat sikap Lily.
“Ya, tapi memang nggak ada apa-apa
kok”, ujar Lily membandel.
“Kamu ini ya..”, ayahnya mulai
marah.
“Pasti karena Sean
kan
?”, potong ibunya untuk menghindari kemarahan
ayahnya yang akan sangat menyeramkan.
Lily diam saja, tak berani menjawab
karena pasti akan dimarahi oleh seluruh anggota keluarganya. Dan memang benar,
sikap diam lily mulai menyulut emosi seluruh anggota keluarga.
“Tuh kaan…”, Ical memulai, “persis yang Ical kira, Sean
itu nggak bertanggung jawab”
“Iya”, tambah Ogi, “sudah sebulan dia
pulang ke kampung halamannya. Mana ?? Telepon, sms atau e-mail saja nggak, iya
kan
??”
“Betul”, timpal Arya, “katamu dia
janji mau kasih kabar
kan
…mana…??
dia bohong”
“Kok bisa begitu ya”, ujar ibunya.
“Itulah, papa nggak suka sama orang
bule, suka bohong”, ujar ayahnya menambah panas hati Lily.
Ogi mengangguk-angguk setuju. “Kamu
itu ya jangan…”
“WAAA”, Lily memotong ucapan Ogi
dengan berteriak keras dan menggoyang-goyangkan kepala ke kanan dan ke kiri
karena kesalnya. “Lily pusiiing…pusiiing…jangan ngomel semua doong…”, Lily
berbicara sambil terus menggoyang-goyangkan kepala dan berteriak keras, membuat
seluruh anggota keluarga terkejut.
Ibunya segera menghampiri Lily dan
menenangkan Lily. “Ssst…jangan marah-marah, kita bukannya marah sama kamu, kita
cuma mau kasih tahu kalau kamu jangan memikirkan Sean lagi, jangan sedih”, ujar
ibunya sambil mengusap-usap rambut Lily.
“Tapi…tapi Lily nggak sedih kok,
Lily memang lagi malas ke rumah om Agus, malas jalan-jalan, malas kuliah”, ujar
Lily mulai menitikkan air mata. Ia selalu tak sanggup menahan air mata didepan
keluarganya. Apalagi disaat Lily sedih seperti saat ini.
“Malasnya kenapa ?”, tanya Arya.
“Ya…malas…saja”
“Kenapa ?”, desak Arya.
“Ahhh…sudah deh, pokoknya malas,
titik”, Lily kembali berteriak disela tangisnya.
“Sst..sudah jangan nangis”, ujar
ibunya sambil memelototi Arya, “sebenarnya ketiga saudaramu ini punya rencana
buatmu”
Lily mengusap matanya yang penuh air
mata. “Apa ?”, tanyanya merajuk.
“Minggu depan mbak bolos kuliah lalu
kita pergi ke
Bali
!”, teriak Ical
bersemangat.
“Nggak mau ah, ngapain ke
Bali
?”, ujar Lily ketus.
Ia saat ini tidak ingin pergi
kemana-mana, hanya ingin di rumah saja. Tidur-tiduran, makan dan nonton film
drama kesukaannya.
Arya berdiri dan mendekati adik
kesayangannya yang sedang menangis tersedu-sedu dengan tatapan penuh
pengertian. “Ly…Mama, Papa, mas Arya, mas Ogi sama Ical cuma ingin kamu nggak
bersedih lagi. Nah, kebetulan mas Arya ada urusan di
Bali
,
jadi kita sekalian pergi berlibur…buat refreshing…”, ujar Arya seraya membelai
rambut Lily.
Lily memandang kakaknya dengan mata
penuh memelas. “Tapi…”
“Sst…sudah kamu jangan mikirin
apa-apa, pokoknya Senin kita berangkat ke
Bali
,
Ical sudah beli tiket pesawatnya”, ujar Arya sambil tersenyum menenangkan.
Ibunya memeluk Lily seraya berbisik,
“Nanti disana kamu bisa main, jalan-jalan dan belanja sepuasnya, Mama sudah menguras
kantong Papa”
Lily memandang ibunya sambil
mengusap air mata dengan punggung tangannya. “Sungguh ?”, tanyanya.
Ibunya mengangguk dengan mantap. “
Yap
”
Bibir Lily pun membentuk sebuah
senyuman.
©©©©©©
Hari Senin pun tiba. Lily beserta
Arya, Ogi dan Ical telah berada di sebuah hotel di Denpasar. Mereka semua
sedang beristirahat setelah perjalanan selama 2 jam dari
Malang
ke
Surabaya
penerbangan selama 15 menit ke Denpasar, ditambah 15 menit ke hotel. Maka untuk
merilekskan tubuhnya, Lily pun berendam air hangat disertai dengan soundtrack
drama sedih melalui tape kecilnya, yang menurut Lily sangat cocok dengan
suasana hatinya.
“Ahhh…enaknya..”, desah Lily begitu
tubuhnya terendam air hangat yang telah diberinya wewangian aromatherapi yang
menurut rubrik kecantikan di majalah yang Lily baca, bisa merilekskan tubuh
serta pikiran.
Sambil berendam pikiran Lily
melayang, ia tidak dapat melupakan Sean, Sean selalu berada dalam pikirannya.
Ia telah menunggu-nunggu kabar dari Sean, namun sebulan sejak kepergiannya,
Sean sama sekali tak pernah menghubunginya, melalui sms sekalipun tak pernah.
Lily merasa amat sangat menyukai
Sean dan berharap Sean pun menyukainya, namun bukannya mendapat perlakuan
menyenangkan dari Sean, ia justru selalu membuat kesal Lily.
Ia sangat tak mengerti, mengapa Sean
selalu saja membuatnya kesal setengah mati. Ia juga bingung atas sikap Sean.
Tak bisa ditebak, terkadang dewasa dan di lain waktu kekanakkan, terkadang
galak dan di lain waktu bisa menjadi jahil dan lucu., terkadang sinis namun ia
juga bisa menjadi sangat lembut dan bahkan mesra. Lily sangat bingung, seperti
apa Sean sebenarnya.
Sepanjang hidupnya yang sudah
berumur 22 tahun, Lily belum pernah bertemu dengan lelaki yang membingungkan,
menggemaskan dan menyebalkan seperti Sean William Atkins dari Inggris ini. Lily
memang pernah beberapa kali dekat dengan seorang lelaki, namun baru kali ini
dia merasa bingung seperti saat ini.
Bila tak bertemu dengan Sean hatinya
selalu merasa bimbang dan rindu, tetapi bila bertemu Sean hatinya bisa berubah
kesal setengah mati -karena sikap Sean- sampai
ia ingin pergi, namun begitu tidak bertemu Sean lagi, ia akan merindukannya
lagi.
Sejak pertama kali melihat Sean,
Lily memang sudah jatuh hati. Sampai-sampai berjuang dengan gigih agar dapat
berteman dengan Sean. Ia juga belum pernah melawan saudara-saudara lelakinya
apabila mereka merecoki hubungannya dengan seorang lelaki, ia mendiamkan
keusilan ketiga saudaranya karena ia memang setuju dengan pendapat
saudara-saudaranya itu, bahwa si ini jelek, si itu play boy.
Tapi dengan Sean lain, ia merasa
sangat marah kepada ketiga saudara lelakinya, ia benar-benar tak habis pikir
mengapa bisa begitu. Pasti karena sangat menyukai Sean, batin Lily yakin.
TOK TOK TOK. Pintu kamar mandi
diketuk.
“Ly, ayo cepat kita mau
jalan-jalan”, terdengar suara Ogi di luar.
“Iya”, sahut Lily sambil mematikan
tape kecilnya dan mengambil handuk putih yang lembut yang diletakkan di atas
meja dekat bathtub.
Tak lama kemudian Lily dan ketiga
saudara lelakinya telah berada di jalanan Denpasar, sibuk membeli baju,
aksesoris dan juga sibuk merekam dengan handycam-nya. Setelah seharian
berputar-putar, baru selepas maghrib mereka tiba di hotel dengan tubuh lelah
dan tas belanja yang banyak, terutama adalah tas belanja milik Lily.
Kemudian malam malam harinya, karena
ketiga saudaranya sudah terbang ke alam mimpi, maka Lily memutuskan untuk makan
malam sendiri di rumah makan dekat hotel yang sepertinya makanannya enak karena
banyak pengunjungnya.
Dengan langkah pasti Lily memasuki
rumah makan yang telah dipenuhi orang itu. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri
untuk mencaritahu apakah ada bangku kosong yang bisa didudukinya. Setelah
dicari-cari ternyata ada sebuah meja kosong dengan empat kursi yang masih
kosong, dan Lily pun segera menuju kesana sebelum didahului orang lain.
Sambil tersenyum puas Lily pun menarik
sebuah bangku.
“Excusme…”,
dari belakang Lily terdengar suara seorang wanita dengan logat Inggris yang
sangat merdu.
Lily menoleh kebelakang untuk
melihat siapa gerangan yang memiliki suara sangat merdu itu dan Lily pun
terkagum-kagum melihat seorang wanita bule
yang menyapanya. Wanita yang amat cantik dengan rambut pirang dan mata biru
yang menawan, tubuhnya tinggi semampai serta langsing dan gayanya sangat anggun
serta menawan.
“
Ada
apa ?”, tanya Lily setelah pulih dari
kekagumannya.
“Apakah kursi itu kosong ?”, tanya
wanita itu sambil menunjuk kursi di seberang Lily yang kosong.
“Ya”
“Can
we sit here ?”, tanya wanita itu lagi seraya menunjuk dirinya serta
seseorang yang berdiri dibelakangnya.
“Oh ya ten…”, ucapan Lily terhenti
begitu melihat orang yang ditunjuk wanita itu. Orang itu sedang memandang Lily
dengan tatapan tak enak. “..Sean..?”, ujar Lily tak percaya.
Sean tak memandang Lily dan
memalingkan wajahnya.
Wanita cantik itu memandangi mereka
bergantian. “Oh, kalian saling kenal ya”, serunya gembira, “kalau begitu mari
kita duduk bersama”, tambahnya seraya menarik tangan Sean ke arah kursi kosong
di depan Lily.
“Kalian kenal dimana ?”, tanya
wanita itu begitu duduk di kursi di sebelah Sean.
Perlahan-lahan Lily juga ikut duduk
sambil terus menatap Sean. “Kami kenal waktu Sean tinggal di kotaku”, jawab
Lily berusaha terdengar ceria. Ia tak mau menunjukkan kekesalannya pada Sean.
“Oh !”, seru wanita itu sambil
menutup mulutnya dengan tangannya, “mungkinkah kamu yang bernama Lily itu ?”,
tanyanya pada Lily.
Lily memandang wanita itu dan Sean
bergantian, “ya, kok tahu..?”
“Wow, kalau begitu perkenalkan, aku
Joceline Cabbold, tunangan Sean”, ujar gadis itu sambil memandang mesra Sean
yang wajahnya semakin keruh. “Sean sering bercerita tentang temannya di
Indonesia
yang bernama Lily, ternyata itu kamu ya”, lanjut wanita itu sambil bergelayut
manja pada lengan Sean.
Wajah Lily memucat. “Ka..kalian
sudah bertunangan ?”, tanya Lily tak bisa menutupi keterkejutannya.
“Belum, tetapi kami segera
bertunangan, masa kamu tak diberitahu oleh Sean ? Dia pulang ke Inggris karena
masalah ini”, jawab wanita itu bersemangat. “Ya
kan
Sean sayang ?”, tanya pada Sean dengan manja.
Sean hanya diam saja sambil membaca
menu.
Joceline melengos melihat sikap
dingin Sean. “Dia memang sering begini”, bisiknya pada Lily sambil mengedipkan
mata yang ditanggapi Lily dengan senyum kecut.
Tak lama kemudian, makanan yang di pesan
pun tiba dan mereka makan bersama-sama. Lily berusaha bersikap riang dan
melontarkan kalimat-kalimat lucu, sementara Sean hanya diam menikmati
makanannya dengan sekali-kali melirik Lily dari sudut matanya.
“Sean kenapa kamu diam ?”, akhirnya
Lily memberanikan diri untuk mencairkan suasana tegang yang menyelubungi Sean.
Sean mengangkat kepalanya lalu
menatap Lily dengan wajah tanpa ekspresi “Aku malas bicara”, jawabnya juga
dengan suara yang tanpa ekspresi.
“Ahh kamu ini, jangan suka malas
nanti seperti monyet lho”, ujar Lily sambil membuat gerakan seperti monyet dan
terkikik berusaha membuat Sean menoleh padanya.
“Hei”, Sean terpancing lalu secepat
kilat menjitak kepala Lily, “sudah kubilang jangan bilang-bilang monyet”
Lily hanya cengar-cengir. “Yes sir”,
ucapnya dengan ceria.
Lily dan Sean tidak tahu bahwa
Joceline memperhatikan mereka dengan tatapan curiga dan penuh kecemburuan.
©©©©©©
“Sean jeleeek…”, teriak Lily
sekencang-kencangnya seraya merebahkan dirinya di tempat tidur hotel yang besar
dan empuk. Lily menutup wajahnya dengan bantal dan mulai menangis.
“Hu..hu..hu…kenapa Sean begitu ?”, tangis Lily terisak-isak.
Tadi ia berusaha sekuat tenaga untuk
menahan kemarahan dan kesedihannya, namun begitu sampai di hotel kemarahannya
sudah tak bisa dibendung lagi.
Mengapa, batin Lily berteriak,
mengapa Sean berbuat demikian ? Padahal Sean sudah berjanji untuk menghubungi
Lily. Memang sih, Sean tidak berjanji
akan menjadikannya kekasih atau apa, tetapi Sean berjanji akan mengabarinya.
Bukannya mengabarinya, Sean justru datang membawa seorang wanita yang sangat
cantik yang mengaku tunangannya.
Mengapa Sean berbuat seperti itu,
padahal Sean sudah tahu bahwa Lily begitu menyukainya ? Kenapa dia menyakitiku
seperti ini, pikir Lily sedih.
¯¯¯La la la la la ¯¯. Tiba-tiba ponsel Lily yang
tergeletak di meja dekat tempat tidur berbunyi.
“Halo !”, jawab Lily sambil berteriak
tanpa melihat siapa gerangan yang menelepon.
“Aduuh…nggak usah teriak-teriak juga terdengar kok”, ujar suara di seberang telepon.
“…Sean ?”
“Lily aku…”
“Kenapa telepon aku !?”, potong Lily
emosi, “nggak usah telepon-telepon aku lagi !”
“Lily…tenang aku…”
“Huh, aku nggak mau dengar
penjelasanmu, jelasin aja ke tunanganmu itu !“, teriak Lily.
“Lily !”,
suara Sean mulai meninggi.
“Jangan teriak-teriak, telingaku
jadi sakit tahu !”
“Kamu juga jangan teriak-teriak, telingaku juga sakit !”, seru Sean mulai emosi.
“Ya sudah, tutup saja kalau begitu
!”, teriak Lily lebih keras lagi.
“Oke, aku tutup !”, Sean ikut berteriak.
“Ya tutup saja !”
“Oke !!”
KLIK. Telepon pun ditutup.