Female Brain

October 18th, 2007 by ditadesiana2004

Ketika tanggal kelahiran sudah
semakin dekat, otak ibu nyaris hanya dipenuhi oleh pikiran tentang bayinya dan
tentang bagaimana dia akan berhasil melalui semua rasa sakit serta usaha fisik
untuk mendorong keluar sang bayi dengan selamat dan sehat tanpa membunuh
dirinya sendiri.

Ketika hari H tiba ketuban Ibu
pecah dan cairan amniotic mengalir
menuruni kedua tungkainya. Selama
beberapa menit sang ibu tergolek lemah bagaikan seekor paus yang terdampar di
pantai yang hanya bisa meliuk-liuk tanpa daya.

 Kini sang bayi sudah dalam posisi kepala
mengarah ke bawah dan sudah siap keluar. Otak sang ibu Di-nyalakan tepat pada saat melahirkan oleh deraan oksitosin. Pada saat janin yang sudah
berkembang sempurna itu siap dilahirkan, level
progesterone
seorang perempuaqn hamil mendadak susut, dan denyut oksitosin membanjiri otak dan tubuhnya,
membuat rahimnya mulai berkontraksi.

Ketika
kepala sang bayi bergerak sepanjang jalan lahir, semakin banyak ledakan oksitosin membakar dalam otak,
mengaktifkan reseptor-reseptor baru
dan menciptakan ratusan koneksi baru di antara sel-sel saraf. Hasilnya saat sang
bayi lahir, adalah perasaan eforia
yang dibangkitkan oleh oksitosin dan dopamin, juga indra pendengaran, peraba,
dan penglihatan yang jauh lebih tajam. Beberapa menit sebelumnya, sang ibu tergolek seperti seekor paus yang
kikuk terdampar di pantai, dan di menit berikutnya, tiba-tiba dengan kekuatan yang
maha dahsyat dan sulit untuk dipercaya, panggul sang ibu sanggup melakukan
dorongan yang mungkin sepadan dengan mengeluarkan buah semangka dari lubang
hidung !

diangkat dari FEMALE BRAIN  Mengungkap Misteri Otak Perempuan, karangan Lovann Brizendine, M.D. Terjemahan Sarlito Wirawan Sarwono. (Guru Besar Psikologi, Unversitas Indonesia)

The Greatest Love of Lilly Part Two

August 11th, 2007 by ditadesiana2004

 

Dalam perjalanan pulang, ketiga
bersaudara itu sudah mulai merasakan datangnya badai amukan dari Lily yang akan
segera tiba.

“Gawat deh”, gumam Ical sambil
memandang kedua kakaknya dengan pandangan memelas.

 
—————

 
4

 

“Hu…hu….hu…hu….hik…”, Lily menangis
sesenggukan dengan tangan kanan memegang gagang telepon dan tangan kiri
memukul-mukul bantal. Matanya yang besar mencucurkan banyak air mata kesedihan.

Diseberang telepon, Elin dengan
sabar mendengar keluh kesah sahabatnya, “Tenang
non, tenang…Mungkin nggak seburuk dugaanmu”
, ucap Elin menenangkan.

“Nggak buruk gimana ?”, ujar Lily
ditengah tangisnya, “ketiga lelaki nakal itu bahkan menyebutnya monyet ! monyet
lho…”

“Monyet ? yah, nggak salah juga, kita

kan

memang saudara monyet ?”

“Elin !”, seru Lily kesal mendengar
ucapan Elin.

“Ya..ya..sori, terus gimana sikap Sean ?”, tanyanya serius.

“Sudah seminggu ini Sean sama sekali
nggak bisa ditemui, kalaupun aku lihat dia ada, dia sama sekali nggak mau
menyahut seperti biasanya”, jawab Lily sambil mengambil tisue untuk mengelap
hidungnya.

“Sudah coba masuk ke halaman belakangnya ?”

“Nggak berani, aku cuma berani
memanggilnya dari atas pohon…hu huu..”, tangis Lily bertambah keras.

“Kenapa nggak berani ?”

“Dia sepertinya marah sekali, waktu
aku coba-coba masuk halaman, dia langsung mengeluarkan seekor anjing yang buesar
sekali….Bayangin, dia sampai pakai anjing buat mengusir aku !”, teriak Lily
penuh emosi.

“Lho…anjing darimana dia ?”

“Nggak tau !”

“Terus ketiga lelaki usil di rumahmu gimana ?”

“Huuhh…”, Lily berteriak sambil
memeluk Molly dan Bunny, kedua kelinci mungilnya. “Mereka sudah dapat hukuman,
disuruh mama bersih-bersih rumah selama sebulan penuh, disuruh papa antar susu
sapi ke pelanggan tiap hari Senin dan Kamis, aku juga nggak mau buat kue lagi
!”

“Senin dan Kamis ? Seperti puasa ya…Baguslah, peternakan sapi perah
ayahmu bisa terbantu

kan

,
terus mereka sudah minta maaf ?”

“Sudah, tapi belum aku maafin,
mereka benar-benar keterlaluan, mas Arya kan sudah umur 26, tapi kelakuannya
masih aja seperti itu, mas Ogi juga, kalau Ical sih aku masih bisa maklum”,
Lily berkata sambil terus menangis sesenggukan. Sementara dibelakangnya, ketiga
lelaki usil itu menguping pembicaraannya, dan yang termuda merasa lega karena
Lily tidak begitu marah dengannya.

“Langkah selanjutnya apa ?“

“Nggak tahuuu..hu..hu….aku harus
gimana Liin ?”

Elin mendesah, “Kalau menurutku sih, coba aja ke rumahnya lagi, bawa kue buatanmu yang
paling enak, siapa tahu dia sudah mau terima kamu”
, usulnya.

“Kalau nggak mau gimanaa…?”

“Coba terus, kamu ini biasanya

kan

nggak gampang menyerah ?”, ujar Elin terus menyemangati.

“Sungguh ? Aku orangnya nggak
gampang menyerah ?”, tanya Lily tak yakin.

“Ohoo…tentuu…ingat insiden motor ?”

“Ya…”, ujar Lily sambil
mengingat-ingat kejadian sewaktu ia sangat ingin mengendarai motor sendiri dan
tidak diperbolehkan oleh saudara-saudara lelakinya.

Tapi semakin tidak boleh, semakin
giatlah Lily untuk belajar. Dan sebagai jalan keluar ia pun menyewa sepeda
motor dari temannya, dan selama seminggu penuh ia belajar ditemani Elin yang
memang sudah bisa mengendarai motor. Lalu diakhir minggu tubuh Lily babak belur
akibat berendam di sawah, berenang di sungai, memeluk pohon, mencium aspal dan
berguling di tong sampah.

Selain menghadapi omelan orang
tuanya serta saudara-saudara, Lily juga harus merogoh kantong untuk membayar
kerusakan pada motor yang disewanya itu. Namun karena kegigihannya itulah,
sekarang ia bisa membawa motor sendiri.

“Teruus…ingat timpukan untuk Tommy ?”

“Yaa..”, Lily kembali teringat
sewaktu ia masih duduk dibangku SMA.

Waktu itu ia jatuh cinta pada
seorang lelaki bernama Tommy yang sangat populer di sekolahnya karena ia sangat
tampan dan jago bermain basket. Untuk mendapat perhatian dari Tommy, Lily pun
mengeluarkan jurus-jurus andalan wanita untuk menaklukkan lelaki, apalagi kalau
bukan kue.

Sebulan penuh ia belajar memasak
dengan ibunya dan bahkan ikut kursus. Sambil terus belajar memasak, Lily juga
terus mendekati Tommy, bahkan dengan cara ikut bergabung ke grup cheerleader
agar ia bisa berada lebih dekat dengan Tommy. Kue pun mengalir ke perut Tommy.

Suatu ketika Lily berjalan menuju
ruang olahraga untuk memberikan tart blackforest pada Tommy yang sedang
berlatih basket. Tapi Lily justru mendapati Tommy sedang bermesraan dengan
seorang gadis saingan Lily yang sangat menyebalkan, dan tart itu pun berakhir
di kepala Tommy dan gadis saingan Lily.

Karena merasa bersalah, dan karena
Tommy merasa mulai menyukai Lily, maka berganti Tommy-lah yang mengejar Lily.
Tolak ditolak, Tommy tetap gigih, akhirnya sebagai senjata pamungkas, Lily
membuat puding coklat super besar. Dan waktu pertandingan olahraga, disaat
Tommy mendekatinya, kue itu pun ia timpukkan ke kepala Tommy di depan orang
banyak sehingga membuat Tommy marah bukan kepalang dan menendang-nendang bangku
kayu sampai rusak berat.

“Yaah…aku agak keterlaluan waktu
itu”, ujar Lily sambil menghela napas.

Eh,
nggak..justru bagus sekali, ketahuan deh sifat Tommy yang kalau marah suka merusak
barang dan suka ngomong jorok”
, bantah Elin. “Naah..jadi sekarang kamu nggak boleh menyerah begitu aja”,
sambungnya.

“Tapi Sean

kan

lain…dia orang bule..”

“Apa bedanya orang non bule sama orang bule ? Sudah, kamu coba lagi,
telepon aku kalau sudah berhasil”
, ujar Elin lalu menutup teleponnya, meninggalkan Lily yang
masih menangis sesenggukan sambil memeluk kedua kelinci mungilnya.

 

©©©©©©

 

Setelah berjam-jam berusaha
memantapkan diri, keesokan harinya Lily pergi ke rumah om Agus dalam misi
menaklukkan Sean. Kali ini pasti berhasil, pikir Lily optimis, dan untuk
mencapai keberhasilan itu, ia telah membawa megaphone pinjaman dari temannya
yang seorang pelatih senam pagi. Lily yakin Sean akan keluar dan menemuinya.

“Test..test..”,
Lily mencoba megaphone berwarna coklat itu sebelum melakukan aksinya. Ia telah
berada di atas pohon dan siap untuk memancing Sean keluar dari rumah tanpa ada
resiko digigit anjing.

“Halo…halo…ada orang di rumah ?”, Lily memulai aksinya. “Disini
Lily Ayu Sudibyo…, halo…Spadaa…”.
Lily menunggu sahutan dari dalam namun
suasana tetap sepi. “Sean darliing…, jadi
orang jangan pemarah, begitu aja marah, payah deh, sampai pakai anjing segala.
Hati-hati nanti digigit kena rabies lho ! Kalau aku sih nggak bakalan bisa
digigit anjing itu, hmm…pohon ini memang sangat membantu”
, Lily berbicara
panjang lebar berusaha menarik perhatian Sean.

“Wahhh.. banyak sekali buah mangganya, bisa dijual nih, lumayan

kan

…Sean, kalau kamu
nggak keluar, mangganya aku ambil dan aku jual biar kamu rugi”
, seru Lily ambil mengambil sebuah
mangga. “Ehh..?? Hiiy, kenapa ada ulat
bulu disini, wah, ranting-ranting”
, suasana menjadi hening sejenak
sementara Lily sibuk mencari ranting untuk mengusir ulat bulu, “fiuuh akhirnya…biar ulat bulu itu berenang
di kolammu ya Sean,

kan

kamu nggak pernah berenang”, ujar Lily sambil terkikik.

“Sean keluar doong…, ini lho aku bawa kue tart keju buatmu,
hmm…ditanggung enak deeh…”
, ujar Lily sambil mengeluarkan kardus berisi kue tart keju buatannya.
Namun suasana tetap hening, Sean tidak muncul sama sekali.

Lily merasa kesal dan sudah mulai
putus asa, tapi ia masih memiliki satu strategi lagi untuk memancing Sean
keluar. “Ehem…test..test…pendengar
sekalian, kali ini saya akan menyanyikan lagu yang mengisahkan seorang gadis
yang tersiksa karena perlakuan kaum lelaki yang seenaknya sendiri”
, hening
sejenak, “OoOooOooh…”, Lily memulai
nyanyiannya dengan koor panjang. “Wanita
dijajah pria sejak dulu kalaa…dijadikan perhiasan sangkar madu….namun adakala
pria…”

BRUAK !!, nyanyian Lily terpotong
karena dari dalam rumah muncul seorang lelaki dengan muka cemberut dan langsung
mengomel.

“Hei”, seru Sean sebal sambil
berkacak pinggang, “hentikan nyanyianmu itu, suaramu membuat telingaku sakit !”

Melihat Sean keluar, hati Lily
langsung berbunga-bunga, tapi ia tidak menghentikan nyanyiannya dan tetap
menyanyi dengan suara sumbangnya, “Ooh..wanita
dijajah pria…”

“Lily …”, ujar Sean dengan nada
penuh ancaman.

“Sejak dulu kalaa….”, Lily tak mempedulikan ancaman Sean.

“Lily…”, ulang Sean.

“Dijajah priaa…”, Lily terus bernyanyi sambil menunjuk-nunjuk kearah bawah.

“Iya, baiklah, kamu boleh turun”,
seru Sean kesal.

“Dijadikan perhiasan….”, lanjut Lily dan kali ini ia menunjuk kue tart yang
dibawanya.

“Iya, aku mau makan kue itu”, seru
Sean semakin kesal.

“Sangkar madu…”, Lily masih meneruskan lagunya sambil menunjuk-nunjuk dirinya.

“Iya, aku mau berbincang dan makan
kue denganmu”, akhirnya Sean berteriak sambil menutup telinganya karena sudah tak tahan mendengar suara Lily.

Lily pun berhenti bernyanyi dan
tersenyum penuh kemenangan, lalu ia meletakkan tali megaphone di bahu kiri dan
dengan perlahan turun dari pohon.

“Hei, bantu dong”, teriaknya pada
Sean.

“Turun sendiri”, ujar Sean dari
tempatnya berdiri.

“Huh, dasar pelit”, gerutu Lily
sambil turun dari pohon dengan perlahan karena selain ia takut kue tartnya
jatuh, ia juga takut celananya terlihat sebab ia menggunakan rok selutut
seperti biasanya.

Sesampainya dibawah Lily segera
berlari menghampiri Sean yang disambut Sean dengan amarah, “Kenapa kamu kesini
?”, bentak Sean, “I don’t want to see you !”

Lily yang berdiri di depan Sean
sempat terbengong-bengong melihat sikap kasar Sean, tapi sebagai gadis yang tak
mudah putus asa, ia pun membalas bentakan Sean dengan suara semanis madu walaupun
hatinya dongkol bukan main.

“Aduuuh..jangan begitu dong, kalau
marah terus nanti mukanya seperti monyet, monkey…lho…”, ujar Lily sambil
berjalan masuk ke rumah.

“Don’t call me monkey !”, seru Sean,
namun Lily berlagak tidak mendengar dan terus berjalan. Sean memandangi Lily
dengan pandangan kesal, “Hei, kenapa kamu masuk ke rumah ? Pulang

sana

! Dasar wanita nggak
tahu diri !”, usirnya.

Langkah Lily terhenti, hatinya
terasa sakit mendengar kata-kata Sean, menurutnya kata-kata Sean keterlaluan
dan ia tak pernah diperlakukan kasar seperti ini oleh orang lain. Lily menoleh
dan berusaha tetap terlihat gembira.

“Sudahlah Sean, jangan marah
terus..mau makan kue nggak ?”, ujar Lily dengan bibir mengkerut maju.

“Terus bagaimana dengan ulat bulu
yang kamu lempar ke dalam kolam renang, sudah kamu selamatkan ?”, tanya Sean
masih dengan emosi membara. Sean sendiri tidak tahu mengapa ia begitu marah
pada Lily.

“Ulat bulu yang mana ? Sudah, kita
ke dalam”, jawab Lily santai.

Sean menoleh kearah kolam renang dan
tidak melihat apa-apa disana, semuanya bersih, ia menjadi salah tingkah karena
mengomel terus. Akhirnya Sean menerima ajakan Lily dan mengikutinya masuk ke
dalam rumah.

Lily langsung menuju dapur
sesampainya di dalam rumah, mengambil pisau, mengeluarkan kue dari dalam kardus
dan memotongnya menjadi delapan bagian, kemudian meletakkan di piring kecil dan
mengangsurkan kepada Sean yang terus memperhatikannya disudut dapur dengan
pandangan sebal.

“Kita makan sambil nonton TV yuk”,
ujar Lily sambil ngeloyor pergi ke
ruang tengah meninggalkan Sean yang bertambah dongkol.

Lily menoleh kearah Sean, “Sini”,
panggil Lily sambil melambaikan tangannya.

Sean pun duduk di sebelah Lily lalu
mulai makan kue tartnya. Membuat Lily menjadi girang.

“Omong-omong, mana anjing besar itu
?”, tanya Lily sambil melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

“Aku kembalikan”, jawab Sean ketus.

“Pinjam ? Dari teman ?”

“Memangnya dari monyet !?”

“Kamu masih marah sama aku ?”, tanya
Lily mendengar jawaban Sean yang singkat-singkat dan ketus semua.

Sean melirik Lily, “Ya”, jawabnya
tetap ketus sambil mendorong lengan Lily dengan kesal.

Tubuh Lily sedikit terhuyung,
“Heii…Aku minta maaf atas kelakuan ketiga lelaki itu, aku bahkan nggak tahu
apa-apa mengenai hal itu”, jelas Lily sambil balas memukul Sean.

Oh,
Really
?”, tanya Sean curiga.

Lily memandang Sean dengan pandangan
tak percaya, “Masa kamu anggap aku yang menyuruh mereka untuk melabrakmu ?”

I
believe you can do that
”, ujar Sean sambil mengernyitkan wajahnya karena
merasa menggigit sesuatu yang aneh.

“Hei, hei, jangan asal menuduh ya”,
ujar Lily sambil memasukkan potongan terakhir kue tart kedalam mulutnya.

“Aku nggak sembarang menuduh,
buktinya barusan kamu bisa teriak-teriak di luar tanpa merasa malu, iya

kan

?”, ujar Sean sambil
mengeluarkan benda asing dari mulutnya, “Hei apa ini !?”, serunya sambil
menunjukkan benda berukuran 3 cm dan berwarna coklat itu pada Lily.

Lily memandangi benda itu, lalu
dengan tenang ia menjawab, “Ooh, itu

kan

cuma batang kuas kue yang tadi aku cari-cari,
itu made in Lily lho..”

Sean mendorong kepala Lily dengan
jari telunjuknya, “Kamu ini, dasar sembrono, kalau termakan bagaimana ?”

“Ahh…tapi nggak termakan

kan

? Tenang saja…sisa
kuenya pasti sudah nggak ada lagi benda berbahaya”, elak Lily.

“Oh, begitu ya ?”, ujar Sean sambil
berdiri.

Dari ujung matanya, Lily melihat
Sean berdiri dan berjalan menuju dapur, tak lama kemudian Sean kembali sambil
membawa sisa kue tart yang masih banyak serta sebuah sendok sayur yang besar.

“Sini kamu”, ujar Sean begitu duduk
di sebelah Lily.

Lily menoleh dan melihat Sean sedang
menyendok kue dengan sendok sayur, “Sedang apa Sean ?”, tanya Lily bingung.

Sean tersenyum licik, “Tadi katamu nggak
akan ada lagi benda berbahaya di sisa kue ini, jadi kamu harus menghabiskan
untuk membuktikan itu”, ujar Sean sambil menyorongkan seonggok besar kue ke
mulut Lily.

“Apa ??”, seru Lily kaget. Ia tak
akan sanggup menghabiskan kue sebanyak itu. “Nggak mau…”:

Sean tidak peduli dan terus
menyodorkan kue itu didepan wajah Lily, “buka mulutmu”, ujarnya sambil nyengir licik.

Lily bergeser mundur sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya “No way maan..”

Namun Sean terus menyodorkan kue itu
sehingga Lily terpaksa berdiri dan lari ke meja makan sambil berteriak-teriak
minta ampun.

“Ampuun..”, teriak Lily sambil
tertawa-tawa.

Melihat Lily lari, Sean pun
mengejarnya dengan tangan kanan memegang sendok sayur penuh kue dan tangan kiri
memegang sisa kue yang masih banyak sangat banyak.

“Tidak ada ampun bagimu”, seru Sean
sambil tertawa jahat. Lily berputar-putar di sekeliling meja makan dan terus
diikuti Sean yang tak mau mengampuninya.

Beberapa saat kemudian -setelah
berlari kesana kemari
- Lily pun merasa letih, ia sudah tak sanggup berlari lagi sehingga ia
memilih bersembunyi dibalik lemari untuk menghindari Sean yang sedang
kesetanan.

Sementara itu Sean yang tiba-tiba
kehilangan Lily, memanggil-manggilnya dengan suara penuh ancaman. “Lily….where are you…”.

Sean mencari Lily sambil terus
memanggilnya dengan suara seram. Tiba-tiba Sean melihat ujung rok Lily dari
balik lemari, ia pun berjingkat-jingkat perlahan sambil terus membawa kue.

“Baa !!”, seru Sean dengan suara
keras sehingga membuat Lily terlonjak kaget bukan kepalang dan tak sengaja
tangannya menyenggol kue yang dipegang sehingga jatuh berantakan di lantai.

BRAAK.

“Ya ampun Sean…, kamu bisa membuatku
terkena stroke di usia muda”, ujar Lily sambil mengelus dadanya.

Sean tidak menjawab, tetapi ia
menunjuk ke bawah, ke arah kue yang berantakan, “Lihat ulahmu itu”, ujarnya
dengan wajah menuduh dan tak lupa menjitak kepala Lily.

“Enak saja, salah sendiri kamu
mengejar-ngejarku dengan membawa-bawa kue segala”, seru Lily sambil memelototi
Sean.

“Nah, kalau sudah begini, enaknya
diapakan ?”, tanya Sean.

“Ya dibersihkan, memangnya mau
dimakan lagi ?”, jawab Lily kesal.

“Kamu ?”, ujar Sean sambil menunjuk
Lily lalu menunjuk kue itu.

Lily menggelengkan kepalanya, “Berdua
lah yaw…”

 

©©©©©©

 

Sambil berkonsentrasi mengendarai
motornya, Lily tersenyum mengingat kejadian di rumah Sean tadi. Akhirnya ia dan
Sean membersihkan kue itu bersama-sama, ia mengangkat puing-puing kue dari
lantai, sementara Sean yang bertugas mengepel lantainya. Sungguh-sungguh
kejadian yang langka bisa melihat lelaki seperti Sean mau mengepel lantai. Dan
akibat insiden itu, mereka berdua menjadi benar-benar berbaikan. Lily merasa
sangat gembira sekali.

Tapi tak lama kemudian Lily kembali
menjadi sedih ketika ia bertanya kepada Sean, apakah ia mau jalan-jalan
dengannya malam ini.

“Malas”, ujar Sean sambil membuat
kopi susu untuk Lily dan ia sendiri.

“Kenapa kok malas ? Sebentar aja..”,
bujuk Lily.

“Aku ingin tidur”

“Cuma sebentar aja kok, tidur

kan

bisa nanti”, Lily
terus merayu Sean.

No..”,
ujar Sean keras kepala.

“Huh, dasar jelek”, seru Lily marah.

What
did you say
?”

“Sean jelek, pergi sebentar saja
nggak mau”, seru Lily sambil mengambil kopi dari tangan Sean dan langsung
meminumnya. “Uhuk…uhuk..uhuk…”

“Sudah tahu masih panas, main
serobot saja”, gerutu Sean sambil menepuk-nepuk punggung Lily.

“Jadi nanti kita pergi ?”, tanya
Lily ditengah batuk-batuknya.

“Sama sekali nggak”, Sean
menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mantap.

Bibir Lily menjadi cemberut, ia
merasa kesal karena Sean tidak mau, padahal Lily hanya ingin menghabiskan malam
terakhirnya dengan Sean. Itu saja.

 


5

 

Sean memandang langit-langit
kamarnya yang ber-relief merumitkan dengan mata menerawang. Akhir-akhir ini
Sean semakin sering melamun dan yang ia lamunkan tidak lain adalah gadis manis
yang suka memakai rok bernama Lily. Entah mengapa, apabila ia bersama Lily ia
selalu merasa bergairah, gembira dan cepat tersulut emosinya. Dan yang paling
menggelikan adalah ia merasa sangat senang apabila dipuji Lily
¾benar-benar
aneh.

Sean menggeleng-gelengkan kepalanya,
ia tak mengerti kenapa ia bisa seperti itu bila dekat dengan gadis pendek itu,
padahal selama ini ia selalu bersikap tenang dan bisa menahan diri —
teman-temannya selalu bilang bahwa dia sangat cool. Tetapi sejak kehadiran Lily
-
ditambah dengan sekelompok lelaki yang cerewet-cerewet itu - , ia
tidak bisa menahan diri dan mudah emosi. Ia menjadi sering mengomel dan
cemberut. Ia tidak sanggup menghadapi sikap Lily yang berani, apa adanya dan
kekanak-kanakkan.

Sean tersenyum.

Ia selalu saja menolak membantu Lily
turun dari pohon, bukannya tidak mau, tetapi ia tidak bisa menahan matanya
untuk tidak melihat celana dalam Lily yang selalu bermotif lucu dan kekanakkan -
 hello
kitty, teddy bear, strawberry dan sebangsanya
-, dan ia tidak bisa menahan perasaan
gelinya. Jadi ia lebih baik tidak menolongnya daripada terkena jurus kung fu
Lily begitu Lily tahu ia melihat celananya.

Mengapa ia bisa seperti ini ?, pikir
Sean heran sambil membalikkan tubuhnya yang tergeletak diatas spring bed king
size yang selembut awan. Ia belum pernah merasakan hal seperti saat ini kepada
seorang gadis.

Gadis-gadis yang hadir dalam
hidupnya selalu saja seorang gadis yang cantik, tinggi, langsing dan anggun.
Penampilan mereka semua bagaikan peri-peri yang lemah gemulai. Sean memang
selalu menyukai gadis-gadis anggun karena menurutnya demikianlah seharusnya
seorang gadis itu. Dan karena Sean adalah seorang dari keluarga terpandang,
kaya raya dan berwajah tampan, maka ia tidak kesulitan untuk mendapatkan
seorang gadis yang sesuai dengan kriterianya.

Walaupun demikian, Sean tidak pernah
bisa bertahan dengan seorang gadis dalam waktu lama, karena dalam jangka waktu
yang hanya sebentar, Sean sudah dapat mengenal kepribadian, maksud dan
keinginan dari gadis-gadis itu. Dan hasilnya, semua membuat Sean kecewa dan
marah.

Semua gadis itu hanya menyukai wajah
dan penampilan Sean, kekayaan serta kedudukan sosialnya, tidak ada yang murni
menyukai diri Sean apa adanya. Sean tidak pernah bisa menampilkan sifatnya yang
suka asal-asalan, agak menuntut dan terkadang kekanakan -
 ia
mengakuinya
-, bisa pingsan semua gadis itu bila mengetahui sifat asli
Sean.

Lain halnya dengan Lily, gadis itu
bisa membuatnya mengeluarkan semua sifat aslinya tanpa bisa ditahannya.
Terlebih lagi, Sean yakin gadis itu tidak punya niat buruk. Terbukti dengan
seringnya Lily mengajaknya jalan-jalan dengan sepeda motor bebeknya dengan
maksud agar Sean tidak kehabisan uang. Lily juga memperlakukan Sean dengan
wajar tanpa bersikap memuja yang berlebihan seperti gadis yang selalu
mendekatinya. Satu yang Sean yakin, gadis itu jatuh hati kepadanya karena
melihat wajahnya yang tampan.

Yah, ia tidak menyalahkan gadis itu,
ia sendiri sering jatuh hati pada wanita cantik. Tapi ia tetap menganggap bahwa
Lily tidak punya niat tersembunyi lainnya selain ingin dekat dengannya. Apalagi
setelah mengetahui sifat aslinya, Lily tidak merasa takut, ngeri, kecewa atau
mundur. Tetap saja bersemangat mendekatinya dan ceria.

“Hhhh..”, desah Sean tak
bersemangat.

Ia selalu saja memikirkan Lily,
padahal sudah tiga hari sejak Lily berteriak-teriak dengan megaphone, ia belum
pernah kerumahnya lagi. Padahal Sean sangat menantikannya. Mungkin Lily marah
karena ia menolak ajakannya jalan-jalan yang sangat Sean sesali. Sean megutuk
dirinya yang sok cuek dan sok angkuh.

“WAAA”, teriak Sean frustasi.

Ia bangun dari tempat tidurnya dan
berjalan menuju sebuah meja yang terletak disudut ruangan. Disana boneka
kelinci yang dibelikan Lily dia letakkan.

Apakah lebih baik kutelepon, pikir
Sean bimbang sambil menimang-nimang boneka mungil itu. Tapi apa nanti alasannya
?, Sean makin bimbang. Sudahlah, bilang saja minta diantar jalan-jalan, pikir
Sean puas.

Ia lalu mengambil ponsel yang
diletakkannya diatas meja disamping tempat tidurnya dan mulai mencari-cari
nomor ponsel Lily. Dulu Lily pernah memasukkan nomornya ke ponsel Sean yang
sama sekali tak pernah dihiraukan Sean.

Setelah pencet

sana

pencet sini, akhirnya Sean menemukan
sebuah nomor ponsel yang bertitel ‘Lily my sweet darling’. Sean menggertakkan
gigi karena gemas.

“Dasar gadis itu”, gumamnya sambil
mengacak-acak rambutnya. Ia benar-benar kewalahan menghadapi tingkah Lily.

Setelah ragu sejenak, akhirnya Sean
menekan tanda call pada ponselnya dan tak lama kemudian terdengar nada sambung.

KLIK. Telepon diangkat.

“Halo”

Dahi Sean berkerut karena yang
menjawab adalah suara seorang lelaki. “Siapa ini ?”, tanya Sean ketus.

“Lho, ini siapa dulu ?”, jawab suara itu tak kalah ketus.

Sean terdiam sejenak. “Oh, ini pasti
kakaknya Lily yang sok jago itu”, ujar Sean dengan penuh keyakinan.

“……Oh, dan ini pasti lelaki bule yang lebih baik berteman dengan monyet saja
itu”
, ujar suara
itu dengan nada mengejek.

 “Dimana Lily ?”, tanyanya dengan nada tinggi
karena hatinya menjadi dongkol mendengar ejekan itu.

“Tak tahu yaa…”, jawab suara yang rupanya Ogi mengejek.

Sean mengepalkan tangannya, “Aku…”

“Mau apa cari-cari Lily ?”, potong Ogi, “kamu
nggak mau bertemu sama dia

kan

?”

“Aku berubah pikiran”, jawab Sean
menggerutu.

“Kalau begitu kamu telat”, ujarnya penuh kemenangan.

Kerutan di dahi Sean makin dalam,
“Apa maksudmu ?”

“Ya…, dia nggak ada di

Malang

“Apa ???”, seru Sean kaget. “Apa
maksudnya ??”

“Pikir sendiri”

“Tapi…”

Tuut Tuut Tuut. Telepon telah
ditutup.

Sean memandangi ponselnya dengan
mata nanar. Benarkah, benarkah ia telah terlambat ? Disaat ia ingin lebih
mengenal gadis itu ? Disaat ia mulai menyukai gadis itu ? Lalu kemana gerangan
gadis bernama Lily itu ? Apakah ia sudah pindah ? Ia harus memastikannya, batin
Sean gelisah, ia akan coba menelepon rumahnya untuk memastikan bahwa keluarga
Lily belum pindah. Untunglah Lily juga memasukkan nomor telepon rumahnya.

Nuut Nuut…, terdengar nada sambung.

KLIK Telepon diangkat.

“Halo”,
terdengar suara seorang wanita yang lembut, berbeda dengan suara Lily yang
berisik dan jauh dari lembut. Pasti ibunya Lily, pikir Sean.

“Selamat pagi, bisa saya bicara
dengan Lily ?”, ujar Sean sangat sopan.

“Lily ? Siapa ini ya ?”, tanya suara lembut itu.

“Saya Sean”, jawab Sean ragu-ragu.
Ia khawatir akan diomeli oleh ibu Lily karena sikapnya yang cuek kepada anak
gadisnya.

“Sean…Teman kuliah ?”

“Bukan, saya…”

“Oh, iya saya tahu”, potong suara itu, “Sean yang dibelakang
pak Agus itu

kan

?”

“Belakang pak Agus ?”

“Rumahnya”

“Oh iya”

“Maaf ya, Lilynya nggak ada”, ujarnya dengan lembut.

“Boleh tahu kemana ?”, tanya Sean
penuh harap. Ia sangat ingin bertemu dengan Lily.

“Aduuh…saya nggak bisa bilang, tanya saja sama orangnya ya ?”, jawab wanita itu.

“Sudah saya telepon, tapi yang
terima kakaknya”

Oh
iya nomor ponselnya ganti, tanya saja nomor barunya sama kakaknya”
, usul
wanita itu.

“Dia nggak akan mau memberitahu
saya”

“Pasti mau”,
jawab wanita itu yakin.

“Tidak bisakah saya minta tolong
pada ibu ?”

“Kenapa ? Tanya saja sendiri”

“Tapi..”

“Yang gentleman, Lily hanya suka lelaki yang gentleman…Saya beritahu,
menjadi seorang lelaki itu harus pemberani, selain itu…bla…bla…bla…bla….”

Lima

belas kemudian Sean baru bisa
menutup telepon, itu pun setelah Sean mengatakan ada tamu. Ibu Lily terus
menasihatinya agar berani dan tidak kekanak-kanakkan, ia dianggap tidak
gentleman karena tidak mau tanya pada kakak-kakak Lily.

“Bagaimana mau gentleman ??”, teriak
Sean putus asa di kamarnya yang sepi dan dingin. “Baru dengar nama ‘Sean’ saja
seperti mendengar nama buronan, langsung disemprot habis-habisan !!”

 

©©©©©©

 

Minggu berikutnya —minggu kedua
setelah kepergian Lily— Sean mencoba menelepon nomor ponsel Lily lagi, tapi
yang menerima tetap seorang lelaki. Sean juga mengintip rumah om Agus dengan
cara memanjat pohon mangga seperti yang biasa Lily lakukan, bukannya melihat
sosok gadis manis itu, tetapi ia justru ditempeli 2 ekor ulat bulu sebesar
jempol
-yang ia yakin suami istri karena berdempetan- sehingga
seharian ia gatal-gatal.

Minggu ketiga, ia mencoba telepon ke
rumah Lily dan kali ini yang mengangkat adalah ayahnya. Harapan Sean timbul
kembali, tetapi ternyata hasilnya sama saja, Sean harus berusaha mencari nomor
ponsel Lily yang baru itu sendiri. Ia juga kembali memanjat pohon mangga untuk
mengintip rumah om Agus setelah sebelumnya memeriksa ketidak-beradaan pasangan
ulat bulu, namun tetap saja ia tidak melihat Lily. Ia hanya melihat dua sosok
wanita berumur 45 ke atas yang nampak manis dan pria berumur 50-an yang nampak
masih gagah, mereka pasti ayah dan ibu Lily.

Dan saat ini sudah akhir minggu
keempat, pikir Sean sambil menyesap jus anggur kesukaannya, namun Sean belum
berhasil juga melacak nomor ponsel Lily.

Di tengah udara panas yang
menyengat, Sean duduk-duduk di kursi empuk di teras halaman belakang sambil
memikirkan langkah berikutnya dalam misi pencarian jejak Lily.

Hari sebelumnya Sean mencoba
mendatangi kakak Lily yang nomor satu untuk menanyai nomor ponsel Lily. Sean
berharap kakak Lily ini mau memberitahunya, namun hasilnya sama saja, Sean
disuruh pulang dan tidak boleh kembali lagi. Sean pun menjadi putus asa. Ia tak
tahu harus mencari Lily kemana.

Damn
it
!”, umpat Sean seraya melempar gelas berisi jus anggurnya ke arah pohon
mangga tempat Lily memanjat hingga pecah berkeping-keping.

Ia merasa kesal sekali memikirkan
Lily, ditambah lagi semalam ia mendapat telepon dengan berita mengejutkan dari
ibunya di Inggris. Sambil terus mengumpat ia berjalan ke arah pohon mangga
untuk membereskan pecahan gelas itu, ia tak mau Lily akan terkena pecahan gelas
bila suatu saat datang kerumahnya lewat pohon mangga itu.

Namun betapa terkejutnya Sean ketika
telah berada di bawah pohon mangga karena tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh
didekatnya, yang rupanya dilempar dari arah rumah Om-nya Lily.

Wah, pikir Sean, apa ada pencuri ?
Dan ketika ia melihat apa gerangan yang jatuh, ternyata sebuah tas ransel hitam
yang besar. Pasti pencuri, pikir Sean yakin. Ia harus menghentikannya.

Sean pun mulai menyingsingkan lengan
bajunya, bersiap-siap untuk menghajar sang pencuri sial itu, lalu bersembunyi
di semak-semak dekat pohon mangga agar bisa mengejutkan dan menyergap pencuri
itu.

Perlahan-lahan terlihat sebuah
tangan menjulur dari belakang tembok, diikuti munculnya sebuah kepala dengan
mata yang melirik kesana kemari dengan waspada, dan Sean segera bersembunyi
ketika mata itu melirik ke arah persembunyiannya.

Selama beberapa saat Sean hanya diam
meringkuk dibalik semak-semak, baru ketika ia yakin pencuri itu sedang turun
dari pohon, ia putuskan untuk berdiri dan menyergapnya secara tiba-tiba.

“Wa..”, seru Sean tertahan.

Langkahnya terhenti seketika begitu
melihat sesosok mungil yang mengenakan baju rajut berwarna merah hati dan rok
pendek berwarna senada sedang sibuk menuruni pohon mangga. Gadis itu turun
perlahan-lahan sambil menenteng sandalnya yang berhak tinggi.

“Lily ?”, bisik Sean tak percaya
pada dirinya sendiri sambil mengerjapkan mata.

Gadis itu tiba-tiba saja muncul
disaat saat sedang bingung mencarinya, benar-benar mengejutkan Sean.

Lily telah sampai di bawah dan sibuk
membetulkan roknya yang sedikit terangkat sambil menggerutu. Ia tak melihat
Sean yang berdiri di belakangnya dengan mimik wajah berubah-ubah, terkejut,
kagum, senang, dan terakhir marah.

Sambil terus menepuk-nepuk bajunya,
Lily berbalik ke arah Sean berdiri. “WAW !!”, seru gadis ketika mengangkat
wajah dan melihat Sean yang bertampang seram. “… Seaaan…”, teriak gadis itu
sambil berlari ke arah Sean dengan tangan tebuka seperti di film-film

India

,
hendak memeluk Sean.

Namun Sean berkelit.

 “Hoi ! Kok begitu ? Nggak mau dipeluk gadis
cantik ya ?”, Lily tersenyum manis sambil mencolek tangan Sean.

Sean hanya diam memandang gadis itu
dengan mata melotot. Tadi, sejenak ia merasa senang bukan kepalang melihat Lily
muncul, namun tak lama kemudian ia menjadi geram mengingat kepergian Lily yang
tiba-tiba tanpa berpamitan dengannya, dan tiba-tiba saja gadis itu muncul lagi
dihadapannya tanpa ada perasaan bersalah, justru cengar-cengir.

“Marah ya ?”, ujar Lily sambil
berbalik untuk mengambil tas ranselnya yang sangat besar itu. “Kita masuk saja
yuk, ditanggung kamu senang”, Lily mengedipkan mata lalu menggandeng tangan
Sean dan mulai melangkah masuk ke rumah Sean.

Dengan kasar Sean mengibaskan
tangannya dari genggaman Lily, lalu ia berteriak emosi, “Bagus ya, pergi sebulan
nggak bilang-bilang. Kemana saja kamu ?”

Lily berbalik dan memandangi Sean
dengan pandangan gembira, “Kamu mencariku ?”

Sean tersentak, gadis ini
benar-benar membuatnya salah tingkah. “Siapa yang sudi mencarimu ?”

Lily tersenyum lalu berkata genit,
“Ahh…Mister Sean William Atkins…jangan malu kalau memang rindu pada saya”

“Siapa yang…Hei…”, kalimat Sean
terputus karena Lily sudah berlari ke dalam rumah bersama tas ransel di punggungnya
dengan tertawa-tawa riang.

Sean pun mengikuti Lily masuk ke
dalam rumah. Dan seperti biasa, ia menemukan Lily berada di dapur sedang sibuk
memotong sebuah kue berwarna kuning dengan keju menggunung diatasnya.

“Sean sini deh, enak sekali kue ini,
tadi pagi sebelum kesini aku membuatnya”, ujar gadis itu dengan ceria, “terus
waktu aku lihat di dalam kulkas banyak sekali keju, maka aku putuskan membuat
kue gunung keju..mmm…bahasa Inggrisnya berarti…

Cheese

Mountain

Tart”, lanjutnya sambil tertawa-tawa.

Sean mendatangi gadis itu dan
mencolek krim dan keju parutnya, “Mmm….not
bad
”, ujarnya.

“Iya

kan

…enak..”, ujar gadis itu sambil sibuk
mengambil piring kecil dan sendok. “Nah, ayo kita bawa ke ruang tengah, kita
makan sambil nonton TV”, ujarnya lalu berbalik dan melangkah menuju ruang
tengah.

Sean memandangi punggung gadis itu
dengan perasaan kesal yang menggunung layaknya keju diatas tart itu.

“Huh”, gerutu Sean sambil mengikuti
gadis itu menuju ruang tengah.

Begitu duduk di sofa, Sean langsung
bertanya pada Lily.

“Kemana sih kamu selama sebulan ini
?”, tanyanya dengan suara ditenangkan. Ia tak ingin Lily bilang bahwa ia rindu
pada gadis itu
¾ walaupun memang betul.

Lily melirik, memandangi Sean,
“Penelitian”, jawabnya dengan mulut penuh kue.

Dahi Sean berkerut, “Penelitian ?
Penelitian apa ?”

“Untuk skripsi, aku harus cari data
di perusahaan di

Surabaya

”,
jawab Lily sambil mengambil keju batangan yang ada didalam potongan kue Sean.

Sean memukul tangan Lily sehingga
gadis itu tak bisa mengambil keju batangan itu, “Jadi kamu ke

Surabaya

? Terus nomor ponselmu ganti ya ?”

Bibir Lily cemberut, “Iya ganti,
habis mas Ogi ngotot mau pakai nomorku, aku juga nggak tahu apa maksudnya, dia

kan

punya nomor sendiri”

Aku tahu maksudnya, batin Sean
kesal, pasti ketiga lelaki usil itu mau menjauhkanmu dariku.

“Terus kenapa kamu nggak memberitahu
aku kalau kamu mau ke

Surabaya

? Biasanya

kan

kamu selalu mengoceh ?”, tangan Sean kembali memukul tangan Lily yang masih
berusaha mengambil keju batangan di potongan kue Sean.

Gadis itu memandang Sean dengan
sorot mata menuduh, “Rencananya aku mau bilang sewaktu jalan-jalan, tapi kamu
nggak mau diajak jalan-jalan, malas katamu. Malamnya waktu aku coba telepon,
ponselmu mati dan telepon rumah juga nggak bisa”

“Oh, waktu itu ponsel dan telepon
rumah memang aku matikan karena ada gangguan dari Inggris, lagipula kenapa kamu
nggak bilang kalau mau penelitian selama sebulan, aku pasti mau kamu ajak
jalan-jalan”, ujarnya sambil melahap keju batangan disertai tatapan memelas
Lily.

“Ya, mauku

kan

bilang waktu jalan-jalan, tapi kamu
menolak, aku jadi jengkel setengah mati sampai lupa bilang”, ujar gadis itu
sambil meneruskan makan kuenya.

“Kalau nggak bisa telepon, sms

kan

bisa ?”

“Ck, malas ah, aku cuma mau bilang
langsung”

“E-mail ?”

“Kapan kamu beritahu alamat e-mailmu
?’

“Oh iya”

“Eh Eh…Aku bawa oleh-oleh untukmu
lho”

What
?”

“Lihat saja nanti”, ujarnya sambil
menunjuk tas ransel besar itu.

“Paling-paling barang aneh”

“Yee, ditanggung senang deh….Eh,
mana ponselmu ?”, tanya Lily sambil mengulurkan tangannya.

“Mau apa ?”, tanyanya sambil
menyerahkan ponselnya.

Gadis itu menerima ponsel Sean lalu
menekan-nekan tombolnya dengan antusias, “Aku masukkan nomor ponselku yang
baru”, ujarnya sibuk menatap layar ponsel Sean.

“Jangan diberi nama yang aneh-aneh”,
Sean memperingatkan sambil mendorong kepala Lily dengan ujung telunjuknya.

Lily melirik Sean dengan kesal
karena Sean selalu mendorong atau menjitak kepalanya.

“Sakit hei..“, Lily berseru seraya
memukul lengan Sean yang bagi Sean rasanya seperti dicolek saja.

 Sementara Lily sibuk memencet-mencet tombol
ponsel, Sean kini duduk dengan gelisah disamping Lily, ia hendak mengatakan
sesuatu pada gadis itu, tetapi bingung harus mulai darimana.

“Ehm..Lily”, ujar Sean mulai
berbicara setelah terdiam beberapa saat, “aku mau membicarakan sesuatu”

Mendengar suara Sean yang serius,
gadis itu menghentikan aktivitasnya, lalu memandang Sean dengan penuh tanda
tanya. Lily sangat heran melihat mimik wajah Sean yang terlihat sangat
ragu-ragu dan bimbang.

Ada

apa ?”, tanya Lily kemudian.

Mmm…listen,
actually I have a big trouble in

UK

”,
ujar Sean ragu tanpa memandang mata Lily. “Aku ingin minta bantuanmu”,
lanjutnya.

Lily hanya diam dan mendengar Sean
melanjutkan perkataannya.

“Begini”, Sean duduk dengan gelisah
di kursinya, seperti ingin kabur dari kursi itu. “Aku ingin kamu jadi pacarku”,
gumamnya pelan.

Mata Lily langsung terbelalak sampai
Lily merasa matanya itu bisa meloncat keluar. “Hah ? A..apa ?”, Lily tak
mempercayai pendengarannya.

“Aku ingin kamu jadi pacarku”, ulang
Sean lagi.

Lily membelalakkan matanya tak
percaya. Ini sungguh-sungguh tak terduga, Sean tiba-tiba saja memintanya untuk
menjadi kekasihnya ! Walaupun merasa aneh, tetap saja hati Lily berbunga-bunga
mendengar ucapan Sean.

“Sungguh ?”, tanya Lily dengan mata
berbinar antara senang dan heran. Lily ingin mendengar ucapan Sean sekali lagi.

Namun bukannya kata-kata mesra yang
keluar dari mulut Sean, dengan nada tinggi Sean berujar, “Hei, jangan Ge’er
dulu ……aku minta kamu jadi pacarku cuma untuk sementara, dan hanya pura-pura saja“

Lily terbengong, “Apa…?”

“Ya, pura-pura”

 “Pura-pura ? Apa maksudmu ?”

Sean kembali salah tingkah, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal
karena gelisah. “Beberapa hari yang lalu ibuku di Inggris meneleponku dan
menyuruhku segera pulang karena aku akan dinikahkan dengan seorang gadis
pilihan orang tuaku, tentu aja aku nggak mau”, Sean berhenti sejenak untuk
melihat reaksi Lily, lalu melanjutkan ketika Lily tak bicara apa-apa. “Tapi
tadi malam nenekku meneleponku, katanya kalau aku nggak pulang dan turun
tangan, maka orang tuaku akan terus mengejarku dimana pun aku berada. Aku nggak
mau itu terjadi, sebab aku sudah punya rencana untuk membangun ranch sendiri, kamu tahu

kan

, peternakan.
Peternakan yang akan kubangun di pedesaaan di Inggris, yang akan kupenuhi
dengan kuda yang terbaik dan gagah”, ujar Sean memandang Lily.

“Hmm jadi kamu ingin menjadikan aku
pacar bohongan supaya orang tuamu nggak jadi menikahkanmu dan kamu pun bisa
meneruskan impianmu ?”, ujar Lily sambil menahan kemarahannya.

Sean semakin merasa tak enak hati,
“Ya…begitulah…Tapi kamu akan kubayar dengan sangat tinggi, aku…”

“Kamu ini !”, potong Lily dengan
berang, “kamu kira aku ini perempuan apa ? Enak aja mau dijadikan pacar
bohongan untuk menghadapi orang tuamu yang super seram itu, dibayar lagi, kamu
kira aku materialistis ?? Aku sama sekali nggak mau !! No way !!“

“Lily aku…”

“Huh, aku nggak bisa dimanfaatkan
!”, teriak Lily marah, lalu tanpa berkata apa-apa lagi ia berlari ke halaman
belakang, memanjat pohon mangga dan meninggalkan Sean yang merasa bersalah.


6

Lily merebahkan tubuh diatas tempat
tidurnya yang dilapisi bed cover berwarna ungu. Sambil menutup mata ia kembali
teringat percakapan siang tadi dengan Sean yang membuatnya bimbang.

Kini di kamarnya yang nyaman, Lily
berbaring dengan gelisah. Sambil menggerutu, Lily melemparkan bantalnya ke
jendela kamar.

“Enaknya gimana nih ?”, gumamnya
sambil mengacak rambutnya.

Lily merasa sangat marah kepada
Sean, sebenarnya ia juga ingin membantu Sean, tetapi cara Sean meminta tolong
membuat marah Lily. Apakah semua orang kaya selalu menyelesaikan masalah dengan
uang ?, pikir Lily dengan geram.

¯¯La la la la la… ¯¯. Ponsel Lily berbunyi.

Lily segera mengambil ponsel yang
diletakkannya diatas meja belajar.

“Sean”, gumam Lily melihat nama di
layar ponselnya. Setelah bimbang sejenak, akhirnya Lily memutuskan untuk
menjawabnya. “Halo !”, ujar Lily ketus.

“…….. .Kamu marah sekali ?”, terdengar suara Sean.

Lily hanya diam.

“I was wrong, I’m sorry”

“Sungguh ?”, akhirnya Lily menjawab.

“Ya…aku merasa sungguh bersalah, maafkan aku, kalau kamu memang nggak
mau, it’s okey, aku akan menghadapi orang tuaku sendiri…walaupun nggak tahu
caranya”
, ujar Sean
dengan suara semakin pelan.

Lily menggoyang-goyangkan kakinya
yang berada diatas kasur dengan keras. “Ahhh..kamu ini, kalau kamu begini aku
nggak bisa menolak untuk membantumu”, seru Lily kesal.

Mendengar suara Sean yang memelas,
Lily tak tahan dan jadi sangat ingin membantu Sean dari cengkeraman orang
tuanya yang sepertinya sangat seram itu.

“Jadi kamu mau membantuku ?”, suara Sean berubah gembira.

“Tapi ada syaratnya !”, ujar Lily
setengah berteriak.

“Oh, apa pun itu akan aku penuhi”, jawab Sean senang.

“Semua biaya ditanggung, akomodasi,
transportasi….”

“Siap”

“….nanti disana, di tempatmu, aku
juga mau jalan-jalan dan kamu harus mau mengantarkan kemana pun akau mau”

“Ah, malas kalau jalan-jalan, aku…”

“Mau nggak ??”

“Oke..oke…”

 

©©©©©©

 

“Heehh ?? Ke Inggris ??”, seru ayah
dan ibu Lily berbarengan, tak percaya mendengar penuturan Lily disaat makan
malam bersama seluruh keluarga.

“Ehem, ke Ruddington”, ujar Lily
sambil memonyongkan bibirnya. Ia sudah menduga akan reaksi saudara-saudara
lelaki serta orang tuanya.

“Ruddington itu di Inggris ya ?”,
tanya Ogi yang sedang sibuk mengunyah dendeng kesukaannya.

“Bukan, di Afrika !”, ujar Arya
kesal melihat Ogi yang terkadang mengajukan pertanyaan tak bermutu.

“Terus kamu mau pergi sama siapa dan
kenapa ?”, tanya ibunya dengan penasaran.

“Sama Sean”

“APA ??”, kini giliran ketiga lelaki
bersaudara yang koor bersama sambil memelototi Lily.

Lily memilin rambutnya dengan
gelisah, “Lily cuma mau di ajak jalan-jalan kok”, ujarnya pelan.

“Jalan-jalan ? Kenapa dia harus
mengajakmu ?”, tanya ayahnya sambil menyesap kopi tubruk kesukaannya.

“Mmm..soalnya Lily yang minta ikut,
lagipula dia nggak punya teman dekat seperti Lily”, ujar Lily berusaha
meyakinkan.

“Oh, jadi karena kamu minta ikut,
terus dia mau ngajak kamu, membiayai semuanya ?”, tanya Arya curiga.

Lily menganggukkan kepala, “Iya”.

“Nggak mungkin, pasti ada udang di
balik batu”, tuduh Arya.

“Mmmm…ya…mm…”, Lily bergumam bingung
harus menjawab apa.

“Nah

kan

, benar ada sesuatu ?”, desak Arya.

Lily pun menyerah dan akhirnya
menceritakan yang sebenarnya. Lily menceritakan derita Sean dengan nada memelas
agar keluarganya mau membiarkannya pergi membantu Sean.

“Hua ha ha ha ha…”, Ogi tertawa
terbahak-bahak setelah selesai mendengar penuturan Lily. “Nggak sangka…lelaki
sombong itu bisa kebingungan, biar tahu rasa dia”, ujar Ogi penuh semangat
disertai pelototan Lily.

“Kenapa harus kamu yang pura-pura
jadi pacarnya ?”, tanya ibu Lily.

“Ibunya berulang kali menyuruhnya
pulang, tapi dia nggak mau dengan alasan punya teman wanita seorang gadis asli

Indonesia

.
Jadi siapa lagi kalau bukan Lily ?”, jawab Lily sambil memandang penuh
permohonan pada ayah dan ibunya.

“Apa jaminannya kalau dia nggak akan
mengganggu mbak ?”, tanya Ical yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.

Lily menoleh ke arah adiknya dan
tersenyum manis, “Kami akan tinggal di rumah neneknya, jadi dia nggak akan
berani ganggu mbak, soalnya nenek dan kakeknya selalu ada di rumah”

“Huh, aku nggak akan percaya sama
dia”, ujar Ogi tak setuju sambil terus memasukkan potongan daging ayam ke dalam
mulutnya.

“Tenang aajaa.. lagipula dia nggak
suka Lily kok”, ujar Lily pelan. Ia merasa sedih ketika mengatakannya.

“Kok begitu ?”, tanya ibunya heran.

“Yaah…dia cuma anggap Lily teman
biasa”, ujar Lily sedih, “Naah, jadi dia nggak akan ganggu Lily deh”,
sambungnya.

Dan begitulah, selama makan malam,
Lily terus membujuk dan merayu seluruh keluarganya. Setelahnya, tenaga Lily
terasa terkuras habis.

 

©©©©©©

 

Setelah mendapat persetujuan dari
seluruh keluarga -
 walaupun belum 100 persen setuju-,
keesokan paginya Lily memutuskan untuk datang ke rumah Sean untuk memberitahu
kabar gembira itu. Walaupun Lily merasa sedih karena Sean hanya memintanya
berpura-pura menjadi kekasihnya, tetapi hati Lily juga merasa gembira karena
bisa ikut membantu Sean, ditambah lagi bisa pergi ke Inggris, gratis pula.

Dengan mengenakan baju kesukaannya,
baju rajut lengan pendek berwarna kuning cerah, rok jeans biru sebatas lutut
serta sandal berhak tinggi, Lily pun berangkat bersama sepeda motor
kesayangannya, serta tak lupa membawa Molly dan Bunny. Tak sampai 15 menit,
Lily pun sampai di rumah Sean.

“Hai”, sapa Lily dengan gembira
melihat Sean berjalan dari dalam rumah.

“Hai”, balas Sean sambil membukakan
pintu pagar dan mempersilahkan Lily masuk.

Berjalan di samping Sean, Lily
dengan tidak ditutup-tutupi memandang Sean dengan heran. Bukannya gembira
karena kedatangan Lily, justru wajah Sean terlihat muram. Benar-benar membuat
Lily heran.

Ada

masalah ya ?”, tanya Lily duduk di sofa
di ruang tengah rumah Sean sambil mengeluarkan Molly dan Bunny dari dalam
kandang.

Sean menatap televisi yang baru
dinyalakan Lily, tidak menatap Lily. “Ya”, jawabnya singkat.

Lily mengangkat alisnya, merasa
heran. “

Ada

apa
sih ? Cepat katakan. Kamu membuat perasaanku nggak enak“, ujarnya sambil
memukul lengan Sean.

Sean menggaruk-garuk kepalanya yang
ditumbuhi bulu lebat bernama rambut sambil bergumam tidak jelas.

“Ngomong yang jelas”, ujar Lily.

Sean menoleh dan memandang Lily
dengan tatapan tak enak, “Aku nggak jadi mengajak kamu ke Inggris”, ujarnya
pelan.

“Kenapa ??”

“Yah….aku nggak ingin merepotkanmu
dan…”

“Kamu sama sekali nggak
merepotkanku, aku ikhlas kok”, sela Lily.

“Aku tahu, tapi aku nggak bisa
mengajakmu pergi”

“Kenapa ?”

“Ya nggak bisa”

“Ya, kenapa ?”, desak Lily.

“Kamu ngotot sekali sih ?”, intonasi
Sean meninggi.

“Habisnya…aku sudah susah-susah
minta ijin sama seluruh anggota keluarga, eehh…nggak tahunya batal. Sebal

kan

?”, ujar Lily ikut
emosi.

“Salah sendiri, kenapa cepat-cepat
minta ijin”, ujar Sean sembarangan.

“Apa ??”, seru Lily tak percaya.

“Aku

kan

belum memastikannya, jadi seharusnya
kamu jangan bilang-bilang dulu”, tambah Sean sambil memandang Lily dengan
pandangan menuduh.

“Kamu ini…”, ujar Lily dengan nafas
terengah karena sangat marah.

Sean memandang Lily dengan tatapan
menantang. “Apa ?”

“HYAA…”, teriak Lily tiba-tiba
sambil seraya berdiri. Membuat kedua kelinci mungil Lily terkejut dan langsung
lari masuk ke kandangnya.

Sean juga terkejut dan ikut berdiri.

Mister
Sean
!”, seru Lily sambil menunjuk-nunjuk hidung Sean. “Kamu mau mencicipi
jurus kung fu monyetku ya ?”

No,
thanks
”, ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kamu harus merasakannya !!”, teriak
Lily penuh kemarahan sambil menyiapkan kuda-kuda jurus monyetnya.

“Lily…tenang Lily…aku..”

“HYAAT !!”, omongan Sean terpotong
oleh serangan tinju Lily.

Sean dengan gesit menghindar, yang
makin mengobarkan amarah Lily.

“Lily, tenang”, ujar Sean sambil
sibuk mengelak dari pukulan dan tendangan Lily.

Melihat serangannya tidak ada yang
kena, Lily pun berhenti, “Kamu gesit sekali ya”, ujarnya dengan nafas
terengah-engah.

Sean memandang Lily, “Please, aku
nggak mau kamu marah”, ujarnya seraya mendekati Lily. Ia lalu memegang tangan
Lily, bermaksud menenangkan gadis itu.

Baru sebentar Sean memegang
tangannya, amarah Lily kembali meledak. “Huh, aku amat sangat marah sekali !”,
teriak Lily sementara tangannya mencekal lengan Sean dan kakinya menjerat kaki
Sean.

BRUAKK !!

“Aduuuh…”

“Sakit ?”

“Minggiir ! Jangan menindihku !”

“Nah, sudah jera

kan

?”

“No way !”

“Oh ya ? Kalau begitu, aku banting
lagi ya”

“Waa…., ampuun…”

Sean memandang Lily dengan puas.
“Jangan diulangi ya”, ujarnya sambil menyentil hidung Lily yang tergeletak
dibawahnya.

“Curang, kamu ternyata juga bisa
kung fu”, ujar Lily sambil berusaha mendorong tubuh Sean.

“Kamu nggak pernah tanya”, Sean
tetap tidak mau membebaskan Lily.

Lily menggeliat-geliatkan tubuhnya,
“Ya deh..aku memang lupa tanya, tapi sekarang minggir, aku mau berdiri”

“Janji nggak marah lagi ?”

“Iya iya”, ujar Lily kesal.

Sean pun mengangkat tubuhnya dari
atas tubuh Lily yang mulai kesemutan, kemudian beranjak menuju dapur. Tak lama
kemudian Sean kembali ke ruang tengah, ia melihat Lily sedang sibuk
menekan-nekan tombol remote TV dengan kaki bersila diatas sofa, tangan memeluk
dua kelinci mungil dan bibir maju.

“Ini”, Sean menyodorkan puding rasa
strawberry dengan saus vla yang diatasnya diberi buah ceri oleh Sean.

Lily melirik Sean dengan sinis,
“Nggak mau”

“Lily…”

“Tambah buah strawberry baru mau”

Sean melotot. Lalu tanpa berkata
apa-apa ia kembali ke dapur dan mengambilkan buah strawberry.

“Ini my Lady”, ujar Sean sambil
mengangsurkan semangkuk besar puding rasa strawberry lengkap dengan buah
strawberry dan ceri yang diterima Lily dengan senang.

“Dengar ya”, ujar Lily sambil
memasukkan seonggok besar puding beserta buah ceri ke dalam mulutnya. “Aku
masih marah, kamu belum dimaafkan”

Yes
my Lady
”, jawab Sean penuh hormat.

“Huh, Sean jelek”, ujar Lily dengan
mulut penuh puding.

Sean tersenyum lebar karena amarah
Lily sudah mereda.

“Jangan senyum-senyum”, ujar Lily
ketus sambil menjitak kepala Sean, “nanti harus kirim oleh-oleh yang banyak !”

Sean mengusap-usap kepala yang
dipukul Lily dengan wajah kesakitan, “Ya..ya…, aduuh…sakit sekali tahu”, seru
Sean sambil menendang lengan Lily untuk membalas jitakan Lily, menyebabkan
tubuh Lily jatuh diatas sofa.

“Aaah…”, Lily berseru keras ketika
tubuhnya terjatuh diatas sofa sehingga puding beserta vla dan buahnya tumpah di
pipi Lily akibat tendangan Sean.

Bukannya membantu, Sean justru
menambah lagi, kali ini menempelkan telapak kakinya di pipi Lily yang tidak
terkena puding.

“Sean !! Kamu jorok sekali !!”,
jerit Lily kesal. Ia tidak bisa bangun karena telapak kaki Sean di menempel di
pipinya dan menekannya dengan keras.

Karena Lily menggeliat-geliat, Sean
mengangkat kakinya dan tertawa terbahak-bahak melihat wajah Lily yang cemberut
dan belepotan vla.

Lily memandang Sean dengan bibir
cemberut. Lalu secepat kilat ia mengambil bantal sofa dan mulai memukul-mukulkannya
ke tubuh dan kepala Sean.

“Ini balasannya”, ujarnya dengan
kesal. “Nih”

“A ha ha ha..ampuun…ampuun….”, seru
Sean dengan kedua tangan sibuk menahan serangan Lily.

“Ho ho ho..tiada ampun bagimu”, ujar
Lily penuh kemenangan. “Kamu membuat wajahku yang cantik jelita ini kotor”

“Lily..tolong hentikan…”, ujar Sean
mulai kesulitan setelah terus-terusan diserang Lily dengan ganas.

“Enak saja”, teriak Lily terus
memukulkan bantal kearah Sean.

Karena merasa terdesak, Sean segera
mengambil bantal dari tangan Lily begitu ada kesempatan dan langsung
melemparkannya jauh-jauh beserta bantal-bantal lain yang ada di sofa.

“Waa”, teriak Lily sambil berusaha
mempertahankan satu-satunya bantal yang tersisa.

Namun karena tenaga Sean lebih kuat,
maka ia pun kehilangan senjatanya. Sambil menggerutu, Lily mengangkat wajahnya
untuk menunjukkan wajah marahnya kepada Sean. Matanya langsung melebar ketika
melihat seringai di wajah Sean.

“Sean…mau apa kamu ?”, ujar Lily
ngeri.

Wajah Sean tersenyum licik.
“Berani-beraninya kamu memukulku”, ujarnya dengan suara diseram-seramkan sambil
mengarahkan tangannya ke arah Lily, seperti mau mencengkeram.

“Sean…sabar…sabar..”, ujar Lily
ngeri sambil berusaha menjauhkan diri.

“Hiyaa..!!!”, seru Sean tiba-tiba.
Kedua tangannya memegang wajah Lily.

“Hiiy…ampuun…ampuun…mister…”, pekik
Lily penuh kengerian sambil menutup matanya.

Ia terus menggeleng-gelengkan
kepalanya untuk melepaskan cengkeraman Sean, Lily mengira Sean akan
mencubit-cubit wajahnya sehingga ia berteriak-teriak ketakutan. Namun
tunggu-ditunggu, Lily tak merasakan sakit di wajahnya, justru ia merasakan
belaian lembut di wajahnya.

Perlahan ia membuka matanya dan yang
dilihatnya membuatnya heran, Sean sedang membersihkan pipinya yang belepotan
saus vla dengan lengan bajunya.

“Sean ?”, ujar Lily bingung.

Sean menjitak kepala Lily. “Dasar
jorok, lihat…wajahmu kotor sekali”, ejek Sean.

Kan

kamu yang bikin kotor”, tuduh Lily.

“Siapa suruh menjitak kepalaku”, ujar
Sean tak mau disalahkan sambil terus membersihkan pipi Lily.

 “Kamu menyebalkan sih”, Lily membelalakkan
matanya.

“Aku memang begitu, kamu

kan

sudah tahu”, Sean
mengusap-usap pipi Lily dengan tangannya untuk memeriksa apakah sudah bersih
atau belum. “Ok, sudah bersih, lain kali hati hati”, ujar Sean melepaskan wajah
Lily dengan tiba-tiba. Membuat kepala Lily bergoyang-goyang.

“Hei !”

Sean hanya tersenyum tak bersalah.

 

 

©©©©©©

 


7

 

TOK TOK TOK

“Ly..Lily..”

TOK TOK TOK

“Ly….”

BRAK !

“Apa sih mas, mengganggu saja ih”

“Kamu jangan di kamar terus, sini
deh ikut mas Arya ke ruang tengah, ada yang mau mas bicarakan”, Arya
mencengkeram lengan Lily dan menyeretnya keluar dari kamar.

Lily berusaha melepaskan tangan
kakaknya yang mencengkeramnya dengan erat, “Nggak ah, malas”, ujarnya kesal.

Arya tak mau melepaskan
cengkeramannya dan terus menyeret Lily ke ruang tengah yang telah terisi oleh
seluruh anggota keluarga.

“Nah, duduk !“, perintah Arya sambil
menunjuk kursi sofa yang berada di tengah-tengah, sehingga Lily merasa dikepung
oleh orang tua dan saudara-saudara lelakinya.

Dengan kesal Lily pun menjatuhkan
diri di sofa empuk itu dengan bibir cemberut bukan main.

“Ly…”, ujar ibunya sabar, “kita
semua khawatir melihatmu yang sudah seminggu ini sama sekali nggak mau periksa
rumah om Agus, nggak mau bikin kue, nggak main sama Molly dan Bunny, nggak mau
di ajak jalan sama Elin, malas kuliah, malas pergi kursus masak, memangnya ada
apa ?”

Bibir Lily makin cemberut. “Nggak
ada apa-apa”, jawabnya ketus.

“Lily kamu jangan begini, semua
bingung karena kelakuanmu itu”, ayahnya mulai kesal melihat sikap Lily.

“Ya, tapi memang nggak ada apa-apa
kok”, ujar Lily membandel.

“Kamu ini ya..”, ayahnya mulai
marah.

“Pasti karena Sean

kan

?”, potong ibunya untuk menghindari kemarahan
ayahnya yang akan sangat menyeramkan.

Lily diam saja, tak berani menjawab
karena pasti akan dimarahi oleh seluruh anggota keluarganya. Dan memang benar,
sikap diam lily mulai menyulut emosi seluruh anggota keluarga.

“Tuh kaan…”, Ical memulai, “persis yang Ical kira, Sean
itu nggak bertanggung jawab”

“Iya”, tambah Ogi, “sudah sebulan dia
pulang ke kampung halamannya. Mana ?? Telepon, sms atau e-mail saja nggak, iya

kan

??”

“Betul”, timpal Arya, “katamu dia
janji mau kasih kabar

kan

…mana…??
dia bohong”

“Kok bisa begitu ya”, ujar ibunya.

“Itulah, papa nggak suka sama orang
bule, suka bohong”, ujar ayahnya menambah panas hati Lily.

Ogi mengangguk-angguk setuju. “Kamu
itu ya jangan…”

“WAAA”, Lily memotong ucapan Ogi
dengan berteriak keras dan menggoyang-goyangkan kepala ke kanan dan ke kiri
karena kesalnya. “Lily pusiiing…pusiiing…jangan ngomel semua doong…”, Lily
berbicara sambil terus menggoyang-goyangkan kepala dan berteriak keras, membuat
seluruh anggota keluarga terkejut.

Ibunya segera menghampiri Lily dan
menenangkan Lily. “Ssst…jangan marah-marah, kita bukannya marah sama kamu, kita
cuma mau kasih tahu kalau kamu jangan memikirkan Sean lagi, jangan sedih”, ujar
ibunya sambil mengusap-usap rambut Lily.

“Tapi…tapi Lily nggak sedih kok,
Lily memang lagi malas ke rumah om Agus, malas jalan-jalan, malas kuliah”, ujar
Lily mulai menitikkan air mata. Ia selalu tak sanggup menahan air mata didepan
keluarganya. Apalagi disaat Lily sedih seperti saat ini.

“Malasnya kenapa ?”, tanya Arya.

“Ya…malas…saja”

“Kenapa ?”, desak Arya.

“Ahhh…sudah deh, pokoknya malas,
titik”, Lily kembali berteriak disela tangisnya.

“Sst..sudah jangan nangis”, ujar
ibunya sambil memelototi Arya, “sebenarnya ketiga saudaramu ini punya rencana
buatmu”

Lily mengusap matanya yang penuh air
mata. “Apa ?”, tanyanya merajuk.

“Minggu depan mbak bolos kuliah lalu
kita pergi ke

Bali

!”, teriak Ical
bersemangat.

“Nggak mau ah, ngapain ke

Bali

?”, ujar Lily ketus.

Ia saat ini tidak ingin pergi
kemana-mana, hanya ingin di rumah saja. Tidur-tiduran, makan dan nonton film
drama kesukaannya.

Arya berdiri dan mendekati adik
kesayangannya yang sedang menangis tersedu-sedu dengan tatapan penuh
pengertian. “Ly…Mama, Papa, mas Arya, mas Ogi sama Ical cuma ingin kamu nggak
bersedih lagi. Nah, kebetulan mas Arya ada urusan di

Bali

,
jadi kita sekalian pergi berlibur…buat refreshing…”, ujar Arya seraya membelai
rambut Lily.

Lily memandang kakaknya dengan mata
penuh memelas. “Tapi…”

“Sst…sudah kamu jangan mikirin
apa-apa, pokoknya Senin kita berangkat ke

Bali

,
Ical sudah beli tiket pesawatnya”, ujar Arya sambil tersenyum menenangkan.

Ibunya memeluk Lily seraya berbisik,
“Nanti disana kamu bisa main, jalan-jalan dan belanja sepuasnya, Mama sudah menguras
kantong Papa”

Lily memandang ibunya sambil
mengusap air mata dengan punggung tangannya. “Sungguh ?”, tanyanya.

Ibunya mengangguk dengan mantap. “

Yap

Bibir Lily pun membentuk sebuah
senyuman.

 

©©©©©©

 

Hari Senin pun tiba. Lily beserta
Arya, Ogi dan Ical telah berada di sebuah hotel di Denpasar. Mereka semua
sedang beristirahat setelah perjalanan selama 2 jam dari

Malang

ke

Surabaya

penerbangan selama 15 menit ke Denpasar, ditambah 15 menit ke hotel. Maka untuk
merilekskan tubuhnya, Lily pun berendam air hangat disertai dengan soundtrack
drama sedih melalui tape kecilnya, yang menurut Lily sangat cocok dengan
suasana hatinya.

“Ahhh…enaknya..”, desah Lily begitu
tubuhnya terendam air hangat yang telah diberinya wewangian aromatherapi yang
menurut rubrik kecantikan di majalah yang Lily baca, bisa merilekskan tubuh
serta pikiran.

Sambil berendam pikiran Lily
melayang, ia tidak dapat melupakan Sean, Sean selalu berada dalam pikirannya.
Ia telah menunggu-nunggu kabar dari Sean, namun sebulan sejak kepergiannya,
Sean sama sekali tak pernah menghubunginya, melalui sms sekalipun tak pernah.

Lily merasa amat sangat menyukai
Sean dan berharap Sean pun menyukainya, namun bukannya mendapat perlakuan
menyenangkan dari Sean, ia justru selalu membuat kesal Lily.

Ia sangat tak mengerti, mengapa Sean
selalu saja membuatnya kesal setengah mati. Ia juga bingung atas sikap Sean.
Tak bisa ditebak, terkadang dewasa dan di lain waktu kekanakkan, terkadang
galak dan di lain waktu bisa menjadi jahil dan lucu., terkadang sinis namun ia
juga bisa menjadi sangat lembut dan bahkan mesra. Lily sangat bingung, seperti
apa Sean sebenarnya.

Sepanjang hidupnya yang sudah
berumur 22 tahun, Lily belum pernah bertemu dengan lelaki yang membingungkan,
menggemaskan dan menyebalkan seperti Sean William Atkins dari Inggris ini. Lily
memang pernah beberapa kali dekat dengan seorang lelaki, namun baru kali ini
dia merasa bingung seperti saat ini.

Bila tak bertemu dengan Sean hatinya
selalu merasa bimbang dan rindu, tetapi bila bertemu Sean hatinya bisa berubah
kesal setengah mati
-karena sikap Sean-  sampai
ia ingin pergi, namun begitu tidak bertemu Sean lagi, ia akan merindukannya
lagi.

Sejak pertama kali melihat Sean,
Lily memang sudah jatuh hati. Sampai-sampai berjuang dengan gigih agar dapat
berteman dengan Sean. Ia juga belum pernah melawan saudara-saudara lelakinya
apabila mereka merecoki hubungannya dengan seorang lelaki, ia mendiamkan
keusilan ketiga saudaranya karena ia memang setuju dengan pendapat
saudara-saudaranya itu, bahwa si ini jelek, si itu play boy.

Tapi dengan Sean lain, ia merasa
sangat marah kepada ketiga saudara lelakinya, ia benar-benar tak habis pikir
mengapa bisa begitu. Pasti karena sangat menyukai Sean, batin Lily yakin.

TOK TOK TOK. Pintu kamar mandi
diketuk.

“Ly, ayo cepat kita mau
jalan-jalan”, terdengar suara Ogi di luar.

“Iya”, sahut Lily sambil mematikan
tape kecilnya dan mengambil handuk putih yang lembut yang diletakkan di atas
meja dekat bathtub.

Tak lama kemudian Lily dan ketiga
saudara lelakinya telah berada di jalanan Denpasar, sibuk membeli baju,
aksesoris dan juga sibuk merekam dengan handycam-nya. Setelah seharian
berputar-putar, baru selepas maghrib mereka tiba di hotel dengan tubuh lelah
dan tas belanja yang banyak, terutama adalah tas belanja milik Lily.

Kemudian malam malam harinya, karena
ketiga saudaranya sudah terbang ke alam mimpi, maka Lily memutuskan untuk makan
malam sendiri di rumah makan dekat hotel yang sepertinya makanannya enak karena
banyak pengunjungnya.

Dengan langkah pasti Lily memasuki
rumah makan yang telah dipenuhi orang itu. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri
untuk mencaritahu apakah ada bangku kosong yang bisa didudukinya. Setelah
dicari-cari ternyata ada sebuah meja kosong dengan empat kursi yang masih
kosong, dan Lily pun segera menuju kesana sebelum didahului orang lain.

Sambil tersenyum puas Lily pun menarik
sebuah bangku.

Excusme…”,
dari belakang Lily terdengar suara seorang wanita dengan logat Inggris yang
sangat merdu.

Lily menoleh kebelakang untuk
melihat siapa gerangan yang memiliki suara sangat merdu itu dan Lily pun
terkagum-kagum melihat seorang wanita bule
yang menyapanya. Wanita yang amat cantik dengan rambut pirang dan mata biru
yang menawan, tubuhnya tinggi semampai serta langsing dan gayanya sangat anggun
serta menawan.

Ada

apa ?”, tanya Lily setelah pulih dari
kekagumannya.

“Apakah kursi itu kosong ?”, tanya
wanita itu sambil menunjuk kursi di seberang Lily yang kosong.

“Ya”

Can
we sit here
?”, tanya wanita itu lagi seraya menunjuk dirinya serta
seseorang yang berdiri dibelakangnya.

“Oh ya ten…”, ucapan Lily terhenti
begitu melihat orang yang ditunjuk wanita itu. Orang itu sedang memandang Lily
dengan tatapan tak enak. “..Sean..?”, ujar Lily tak percaya.

Sean tak memandang Lily dan
memalingkan wajahnya.

Wanita cantik itu memandangi mereka
bergantian. “Oh, kalian saling kenal ya”, serunya gembira, “kalau begitu mari
kita duduk bersama”, tambahnya seraya menarik tangan Sean ke arah kursi kosong
di depan Lily.

“Kalian kenal dimana ?”, tanya
wanita itu begitu duduk di kursi di sebelah Sean.

Perlahan-lahan Lily juga ikut duduk
sambil terus menatap Sean. “Kami kenal waktu Sean tinggal di kotaku”, jawab
Lily berusaha terdengar ceria. Ia tak mau menunjukkan kekesalannya pada Sean.

“Oh !”, seru wanita itu sambil
menutup mulutnya dengan tangannya, “mungkinkah kamu yang bernama Lily itu ?”,
tanyanya pada Lily.

Lily memandang wanita itu dan Sean
bergantian, “ya, kok tahu..?”

“Wow, kalau begitu perkenalkan, aku
Joceline Cabbold, tunangan Sean”, ujar gadis itu sambil memandang mesra Sean
yang wajahnya semakin keruh. “Sean sering bercerita tentang temannya di

Indonesia

yang bernama Lily, ternyata itu kamu ya”, lanjut wanita itu sambil bergelayut
manja pada lengan Sean.

Wajah Lily memucat. “Ka..kalian
sudah bertunangan ?”, tanya Lily tak bisa menutupi keterkejutannya.

“Belum, tetapi kami segera
bertunangan, masa kamu tak diberitahu oleh Sean ? Dia pulang ke Inggris karena
masalah ini”, jawab wanita itu bersemangat. “Ya

kan

Sean sayang ?”, tanya pada Sean dengan manja.

Sean hanya diam saja sambil membaca
menu.

Joceline melengos melihat sikap
dingin Sean. “Dia memang sering begini”, bisiknya pada Lily sambil mengedipkan
mata yang ditanggapi Lily dengan senyum kecut.

Tak lama kemudian, makanan yang di pesan
pun tiba dan mereka makan bersama-sama. Lily berusaha bersikap riang dan
melontarkan kalimat-kalimat lucu, sementara Sean hanya diam menikmati
makanannya dengan sekali-kali melirik Lily dari sudut matanya.

“Sean kenapa kamu diam ?”, akhirnya
Lily memberanikan diri untuk mencairkan suasana tegang yang menyelubungi Sean.

Sean mengangkat kepalanya lalu
menatap Lily dengan wajah tanpa ekspresi “Aku malas bicara”, jawabnya juga
dengan suara yang tanpa ekspresi.

“Ahh kamu ini, jangan suka malas
nanti seperti monyet lho”, ujar Lily sambil membuat gerakan seperti monyet dan
terkikik berusaha membuat Sean menoleh padanya.

“Hei”, Sean terpancing lalu secepat
kilat menjitak kepala Lily, “sudah kubilang jangan bilang-bilang monyet”

Lily hanya cengar-cengir. “Yes sir”,
ucapnya dengan ceria.

Lily dan Sean tidak tahu bahwa
Joceline memperhatikan mereka dengan tatapan curiga dan penuh kecemburuan.

 

©©©©©©

 

“Sean jeleeek…”, teriak Lily
sekencang-kencangnya seraya merebahkan dirinya di tempat tidur hotel yang besar
dan empuk. Lily menutup wajahnya dengan bantal dan mulai menangis.
“Hu..hu..hu…kenapa Sean begitu ?”, tangis Lily terisak-isak.

Tadi ia berusaha sekuat tenaga untuk
menahan kemarahan dan kesedihannya, namun begitu sampai di hotel kemarahannya
sudah tak bisa dibendung lagi.

Mengapa, batin Lily berteriak,
mengapa Sean berbuat demikian ? Padahal Sean sudah berjanji untuk menghubungi
Lily. Memang sih, Sean tidak berjanji
akan menjadikannya kekasih atau apa, tetapi Sean berjanji akan mengabarinya.
Bukannya mengabarinya, Sean justru datang membawa seorang wanita yang sangat
cantik yang mengaku tunangannya.

Mengapa Sean berbuat seperti itu,
padahal Sean sudah tahu bahwa Lily begitu menyukainya ? Kenapa dia menyakitiku
seperti ini, pikir Lily sedih.

¯¯¯La la la la la ¯¯. Tiba-tiba ponsel Lily yang
tergeletak di meja dekat tempat tidur berbunyi.

“Halo !”, jawab Lily sambil berteriak
tanpa melihat siapa gerangan yang menelepon.

“Aduuh…nggak usah teriak-teriak juga terdengar kok”, ujar suara di seberang telepon.

“…Sean ?”

“Lily aku…”

“Kenapa telepon aku !?”, potong Lily
emosi, “nggak usah telepon-telepon aku lagi !”

“Lily…tenang aku…”

“Huh, aku nggak mau dengar
penjelasanmu, jelasin aja ke tunanganmu itu !“, teriak Lily.

“Lily !”,
suara Sean mulai meninggi.

“Jangan teriak-teriak, telingaku
jadi sakit tahu !”

“Kamu juga jangan teriak-teriak, telingaku juga sakit !”, seru Sean mulai emosi.

“Ya sudah, tutup saja kalau begitu
!”, teriak Lily lebih keras lagi.

“Oke, aku tutup !”, Sean ikut berteriak.

“Ya tutup saja !”

“Oke !!”

KLIK. Telepon pun ditutup.

 

The Greatest Love of Lilly Part One

June 23rd, 2007 by ditadesiana2004

Lillycover2_3 

THE GREATEST LOVE OF LILLY

1

 

Perlahan-lahan
Lily
Ayu Sudibyo
membuka pintu kayu yang sangat besar itu, sementara bulu
kuduknya serasa berdiri dan keringat berjatuhan disekeliling dahinya. Dengan
jantung berdebar-debar Ia memasuki rumah bergaya kolonial yang sangat besar dan
mewah itu. Sambil berjingkat-jingkat perlahan matanya melirik ke kanan dan ke
kiri sambil berusaha mencari tombol lampu di dinding yang tertutup oleh lemari
yang tinggi-besar, ia harus sangat berhati-hati agar tidak menabrak vas-vas
super besar dan benda-benda mahal lain yang berserakan di seluruh ruangan di ruangan
itu.

 

Setelah melalui perjuangan keras dan
memakan waktu cukup lama, alhirnya Lilly berhasil menemukan tombol lampu yang
berukuran kecil itu, lalu langsung menekannya dengan gemas. Lily merasa heran
kenapa rumah sebesar itu, tombol lampunya sangat kecil apalagi letaknya tersembunyi
di balik lemari kayu yang sangat besar dan tinggi.

 

Lily mendesah lega setelah lampu
menyala sehingga ruangan yang tadinya gelap dan menyeramkan itu berubah menjadi
terang dan ruangan yang besar itu kini terlihat begitu megah dan mewah. Seluruh
lantainya yang terbuat dari marmer, funiture-furniture mewah dan barang-barang
berkelas yang terlihat berkilauan membuat Lily semakin terkagum-kagum. Tetapi
ia merasa heran kenapa orang mau membeli barang semahal itu, kemudian rumahnya
dibiarkan kosong. Seandainya dirinyalah pemilik rumah itu, tentu akan merasa
sangat sayang membelanjakannya uangnya.

 

Setelah puas mengagumi ruangan itu,
Lily kemudian  berkeliling memeriksa
keadaan rumah sambil menggerutu dan mengomel sendiri. Sebenarnya ia merasa kesal karena harus
memeriksa rumah besar milik om Agus adik lelaki ibunya itu, yang walaupun di siang
hari suasanya sangat menyeramkan karena sangat besar dan sepi sekali. Tetapi seluruh
keluarga selalu memaksanya untuk memeriksa rumah om Agus, padahal mereka tahu kalau
ia sangat penakut.  Untunglah ada yang
selalu menemani Lily apabila ia memeriksa rumah om Agus, yaitu Molly dan Bunny, dua ekor kelinci mungil kesayangan yang selalu dibawanya.

 

Sudah sebulan ini setiap hari Lily mendapat
tugas memeriksa rumah besar om Agus, dan yang bertugas hanya dia saja, karena
para lelaki di rumah semua sibuk mencari nafkah -
begitu kata mereka- , maka ibunya
yang menugaskannya karena khawatir ada apa-apa dengan rumah itu.  Karena pada pagi dan siang ia harus kuliah,
seringkali hanya pada malam hari sehabis maghrib Lily punya waktu untuk
memeriksa rumah itu. Tugas yang amat merepotkan itu akan terus berlangsung
selama satu tahun sampai Om Agus pulang dari Amerika.

 

Walaupun Lily sering merasa kesal karena
harus mondar-mandir naik sepeda motor di malam hari layaknya kelelawar hanya
untuk memeriksa rumah itu, namun ada dua hal yang membuat ia sangat senang
mengunjungi rumah om Agus itu. Yang pertama, karena tiap bulan Lily selalu
mendapat angpau dalam jumlah yang
cukup besar dari om Agus, yang rencananya akan dibelikan oven terbaru yang
dilihatnya di toko. Kedua, tepat dibelakang rumah besar itu terdapat rumah lain
yang memiliki pohon buah-buahan. Kalau sudah saatnya panen Lily boleh
mengambilnya, itu karena Lily sudah kenal baik dengan pemilik rumah  yang saat ini sedang bertamasya keluar
negeri  -
 orang kaya memang senang pergi
keluar negeri
- .

 

Lily memeriksa lantai bawah dan atas
yang ruangannya super luas, semua ruangan harus diperiksanya sehingga perlu
waktu lebih dari setengah jam untuk memeriksa seluruh ruangan di rumah itu,
Lily bahkan merasa tak perlu berolahraga lagi apabila setiap hari seperti itu
terus.

Setelah yakin semuanya sudah beres,
lalu ia turun ke bawah untuk menyalakan lampu-lampu taman yang berwarna kuning
sehingga halaman rumah itu terlihat indah. Ia kemudian beranjak ke halaman
belakang yang sangat disukai Lily. Halamannya sungguh luas dan penuh dengan
bunga serta ada kolam renangnya.

Sewaktu masih ada om Agus, setiap
minggu Lily sekeluarga sering datang untuk berenang. Dan karena saat ini omnya
tidak ada, maka Lily sekeluarga -
 terutama Lily-  bebas
menggunakan kolam renang yang berbentuk oval itu sepuas hati. Ditambah lagi
dengan rumah tetangga di belakang yang dibatasi tembok setinggi 2 meter, penuh
dengan pohon buah, ada pohon mangga, rambutan, jambu air dan alpukat.
Benar-benar membuat Lily kegirangan dan sangat menyukai halaman belakang rumah
om Agus.

 

Ketika Lily berjalan mendekati rumah
itu, terlihatlah oleh mata besarnya buah mangga ranum yang bergelantungan, jumlahnya
banyak sekali. Seketika perut Lily melolong minta diisi mangga, Ia pun segera berlari
menuju pohon dan memanjatnya, tak peduli ia memakai rok serta sandal berhak tinggi.

Sebagai satu-satunya anak perempuan
di keluarga besar Sudibyo, Lily diajari berbagai macam hal oleh ayah dan
saudara-saudara lelakinya, mulai dari kung fu, pencak silat, main layangan
sampai memanjat pohon. Jadi tanpa kesulitan, Lily berhasil memanjat pohon, dan melewati
tembok pembatas, lalu beralih ke pohon mangga di rumah sebelah. Halaman rumah
itu juga besar dan ada kolam renangnya, lampu tamannya terang benderang seperti
lampu di lapangan sepak bola !

 

Dengan seksama Lily memeriksa pohon
untuk melihat apakah ada ulatnya atau tidak, sebab ia sangat ngeri terhadap
mahkluk melata itu. Setelah yakin tidak ada, ia pun melompat ke pohon dan
segera mengambil buah mangga sebanyak yang ia bisa, dan agar bisa membawa
banyak, maka sebagian ia masukkan di dalam sweaternya.

Sebagai gadis yang terkenal suka
berbuat sembrono, tak heran bila ia
tak peduli apabila sweaternya yang cukup mahal akan melar karena diisi dengan begitu banyak buah, karena sekarang yang
ia pikirkan hanyalah perutnya.

Sambil bersenandung riang, Lily
terus memenuhi sweaternya dengan buah mangga yang wangi dan berpikir kalau bias
ia akan memanen semuanya untuk dijual ke pasar buah. Bisa buat pemasukan
tambahan, sekalian buat Molly dan Bunny yang pasti menerimanya dengan riang
gembira, pikir Lily senang.

 

Ketika telah sampai pada buah ke
sepuluh
-Lily beruntung karena ia memakai sweater yang besar dan
longgar-
 , tiba-tiba saja Lily mendengar teriakan yang arahnya dari
bawah pohon.

Who’s
there
?”, terdengar suara seorang lelaki yang berteriak dengan bahasa
Inggris yang logatnya kental bernuansa Inggris.

Lily yang sedang membaui sebuah
mangga yang berukuran jumbo terkejut mendengarnya dan hampir terpeleset jatuh.
Sambil mengelus dadanya yang berdebar kencang, ia berpikir apakah ada hantu,
karena rumah itu sudah dua bulan kosong. Tapi kenapa ada suara dibawah pohon
itu. Memakai bahasa Inggris pula, barangkali hantu itu hantu orang bule, mungkin bekas pasukan sekutu,
pikir Lily ngeri.

Perlahan-lahan Lily memberanikan
diri menjulurkan kepala untuk mengetahui suara siapa gerangan, benarkah hantu
atau….

“WAA…”, teriak Lily kaget. Pohonnya
tiba-tiba berguncang keras. “Oh Tuhanku, ini pasti hantu penjaga yang marah
karena mangganya dicuri”, seru Lily seram.

“Turun !”, teriak suara itu lagi,
kali ini dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar.

Karena takut, Lily pun pun
mematuhi dan segera turun dari pohon mangga. “Maaf mister.. penjaga pohon…, Lily cuma ambil sedikit
kook…”, jawab Lily dengan gugup begitu sampai di bawah sambil mengeluarkan
mangga-mangga dari sweaternya, lalu melanjutkan dengan suara memelas, “Masa begitu saja maraah..?”

“Tentu saja marah, kamu masuk ke
rumah orang tanpa permisi”, ujar suara itu dengan nada marah dan bercampur heran.

Orang ? Lily menghentikan aktivitas
mengeluarkan mangganya dan mendongak untuk melihat siapa gerangan itu. WOOWW…,
teriak Lily dalam hati, ada lelaki bule
tampan. Lily belum pernah melihat lelaki sekeren dan setampan orang yang sedang
berdiri didepannya dengan tatapan marah ini.

Lihatlah, tubuhnya jangkung dan ramping,
matanya hijau, rambut lurus sebahunya yang berwarna coklat tua, hidungnya yang mancung,
bibirnya yang tipis dan yang paling keren adalah alisnya yang bak semut
berjejer.

What
are you doing
?”, tanya lelaki itu sambil terus menatap Lily dari atas sampai
bawah. “…..And who are you ?”,
sambungnya dengan curiga.

“Ha ?”, Lily masih terpana dengan
mulut menganga.

“Aku tanya, sedang apa kamu disini
dan siapa kamu ?”, ulang lelaki itu dengan kesal.

“Ah eh…”, kata Lily tergagap karena
masih silau dengan ketampanan lelaki didepannya, “Ehem..”, Lily berusaha
menenangkan dirinya, lalu dengan

gaya

meyakinkan ia memperkenalkan dirinya, “My
name is Lily Ayu Sudibyo
”, jawab Lily dengan bahasa Inggris sebisanya, ”Di belakang
itu adalah rumah om-ku, my uncle house you
know
?”, lanjutnya sambil menunjuk ke arah belakang.

Okey,
so what are you doing here
?”, tuntut lelaki itu sambil memandangnya
curiga.

Wajah Lily memerah karena malu, ia
hanya bisa cengar-cengir untuk
menutup kesalahannya. “Eh kamu orang baru ya ? waah asyik nih, kita bisa
berteman, nanti aku bisa mengajakmu jalan-jalan, aku akan mengantarmu keliling

kota

”, celoteh Lily
berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Saya tidak mau berteman denganmu dan nggak
mau kemana-mana”, geram lelaki itu. “Aku cuma mau kamu angkat kaki dari rumah
ini”, katanya sambil menunjuk-nunjuk Lily.

Lily yang punya sifat tak mudah
putus asa, tetap tenang menanggapi kemarahan lelaki itu.

“Baiklah, baiklah…jangan marah
begitu ah, aku akan angkat kaki”, katanya sambil beranjak menuju sebuah bangku
dan duduk disitu, lalu dengan santai ia menaikkan kakinya ke atas bangku
sehingga tidak menyentuh tanah. “Nah sudah

kan

? Aku sudah angkat kaki ?”, ujarnya
sambil nyengir lebar, “Tapi aku tetap
ingin berteman denganmu”

Melihat kelakuan Lily, wajah lelaki
itu langsung terlihat marah dan kesal, dia menghampiri Lily dan memegang
tangannya, “Tidak boleh duduk di bangku, tidak boleh masuk di rumah ini !”,
geramnya emosi.

“Biar”, ujar Lily keras kepala.

“Oh, okey, saya akan panggil
polisi”, ancam lelaki itu.

“Masa ?”, tantang Lily.

Sambil menggertakkan gigi, lelaki
itu mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu dengan cepat menekan
tombol-tombolnya. “Halo, kantor police ? Disini ada pencuri….yes….a girl…
gadis…..yes Sean…di jalan…”, kalimatnya terputus karena ponselnya direbut Lily
yang lalu membuangnya ke arah semak-semak “Hei !”, protes lelaki itu sambil
membelalak ke arah ponselnya yang tersembumyi di balik semak-semak.

“Nggak boleh telepon polisi, aku

kan

bukan pencuri”, seru
Lily dengan bibir cemberut.

Oh
really
?”, tanya lelaki itu sambil melirik kearah mangga-mangga yang
berserakan di sekeliling mereka.

“Aku sudah minta ijin pemiliknya
yang dulu kok, jadi bukan pencuri”, ujar Lily membela diri.

“Tapi sekarang yang berhak memberi
ijin adalah saya, because I have rent this house”, ujar lelaki itu penuh
kemenangan.

Bibir Lily bertambah cemberut.
Karena merasa kalah, Lily tak menjawab apa-apa. Ia berbalik, memunguti mangga
yang berserakan, memasukkannya ke sweaternya lalu mulai memanjat pohon mangga.
Ketika akan melompati tembok pembatas, dari bawah terdengar teriakan.

“Hei, kembalikan mangganya”

Lily menoleh kebawah dengan mata
melotot. “Apa ?”, serunya kesal.

That’s
my manggoes
”, seru lelaki itu.

Dengan kesal Lily mengeluarkan
mangga-mangga itu dari balik sweaternya dan melemparkannya ke bawah dengan
keras.

“Tuh, ambil semua !”, teriaknya
marah.

“Hei !”, seru lelaki itu seraya
berusaha menghindar dari hujan mangga.

“Huh, biar benjol sekalian”, teriak
Lily kesal.

Lalu tanpa menoleh lagi dia segera
melompati tembok pembatas dan kembali ke rumah om Agus. Ia tak tahu bahwa
lelaki itu sedang tersenyum melihat ulah dan tingkah Lily, dan menjadi tertawa
terpingkal-pingkal karena melihat celana dalam Lily yang berwarna pink dan
bergambar Hello Kitty.

 

©©©©©©

.

“Hei aku

kan

nggak tahu”, seru Lily kepada Elin -sahabatnya
sejak TK
- di ujung telepon lainnya. Mereka berdua membicarakan lelaki bule yang sangat tampan itu dengan
seru.

“Masa ?”,
tanya Elin tak percaya di seberang telepon.

“Iya, sungguh, aku juga kaget sekali
kok”, ujar Lily sambil mengunyah keripik kentang kesukaannya. Ia sedang
tidur-tiduran di kamarnya yang bernuansa pink dan penuh gambar hello kitty
sambil menelepon Elin dengan telepon wireless-nya.

“Jadi dia memergokimu ? Wah, so pasti malu sekali”

“ya iyalaaah !”

“Tapi betul nih dia gantengnya bak David Beckham di Inggris, Leonardo
DiCaprio di Amerika, Takeshi Kaneshiro di Jepang, Won Bin di Korea dan Vic Chou
di Taiwan ?”
, tanya
Elin panjang lebar.

“Ho’oh”, jawab Lily sungguh-sungguh
yakin.

“Jadi yang betul yang mana ?”

“Apanya ?”

“Ya mirip siapa !?”, seru Elin tak sabar. “Mereka itu

kan

wajahnya
lain-lain, gimana sih ?”

“Ooh, mirip yang mana ya…aku juga
bingung, habis mereka semua kesukaanku sih..sebentar…”, ujar Lily sambil sibuk
berpikir.

“Yee, sudahlah, terus gimana ? Katamu dia tinggi dan keren, memangnya
dia setinggi siapa ? Seperti mas Arya ? Ciri-cirinya gimana ?”

“Wah, lebih tinggi dari mas Arya”

“Masa ? Mas Arya

kan

sekitar 180 cm ?”

“Iya kok, yah lebih tinggi sedikit,
mungkin 185-an… matanya hijau segar
bak daun yang tersiram embun di pagi hari, hidungnya bagai lembah nan curam,
bibirnya semerah mawar, alisnya bak semut berjejer, rambutnya yang panjang
sebahu melambai bagai kain sutra…Pokoknya kereeen deeh….”, ujar Lily dengan
mata menerawang jauh.

“Iiihh….gitu-gitu amat siih…bahasamu itu lho…nggak cocok.. Dulu waktu
SMA nilai puisimu cuma 6-

kan

..??
Sekarang

gaya

amaat…”, seru Elin
mencibir Lily.

“Yah…wajar kaan…orang yang sedang
dimabuk cinta bisa mengeluarkan sisi romantisnya..”

“ Sisi romantis apanya ? Terus kamu mau mendekati dia

kan

?”

“Yaa…”

“Kalau aku jadi kamu sih, langsung aku sikat”, kata Elin bersemangat. “Katamu dia sangat ganteng

kan

?”

“Iya siih…tapi…”

“Tapi apa ?”,
sela Elin, “rugi

kan

kalau nggak diambil ? Kamu tahun ini
umur 22

kan

?
Masa belum ada pacar ? Oya namanya siapa
?”

“Kamu sendiri juga nggak punya
pacar…Namanya kalau nggak salah Sean, aku dengar waktu dia telepon polisi…Yah,
iya juga sih…tapi…”

“Ya sudah,

sana

dekati Sean, siapa tahu
cocok

kan

?”, ujar Elin menyemangati.

“Elin ! Dari tadi omonganku kok
dipotong terus”, desis Lily kesal. “Aku memang berencana mau mendekatinya, tapi
aku ragu karena pasti akan menyulut emosi ketiga saudara lelakiku yang
cerewet-cerewet melebihi mamaku itu”

“Ah…biar saja, nanti mereka juga bosan sendiri”

“Bosan ? Nggak mungkin…, kamu tahu

kan

dulu juga mereka
sering menyerobot tiap lelaki yang suka
aku”, seru Lily sebal.

“Mmm…iya juga ya ? Tapi itu

kan

karena mereka sayang sama kamu…yah semoga yang ini nggak akan diserobot kalau
kamu mau melawan mereka”

“Hmm…betul juga ya, selama ini
mereka selalu menindasku, aku nggak boleh sama si ini, nggak boleh sama si itu.
Betul juga ya”

“Ya, betul, kamu lawan saja”, ujar Elin menyemangati.
”Eh, omong-omong mas Ogi ada dirumah ? Dia pernah tanya-tanya tentang aku nggak
?”

“Ya ampun Eliiin…, malam minggu
begini jangan harap dia ada dirumah deh, jangan suka sama dia Lin, rugi
lho..kamu sudah tahu dia

kan

?”, ujar Lily kesal.

Ia tak habis pikir, hampir semua
temannya pasti jatuh cinta pada mas Ogi, kakaknya yang amat sangat play boy
itu. Semua temannya yang pernah melihat kakaknya itu pasti akan jatuh cinta,
tak terkecuali sahabat dekatnya.

“Habiis…dia keren sekali…”, ujar Elin.

“Yah tapi jangan deh, nanti patah
hati”, nasihat Lily.

“Kalau nggak dicoba mana tahu….”, Elin tak mau menyerah.

“Terserah deh”

“…nanti kita bisa jadi saudara ipar kan”, sambung Elin gembira.

“Ya ya ya”

“He he he, oke deh, aku tutup dulu ya, semoga sukses dengan orang bule
ganteng itu ya say, hitung-hitung memperbaiki keturunan”
, ujar Elin sambil terkikik lalu
menutup teleponnya.

Lily memandangi teleponnya dengan
kesal, Elin benar-benar gigih mengejar kakak nomor duanya yang playboy itu,
padahal banyak lelaki lain yang sedang mengantri untuk menjadi kekasih Elin
yang cantik. Mas Ogi benar-benar hebat, sampai-sampai Elin yang terkenal suka
pilih-pilih, bisa tergila-gila padanya.

Lily memandang ke arah foto keluarga
yang digantung didinding kamarnya dan memperhatikan wajah mas Ogi yang sedang
tersenyum sambil merangkulnya. Dia memang tampan dan menarik, wajahnya yang
tampan itu sering tersenyum, tubuhnya tinggi dan ramping, dandanannya
benar-benar up to date, Lily juga suka melihat wajah kakaknya itu. Lily sangat
menyayangi kakaknya, tetapi ia tetap tak setuju atas sifat kakaknya yang play
boy.

Lily menggeleng-gelengkan kepalanya,
ia benar-benar merasa kesal melihat tingkah kakaknya itu. Mudah-mudahan Tuhan
mengampuninya, batin Lily dengan sedih. Ah sudahlah, lebih baik memikirkan
bagaimana cara mendekati lelaki bule yang ganteng itu, pikir Lily bersemangat.

Sebagai seorang gadis, Lily
tergolong pemberani -
 kecuali jika berhubungan dengan
hantu-
 , ia tidak akan malu mendekati seorang lelaki apabila ia
menyukainya
-tentu saja tidak secara agresif-. Ia akan berusaha menjadi
temannya lalu perlahan-lahan mengeluarkan daya tariknya yang memang besar.
Hanya sekali ia gagal mendekati seorang lelaki, yaitu ketika ia menyukai guru
SMA-nya yang tampan dan sangat terkenal di kalangan siswi karena gurunya itu
ternyata sudah menikah.

Sambil terus berpikir, Lily beranjak
dari kursi dan berjalan ke halaman belakang rumahnya yang cukup luas dan
dipenuhi berbagai macam tumbuhan, mulai dari bunga, pohon buah sampai
sayur-sayuran, seperti cabe, tomat, wortel dan banyak lainnya.

Semuanya adalah pekerjaan ibunya yang
sangat suka berkebun, yang menurutnya selain menyenangkan, juga bisa menghemat
anggaran belanja karena menanam sayuran sendiri. Sekali dayung dua pulau
terlampaui, begitu kata ibunya. Dan tentu saja ayahnya sangat mendukung segala
usaha ibunya menghemat pengeluaran belanja keluarga.

Tidak hanya halaman belakang yang dipenuhi
bunga, rumah Lily yang berdinding batu pun dirambati bunga dan dedaunan.

Para

tetangga selalu menyukai rumah keluarga Lily karena
rumah bertingkat dua itu sangat menarik.

Rumahnya tidak terlalu besar namun
sangat indah, dindingnya dari batu sungai dan dirambati bunga serta dedaunan
yang subur, jendelanya besar-besar dan banyak, halaman depannya penuh dengan
bunga, tanaman dan pepohonan serta kolam ikan yang airnya bergemericik, yang oleh
ayahnya ingin dibuat untuk memelihara ikan lele namun ditentang oleh seluruh
keluarga. Sementara bagian dalam rumah keluarga Lily lebih menyenangkan.

Ruang tamu, ruang keluarga dan ruang
makan semuanya berdinding warna krem lembut, kamar-kamar di cat biru bagi
lelaki, pink bagi Lily dan ungu bagi orang tua Lily, dapurnya besar dan
dilengkapi dengan berbagai peralatan masak, perabotan di seluruh rumah pun
terlihat nyaman. Semua orang yang memasuki rumah itu akan merasa sangat santai
dan akan menemui bunga segar dimana-mana. Sebab itu rumah keluarga Sudibyo
disebut rumah bunga.

Sambil lewat Lily mengambil wortel
di kebun lalu berjalan menuju kandang kelinci yang besar.

“Molly, Bunny, sini sayang…mari
bersama-sama kita pikirkan strategi menaklukkan pria ganteng”, ujar Lily kepada
dua mahkluk mungil yang berwarna abu-abu dan coklat sambil menyodorkan wortel
ditangannya yang segera disambut dengan gembira oleh mereka berdua.

Lily senang sekali dengan hewan
manis seperti kelinci atau pun kucing, karena ia suka sekali melihat dan
membelai bulu mereka yang lembut.

Lily terus bermain dengan
kelinci-kelinci kesayangannya sambil mengoceh tanpa menyadari ada yang
mengintainya. Tepat dibelakang Lily tersembunyi di balik dinding, terdapat tiga
pasang mata yang sedang memperhatikannya dengan curiga sambil berbisik-bisik
seru.

 

©©©©©©

 

Keesokan paginya Lily segera memulai
rencana mendekati lelaki tampan yang dikaguminya itu. Ia merasa telah jatuh
cinta pada pandangan pertama dan ia tak ingin berlama-lama untuk mendekatinya.

“Ma, sini”, ujar Lily sambil
menarik-narik tangan ibunya.

Hari Minggu bukannya pergi kencan
atau hanging out dengan temannya,
Lily justru pergi berbelanja ke supermarket dengan ibunya untuk membeli berbagai
bahan untuk membuat kue.

Kini di kereta barang Lily sudah
terdapat banyak barang, keju : keju
parmesan, cheddar, mozarella; sirup :
frambozen, orange, anggur, leci, strawberry, blueberry, lemon; tepung : tepung terigu, tepung beras,
tepung kanji, tepung ketan; gula :
gula pasir, gula halus, gula merah, gula palm, bahkan gula batu juga diambil;
macam-macam buah segar dan buah kalengan. Dan sekarang Lily menyeret ibunya ke arah
rak agar-agar dan puding.

“Naah, nanti kita bikin puding
coklat spesial yang uenaak”, ujar Lily sambil mengambil sepuluh bungkus puding
instant sekaligus.

“Eh, apa nggak kebanyakan ?”, tanya
ibu Lily.

“Nggaak, lagian

kan

bisa disimpan”, jawab Lily sambil
beranjak ke arah rak coklat masak.

“Memang mau buat apa, kok belanjanya
banyak sekali ? Dari kemarin juga sibuk bikin kue terus. Mentang-mentang baru
dapet pujian dari guru di kursus memasak nih yee..”, ujar ibu Lily seraya
memperhatikan putrinya yang sibuk kesan kemari.

“He he he… Anda benaar..”, jawab
Lily ambil tertawa lebar.

“Huzz..kalau ketawa jangan
lebar-lebar. Tuh gigimu ada yang nongol”, ujar ibu Lily sambil menunjuk salah
satu gigi depan Lily yang memang agak miring, yang kalau tertawa terlihat lucu.

Lily menutup bibirnya, “Yaah…dasar
gigi nakal”

Kan

sudah mama suruh diberi kawat gigi, tapi
kamu nggak mau”, ujar ibu Lily menuduh. Ia sudah berulang kali menyuruh ke
dokter gigi supaya gigi Lily dibetulkan, namun jawaban Lily selalu sama.

“Iiih…pasti sakit sekali, untung di
dokter, rugi di Lily…Lagian kalau misalkan nih…misalkan Lily hilang, gampang
dicarinya, tulis aja pengumuman ‘dicari seorang gadis manis dengan gigi agak
miring sedikit’, pasti cepet deh ketemunya”, ujar Lily dengan wajah serius.

“Ahh…kamu ini”, ujar ibu Lily
kewalahan.

Lily kembali tersenyum. “Eh, ma,
habis ini kita beli baju ya..”, ujar Lily sambil merangkul ibunya.

“Kamu mau beli baju ?”

“Ya”

“Wah, banyak ya uangnya”

“Ya banyak,

kan

mama baru dikasih papa”

“Apa maksudnya ??”

“Yaa..gitu deeh..”, senyum Lily
melebar, sementara ibunya memandangnya dengan pandangan menyerah.

 

2

 

Sean William Atkins memandang kue di
depannya dengan bingung.

Selama seminggu penuh, setiap hari ia
dikirimi berbagai macam kue :

Senin : puding yang diisi macam-macam
buah seperti bengkoang, belimbing, pepaya dan lainnya.

Selasa : cake nanas yang diolesi banyak whiped cream untuk menutupi
kegosongannya.

Rabu : bakpao lima warna, putih isi
daging, hijau isi kacang hijau, pink isi strawberry, biru isi coklat, dan kuning isi selai nanas, sebagai
tambahan bungkusnya pun berwarna sama. sesuai dengan isinya.

Kamis : kue bulat berisi kacang hijau,
diluarnya ditaburi puluhan biji wijen.

Jum’at : tahu yang diisi wortel, daging
dan kecambah, digoreng dengan tepung.

Sabtu : donat yang dibentuk bulat dan
ditusuk seperti sate, ada yang ditaburi keju, meises lima warna, kacang tanah,
gula putih dan yang paling aneh diisi dengan cumi-cumi, udang, ketimun dan
tomat.

Minggu : kali ini, telah tiba kue tart
warna pink yang berukuran jumbo, sekitar 50×50 cm.

Memangnya aku monster diberi kue sebesar
ini ?, pikir Sean kesal.

Kue yang berwarna pink itu ditaburi
dengan banyak buah strawberry dan dihiasi dengan sebuah gambar yang selalu
mengiringi setiap kue yang datang. Gambar sebuah kepala kucing memakai pita di
kupingnya, Hello Kitty !!

Lily benar-benar gigih. Sejak
kepergok olehnya sedang mengambil mangga dua minggu sebelumnya, tiap hari gadis
pendek itu datang kerumahnya.

Pada minggu pertama., tiap hari Lily
berteriak dari pohon di belakang rumah yang katanya milik Om-nya dan berteriak
agar Sean keluar dan mau berbincang dengannya. Karena tidak tahan mendengar
teriakan-teriakan itu, Sean pun keluar dan menghardiknya, bukannya kabur, Lily justru
senang dan mengoceh panjang lebar dari atas pohon. Lily mengoceh tentang
keluarganya, teman-temannya, hobinya, dan masih banyak lainnya selama enam hari
berturut-turut.

Di minggu kedua Lily terus
mengiriminya kue, selama seminggu itu Lily terus berkunjung dan merecoki rumah
Sean. Dan yang paling membuat Sean kesal adalah kemarin sore pada waktu Lily datang
dengan membawa puding. Walaupun sudah ditolak Sean, Lily dengan berani
menerobos masuk dan langsung mencari-cari dapur untuk kemudian membuka puding
yang dibawanya, dipotong dan diambilnya satu potong untuk Sean dan satu potong
untuk Lily.

Karena ingin Lily segera angkat kaki
dari rumahnya, Sean meangancamnya bahwa jika ia tidak cepat pulang, maka Sean
akan berbuat “macam-macam” padanya.

Tapi bukannya takut, Lily justru
memperagakan jurus-jurus kung-funya yang canggih bak Jet Li
¾yang
katanya dilatih oleh ayah dan kakak lelakinya
¾ sehingga Sean pun urung bertindak
“macam-macam” pada Lily.

Sean kemudian dengan enggan memakan
puding buatan Lily
¾yang diluar dugaan, rasanya enak
sekali
¾, berharap agar ia segera pulang jika Sean mau makan kuenya.

Selama makan, gadis itu kembali
berceloteh macam-macam dan mondar-mandir di rumah Sean dengan seenaknya
sendiri. Sehabis makan, Sean pun memaksanya pulang, dan karena tak mau juga,
akhirnya ia menyeret Lily yang tertawa-tawa karena kegelian. Dan sebelum Sean
menutup pintu, Lily sempat berteriak bahwa mereka berdua akan jalan-jalan
keliling

kota

.

Huh, gerutu Sean, ia tak akan mau
jalan-jalan dengan gadis yang seenaknya sendiri, cerewet dan susah diatur
seperti gadis bernama Lily itu.

Sean kembali memandangi kue tart
pink yang masih teronggok dihadapannya dan mengambil secarik kertas berwarna
biru muda lalu membacanya.

Kertas itu bertuliskan : ‘dimakan yah kuenya, ini khusus buat Sean,
ditanggung pasti merem-melek keenakan…Awas kalau nggak dimakan, aku gigit baru
tahu rasa
J.

Sean tersenyum dan menimbang-nimbang,
sebaiknya dimakan atau tidak. Memang, pikir Sean, kue-kue yang kemarin dikirim
Lily lewat halaman belakang
¾ia memergoki Lily sedang memanjat
pohon kembali kerumah yang katanya rumah omnya itu, dengan menggunakan rok pula
¾,
walaupun bentuknya aneh ternyata rasanya cukup enak, kecuali donat isi
cumi-cumi, udang, ketimun dan tomat yang memang sangat aneh rasanya.

Selama ini ia tak pernah mau makan
kue buatan orang lain selain buatan nenek dan koki di rumahnya. Tapi menurut
Sean akan sangat mubadzir bila kue-kue yang dikirim lewat jalan belakang itu
tidak dimakan, lagipula rasanya enak, jadi ia merasa lebih baik dimakan saja.

Sambil membawa tart yang diletakkan
Lily dipinggir kolam renang, Sean berjalan menuju dapur untuk mengambil pisau
kue, kemudian ia memotong kue itu dengan hati-hati agar gambar Hello Kitty-nya
tidak ikut terpotong, ia jadi mulai merasa jatuh cinta pada gambar Hello Kitty
dan juga warna pink.

“Hmm…not bad”, gumam Sean sambil
menggigit kue manis berlapis krim itu.

¯Ting
Tong…Ting Tong…
¯

Bel rumah berbunyi membuat Sean
menghentikan acara makannya.

¯Ting
Tong…Ting Tong…
¯

“Ck, siapa sih ?”, gerutu Sean
sambil melangkah ke pintu depan, “Minggu pagi begini, seenaknya mengganggu
orang”

Sebelum membuka pintu rumah, Sean
mengintip keluar untuk melihat siapa gerangan yang mengganggu minggu paginya
itu. Dan Sean langsung menjadi sangat kesal ketika melihat bahwa si gadis
cerewet yang bernama Lily itu sedang berdiri diluar pagar sambil sibuk menyisir
rambutnya dengan jari jemarinya yang pendek-pendek.

“Sedang apa dia disini ?”, desis
Sean kesal dibalik pintu.

¯Ting
Tong…Ting Tong…
¯

¯Ting
Tong…Ting Tong…
¯

¯Ting
Tong…Ting Tong…
¯

BRAK !! Sean membuka pintu dengan
kesal lalu berjalan ke arah Lily yang sedang menunggu dengan senyuman manisnya
di luar pagar.

“Kamu ini nggak sabaran ya”, gerutu
Sean begitu sampai didepan Lily. Ia tidak berniat membuka pintu pagarnya.

“Hai”, sapa Lily gembira.

Hari ini Lily bermaksud mengajak
Sean jalan-jalan keliling

kota

.
Rencananya ia akan membonceng Sean dengan sepeda motor bebek kesayangannya dan
untuk itu Lily telah membawa dua buah helm.

“What ?

Ada

apa kesini ?”, tanya Sean tidak senang,
ia tetap tidak mau membuka pintu pagarnya.

“Mau main denganmu”, jawab Lily
dengan mata berbinar ceria.

“Saya tidak mau”, ujar Sean dingin.

“Jangan begitu ah, masa aku harus
selalu memanjat dinding kalau ingin bermain denganmu. Seperti anak kecil saja..”,
ujar Lily sambil mengibas-ngibaskan tangannya, tak peduli dengan sikap dingin
Sean.

“Kamu memang anak kecil, dan sudah saya
bilang saya tidak mau berteman dengan kamu”, suara Sean tetap dingin.

“Tapi aku mau, jadi kamu harus mau
berteman denganku”, ujar Lily ngotot. “Sudah buka”, perintah Lily.

“Buka apa ?”

“Ini”, Lily menggoyang kepalanya
kearah pagar.

“Why ?”

“Pagarnya…”

Ada

apa dengan pagarnya ?”

“Pagarnya bagus ya…”, ujar Lily
sambil mengelus pagar besi itu.

“Are you sick ?”

“Bukannya kamu yang sakit ?”, balas
Lily sambil memonyongkan bibirnya. “Sudah tahu ada tamu, kenapa pagarnya nggak
dibuka ?”

“Oh, kamu ini tamu toh ? Saya pikir
pencuri”, ujar Sean sinis

“Ahh…sudah sudah, cepat buka pintu
pagarnya !”, seru Lily setengah berteriak. Membuat beberapa orang yang sedang
melintas memandangi mereka.

“Okey, okey, tidak usah berteriak”,
ujar Sean sembari membuka pintu pagar.

Segera setelah terbuka, Lily
menuntun sepedanya masuk dan memarkirkannya di halaman rumah.

“Nah, sekarang kamu ganti baju ya”,
ujar Lily kepada Sean setelah selesai memarkir motor bebek kesayangannya itu.

“Ganti baju ?”, tanya Sean sembari
menatap tajam Lily yang berjalan ke arah pintu rumah.

Lily membuka pintu rumah dan bersiap
masuk. “Ya, kita akan jalan-jalan”, ujar Lily lalu masuk kerumah yang bernuansa
tradisional dimana ada banyak sekali ukiran kayu dan furniture dari rotan.

“Hei ”, Sean memanggil Lily.

Di dalam rumah, Sean menemukan Lily
telah sibuk memotong kue tart yang tadi diletakkannya di meja makan.

“Enak

kan

kue buatanku, guru di kursus memasak
kueku bilang aku jenius lho..”, ujar Lily sambil tersenyum dengan mulut penuh
kue tart.

“YOU…!”, teriak Sean mulai marah.

“Ssstt”, potong Lily sambil
menempelkan telunjuknya ke bibir. “Jangan teriak-teriak, berisik nih…Sudah kamu
ganti baju saja lalu kita pergi”, ujarnya sambil berjalan menuju televisi,
menyalakannya, duduk santai di sofa, lalu sibuk memencet tombol remote untuk
memindah-mindahkan chanelnya.

Sementara Sean hanya bisa menatapnya
tak percaya. Benar-benar gadis pemberani.

Lily menoleh, “Kamu kok masih disitu
? Cepat ganti baju

sana

Sean menghampiri Lily, “Kalau saya
tidak mau ?”, tantang Sean sambil berdiri dihadapan Lily.

Lily menatapnya dengan seksama,
“Kamu pasti mau”

No,
I don’t

“Mau”, Lily mendorong Sean karena
menghalangi televisi.

“Nggak”

Lily kembali memandangi Sean seakan
ia anak kecil yang susah diatur, “Kalau nggak mau ya sudah, sebagai gantinya
aku akan disini sampai sore…”

What ?”

“…menemanimu”, lanjut Lily sambil
nyengir kuda. Memperlihatkan giginya yang agak miring.

Sean melotot. Lalu tanpa bersuara
lagi ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya untuk ganti baju sambil
menggerutu dan mengomel panjang pendek. Lily benar-benar mengesalkan dan juga
menyebalkan. Daripada seharian bersamanya, lebih baik ia terima ajakan
jalan-jalannya. Nanti dijalan ia bisa kabur meninggalkan gadis itu, pikir Sean
licik.

Sambil ganti baju Sean berpikir
dengan gemas, selama ini tak pernah ada gadis yang berani melawan dan
menantangnya seperti gadis pendek yang sedang menonton televisi itu. Di Inggris
semua orang menghormati dan segan padanya karena ia dari keluarga terpandang
dan kaya raya, tak ada yang berani macam-macam padanya. Tapi gadis bernama Lily
itu benar-benar membuat Sean kelabakan, ia juga tak bisa bersikap angkuh dan
arogan seperti di Inggris, karena ia ada

di
  Indonesia

,

ia

bukan
siapa-siapa disini. Tapi Sean yakin apabila Lily tahu siapa Sean sebenarnya,
maka gadis itu akan memohon maaf padanya sampai menangis.

Setelah menemukan celana pendek
jeans, kaos putih, dan sepatu kets, Sean kembali ke ruang tempat Lily sedang
menonton televisi dengan berjalan perlahan sambil memperhatikan Lily dari
belakang.

Sebenarnya Lily cukup manis ( walaupun pendek
), rambutnya yang lurus dan panjang terlihat lembut, wajahnya yang penuh senyum
juga menarik dan dihiasi lesung pipit, lalu pakaian-pakaian yang sering
dipakainya
¾ yaitu baju rajutan dan rok sebatas lutut serta sandal
berhak tinggi dan kali ini ia mengenakan rok jins selutut dan baju rajut warna
biru tangan pendek juga sandal hak tinggi — , membuatnya semakin terlihat
manis, dan kalau diperhatikan lagi, matanya yang besar dengan buku mata lentik
selalu berbinar ceria, hidungnya mungil dan mancung, bibirnya berwarna merah
jambu tapi agak tebal justru terlihat seksi, dan kulitnya yang berwarna sawo
matang membuatnya bertambah manis.

Secara keseluruhan, menurut Sean Lily
cukup menarik dan manis, hanya saja kekurangannya yang paling mengesalkan
adalah ia sangat cerewet dan tidak bisa diatur, semaunya saja.

“Jadi pergi nggak ?”, tanya Sean
dari belakang Lily.

Lily menoleh lalu memandanginya
dengan tatapan kagum. “Wah, sudah ganti baju ya ? Tampan sekali…”, ujar Lily dengan
mulut penuh strawberry yang rupanya diambilnya dari kue tart yang kini sudah
“gundul”.

Sean sudah biasa mendapat pujian
dari gadis-gadis secantik apa pun bahwa ia sangat tampan
-dan ia
tahu ia memang tampan
-, tapi pujian dari gadis
dihadapannya ini terlihat sangat tulus dan tidak dibuat-buat sehingga
membuatnya jengah.

“Jadi pergi nggak ?”, tanya Sean
lagi, kali ini setengah berteriak untuk menutupi rasa jengahnya.

“Iya iya, jangan marah begitu”, ujar
Lily sambil berdiri lalu berjalan ke dapur. Dari dapur terdengar suara air
mengalir, dan tak lama kemudian Lily keluar sambil membaui tangannya yang masih
basah. “Hmm wangi”, ujarnya.

Sean memandangi Lily sementara ia
sedang sibuk menyisir rambutnya di depan kaca besar yang tergantung di dinding,
Sean heran mengapa dirinya tidak marah dan mengusir Lily seperti yang ia biasa
lakukan bila ada seorang gadis yang mengejarnya karena ia paling benci
dikejar-kejar gadis yang tak dikenalnya dengan dekat, terutama yang sok kenal seperti
gadis dihadapannya ini.

Gadis ini memang lain, pikir Sean,
gadis ini pemberani, ceria dan pantang menyerah, Sean tak mau dan tak ingin
mengusirnya, sepertinya kunjungan di

Indonesia

akan sangat seru dengan
kehadiran gadis cerewet dan tak bisa diatur ini.

Lily mengikat rambutnya dipuncak
kepalanya dan dahinya diberi poni sedikit sehingga ia tampak makin manis. Lalu
ia berbalik, “Nah, Let’s go man”, serunya riang seraya mendatangi Sean,
menggandeng tangannya dan menariknya sambil berlari kecil.

Sean berusaha menarik tangannya tapi
Lily tak mau melepaskan dan terus menyeretnya ke pintu depan.

Sesampainya di halaman, Lily langsung
menuju motornya, mengambil dua helm dan menyerahkan yang besar dan berwarna
ungu kepada Sean, sementara yang kecil berwarna pink dengan stiker hello kitty
dipakainya.

“Nih, dipakai, aku yang setir”,
ujarnya sembari naik ke sepeda motornya.

Sean memandangnya tak percaya,
apakah Lily bercanda, dengan tubuh sekecil itu akan membonceng Sean yang
tinggi-besar. “Hei, kita akan naik ini ?”, tanya Sean sambil melihat motor
dengan pandangan ngeri.

Lily memandangnya dengan pandangan
yang mengatakan, ‘Iya bodoh, memangnya mau naik apa lagi’

Sean menggeleng-gelengkan kepalanya,
“Saya tidak mau naik ini”.

“Terus kita mau naik apa ?”, ujar Lily
agak kesal. “Jangan takut, aku ini sudah profesional”

“Jangan harap saya mau naik”, seru
Sean. ”Apanya yang profesional, menyalakan motornya saja lama”, tambah Sean
ketika melihat Lily menyalakan motor secara manual, sepertinya starternya
macet.

“Bukan salahku, pabriknya yang
salah, bikin orang capek saja”, ujar Lily tak mau kalah sambil terus menginjak
starter manualnya.

“Sudah kita sewa mobil saja”,
ujarnya tak sabar.

Gadis itu mendongak, “Jangan, nehi’
nehi’, cuma menghabiskan uang”

“Tidak akan,

kan

murah”, ujar Sean sambil mengeluarkan
ponselnya yang canggih lalu mulai menekan-nekan tombolnya. “Hello…saya mau sewa
mobil sekarang…yes…Sean William…bisa diantar sekarang

kan

.. Oke”, Sean memutuskan hubungan dengan
puas. “Dalam setengah jam mobilnya akan sampai”, ujarnya kepada Lily yang kini
memandangnya dengan takjub.

“Waah..gampang sekali sewa mobil,
biasanya papaku harus menelepon sehari sebelumnya baru bisa dapat, apalagi di
hari minggu seperti ini. Kamu pasti langganan utama ya”, ujar Lily dengan suara
takjub.

Sean tidak menjawab, ia berbalik dan
berjalan menuju teras lalu duduk di bangku kayu. “Tunggu disini”, serunya pada
Lily, “dan motormu itu masukkan di garasi”, lanjut Sean.

Lily mematuhinya dan segera
memasukkan motornya ke garasi, tak lama kemudian ia datang sambil berlari-lari.

“Huaah…capek juga menginjak-injak
starter jelek itu”, ujar Lily sambil terengah lalu duduk di kursi sebelah kanan
Sean dan menoleh pada Sean, “Oh ya omong-omong bahasa Indonesiamu kok hebat
sekali ?”

“saya pernah tinggal di

Jakarta

selama tujuh tahun
bersama kedua orang tua dan kakek nenek saya”, jawab Sean tanpa memandang Lily.

“Oooh pantas, persis seperti orang
Indonesia, tapi.. jangan pakai kata saya ah, pakai aku saja biar lebih akrab”, kata
Lily sambil menganggukkan kepala. “Terus kenapa kok kok keluargamu berlama-lama
di

Indonesia

?”, tanyanya lagi.

“Orang tuaku punya bisnis besar yang
mengharuskan kami tinggal disini”

“Nah, gitu dong.. terus kamu kerja
apa di Inggris ?”, Lily memandang Sean dengan matanya yang besar.

Mata Sean terus menatap ke depan,
tak memandang Lily. “Membantu di perusahaan ayahku”, jawabnya dengan suara yang
menyiratkan ketidak-sukaan.

“Perusahaan apa ?”, Lily terus
bertanya. Ia sangat ingin tahu segala hal tentang Sean.

“Furniture”

“Oh”, Lily mengangguk-anggukkan
kepalanya, “Eh Sean, omong-omong….baru kali ini aku punya teman seorang bule
dan aku senang sekali”

“Kenapa ?”, kali ini Sean melirik Lily.

“Yaah,

kan

lumayan, jarang lho yang punya teman orang bule setampan dan sekeren kamu”,
ujarnya sambil mengedipkan mata pada Sean, lalu ia melanjutkan, “lagi pula aku
juga bisa sekalian belajar bahasa Inggris denganmu, bahasa Inggrisku

kan

sungguh-sungguh
buruk, dan kalau aku mujur mungkin akan diajak jalan-jalan ke Inggris dan bisa
ketemu David Beckham”. Kali ini mata Lily berbinar-binar dan mulutnya menganga
membayangkan pertemuan dengan David Beckham.

“Jangan harap”, sahut Sean ketus
sambil menjitak kepala Lily.

“Jangan harap diajak ke Inggris atau
bertemu David ?”, tanya Lily mngusap-usap kepalanya yang sakit.

“Dua-duanya”

“Yaaah…siapa tahu kaan ?”, ujarnya
sambil mengangguk-anggukkan kepala dengan yakin.

“Terus sebentar lagi kita mau kemana
?”, tanya Sean sambil memandang mobil yang lewat di jalan.

“Rencanaku sih kita akan pergi ke
mall sekalian aku mau beli baju dan lipstik, nanti bantu pilih warna yang bagus
ya”, tukas Lily kepada Sean lalu ia melanjutkan dengan riang, “terus kita akan
ke toko buku sekalian aku mau cari buku buat skripsi, terus ke swalayan
sekalian aku mau beli susu non fat, terus ke toko kaset & cd sekalian aku
mau beli soundtrack film Asia yang di TV itu lho, terus nanti mampir ke pet
shop soalnya aku mau beli makanan spesial buat Molly dan Bunny, kelinciku kamu
tahu kan, terus ke…..”

“Hei, hei”, potong Sean. “Kita ini
mau jalan-jalan atau mengantarkan kamu belanja sih !?”, serunya kesal.

Lily menoleh dan tersenyum manis
pada Sean. “Yah sekalian

kan

…”.

“Sekalian apanya ?”, sergah Sean
kesal, “aku nggak mau kalau harus mengantar kamu belanja, seperti kurang
kerjaan saja”

“Jangan begitu…

kan

sekalian, acara utamanya memang keliling

kota

”,
ujar Lily sambil mengeluarkan lipstik dari tasnya.

“Tapi rencana utamamu memang mau
belanja

kan

?”, tanya Sean curiga.

Lily mengoleskan lipstik ke bibirnya
sehingga menjadi berminyak serta merah berkilau. Lipstik itu bagaikan pelumas
yang akan membuat bibir itu tambah cerewet, pikir Sean ngeri.

“Bukan, acara utamanya ya jalan-jalan
ke mall, sekalian belanja gitu loh.. !”, ujar Lily dan kali ini dia
mengeluarkan botol parfum, sisir dan dompet dari tas mungilnya. Seperti
Doraemon saja, batin Sean geli. “Kalau mau lihat monyet dan kawan-kawannya kita
harus ke Taman Safari, kalau memang mau minggu depan kita kesana”, lanjut Lily.

“What ??, seru Sean sambil melotot.
“Minggu depan aku nggak akan kemana-mana, kamu ini…”

“Eh, mobilnya sudah datang tuh”,
potong Lily sembari menunjuk ke sebuah mobil sedan putih yang parkir di depan
pagar.

Dengan malas Sean berjalan menuju
sedan itu dan tak lama kemudian Sean telah berada di mall mengikuti Lily yang
sibuk menariknya kesana kemari untuk menemaninya mencari baju, lipstik, buku
dan macam-macam lainnya.

Lily selalu menanyakan pendapat Sean
sebelum membeli ini-itu, dan Sean selalu menjawabnya dengan asal-asalan. Lily
juga membelikan Sean boneka kelinci mungil berwarna putih yang menurutnya bisa
meluluhkan sifat keras Sean. Boneka itu diterima Sean dengan berat hati setelah
diancam akan dicium pipinya oleh Lily bila ia tak mau menerimanya.

Setelah lelah, Lily mengajak Sean
makan di warung pinggir jalan langganan Lily karena Lily ingin makan sate ayam
di warung itu yang sangat enak, tapi suasana warung itu yang membuat Sean malas
makan.

“Hei, kita makan di tempat lain saja
deh..”, bisik Sean seraya mencolek tangan Lily.

Lily memandang Sean. “Kenapa ?”,
tanyanya.

“Aku nggak biasa makan di tempat
begini”, ujarnya seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling warung yang terbuat
dari kayu dan penuh dengan orang.

“Ahh…memang kenapa ? Makanan disini
lebih enak dibanding yang di restoran mahal…Sudah, coba dulu deh”, ujar Lily
seraya menyodorkan satu tusuk sate ayam ke arah mulut Sean.

Sean memandang sate itu ragu-ragu.

“Cepetaan…”, desak Lily.

Perlahan Sean membuka mulut karena
desakan Lily dan mulai mengunyah sate daging berlumur bumbu merah itu.

Lily memandangi Sean yang sedang
mengunyah. “Gimana ? Enak

kan

?”, tanyanya.

Sean terus mengunyah daging seraya
meresapi rasanya. “Mmm.. enak juga”, gumamnya mengangguk-anggukkan kepala.

“Apa aku bilang…? Nah, ini makan
semua”, Lily menyodorkan sepiring penuh sate ke hadapan Sean.

“Okey, aku habiskan ya..”, ujar Sean
bersemangat. Dan tak lama kemudian semua sate itu telah masuk ke dalam perut
Sean tanpa tersisa sedikit pun, bahkan sisa sate di piring Lillypun habis dilahapnya.  Saking
asyiknya, tanpa disadari Sean lupa pada rencananya untuk kabur meninggalkan
Lily.

 

 

3

 

Arya Sudibyo, anak tertua berumur 26
tahun dari keluarga Sudibyo memanggil adik-adiknya, Ogi Sudibyo dan Ical alias
Rizal Sudibyo, untuk mengadakan rapat tertutup di kamarnya.

“Gawat mas, sepertinya mbak Lily
lagi dekat sama cowok bule”, ujar
Ical, anak lelaki paling akhir dan adik Lily yang duduk di kelas tiga SMU.

Bule
??”, seru Arya dan Ogi berbarengan.

“Kamu nggak salah ?”, tanya Ogi
memastikan.

“Iya, sudah seminggu ini Ical
menyelidiki mbak Lily, ternyata kue-kue yang dia buat itu untuk cowok bule itu”, ujar Ical dengan meyakinkan.

“Tuh

kan

, Ogi sudah curiga sejak lihat Lily berceloteh
tentang menaklukkan lelaki sama Molly-Bunny waktu itu”, ujar Ogi sambil
mengingat malam ketika Lily bicara kepada kedua kelincinya. “Sekarang Lily juga
nggak mau kalau Ogi suruh ke salon, alasannya ada saja”, sambung Ogi gemas. Ia
selalu memaksa Lily ke salon seminggu sekali agar tampak cantik dan terawat
sebab ingin adiknya selalu terlihat cantik.

“Masih muda atau tua ?”, tanya Arya
khawatir.

“Seumuran mas Ogi, 24 tahunan, dari
jauh sih kelihatannya cakep”, jawab Ical.

“Jadi dua minggu ini dia selalu
bersemangat memeriksa rumah om Agus karena ada lelaki bule itu ya”, ujar Arya pada kedua adiknya.

“Pasti begitu”, ujar Ogi.

“Terus kita harus gimana ?”, tanya
Arya kepada kedua adiknya yang sedang memasang muka cemberut.

“Gimana kalau kita datangi aja cowok
itu lalu kita labrak dia ?”, usul Ical bersemangat.

“Seperti yang dulu-dulu ?”, Arya tak
yakin.

“Iya”

“Kalau menurutmu gimana ?”, tanya
Arya pada Ogi.

“Ogi sih oke-oke aja, dan kalau dia
berani macam-macam kita tinggal peragakan jurus-jurus kung fu kita. HAYYA…!!”,
ujar Ogi sambil bergerak-gerak memperagakan jurus-jursu kung fu.

“Kamu ini, selalu gitu”, ujar Arya
melihat tingkah adiknya.

“Ya begitu aja deh mas…”, seru Ical.

“Tapi kalau nanti ketahuan Lily
gimana ?”, ujar Arya kepada kedua adik lelakinya.

“Ya resiko, tapi ini

kan

demi kebaikannya”, ujar Ogi sambil membuka-buka
koleksi CD Arya yang banyak dan lengkap, mulai dari lagu dangdut sampai lagu
rock, mulai dari produksi

Hollywood

sampai
produksi Bollywood.

“Eh, tapi nanti kita nggak akan
dibuatkan puding coklat lagi”, ujar Ical cemas.

“Benar juga”, timpal Arya, “Lily
akan mogok membuat puding coklat buatannya yang sangat enak”

“Nanti minta mama yang buat aja

kan

beres”, sahut Ogi
dari tempat tidur Arya, yang kini sedang berbaring sambil membuka-buka majalah
otomotif Arya.

“Tapi buatan mama nggak seenak
buatan mbak Lily”, seru Ical.

Mereka bertiga pun terdiam.

“Sudah begini saja, mas punya ide”,
ujar Arya memecah keheningan, “sebelum kita melaksanakan rencana kita, kita
minta Lily buat puding coklat yang banyak, jadi kita punya persediaan selama
dia marah”

Ogi dan Ical memandang kakaknya
dengan takjub.

”Setuju”, teriak mereka berbarengan.

 

©©©©©©

 

“Ly, kamu kok akhir-akhir ini rajin
sekali memeriksa rumah om Agus, biasanya

kan

suka ngomel-ngomel ?”, tanya Arya kepada Lily yang sedang sibuk membuat puding
coklat.

Lily mengalihkan pandangannya dari
puding coklat untuk memandang wajah kakaknya yang tidak kalah tampan dari Ogi.

“Nggak kenapa-kenapa, cuma enak aja,
Lily bisa berenang sepuasnya, bisa pakai spa, bisa nonton film di TV Plasma om
Agus”

“Cuma itu ?”, tanya Arya lagi.

“Iya”, Lily melirik Arya, “Memang
ada apalagi ?”

“Ya nggak kenapa-kenapa, cuma heran saja”,
ujar Arya sambil memeriksa dua buah puding yang telah dicetak kecil-kecil.

“Yah, tugas Lily jadi terganggu
gara-gara mas Arya, mas Ogi sama Ical ngotot minta dibuatkan puding”, ujar Lily
kesal. “Kok nggak ngomong dari dulu kalau ada pertandingan kung fu di

Surabaya

dan mau bawa
puding coklat ?

Kan

bisa Lily cicil dari kemarin-kemarin, nggak buru-buru begini”

“Tadinya nggak punya rencana begitu,
tapi Ogi sama Ical yang ngotot minta bawa puding coklat buatanmu”, jawab Arya
sambil mencolek saus vla.

Lily memukul tangan Arya yang
mencolek saus vla yang belum dingin, “awas aja mas Ogi sama Ical”, gumam Lily
penuh ancaman.

 

©©©©©©

 

“Aduuh mas Arya gimana sih, nanti
kita yang kena omel Lily”, seru Ogi cemas.

“Ya mau gimana lagi, salah sendiri
kalian paksa mas yang bilang ke Lily untuk dibuatkan puding, mas juga kena omel”,
sahut Arya sambil senyum-senyum.

“Gawat deh”, gumam Ical sambil
memeluk bantal sofa.

“Sudahlah, masalah itu dipikirkan
nanti aja, sekarang kita pikirkan gimana cara melabrak bule itu”, ujar Arya
menenangkan adik-adiknya, “Terus kamu tahu siapa namanya ?”, tanya Arya kepada
Ical.

“Sean William Atkins”, jawab Ical.

“Hebat, tahu darimana kamu ? Pura-pura
salah sambung seperti biasa ?”, tanya Ogi.

Yap

“Oke namanya Sean, dia di rumah itu
sendirian, kalau gitu kita bisa segera bertindak”, ujar Arya bersemangat.

“Kapan ?”, tanya Ical.

“Sekarang, mumpung Lily lagi
kuliah”, jawab Arya sambil berdiri, bersiap berangkat ke rumah Sean.

Tak lama kemudian, ketiganya sibuk
menyiapkan diri. Mandi, ganti pakaian dan minta ijin keluar kepada ayah dan ibu
mereka untuk pergi jalan-jalan. Dan

lima

belas menit kemudian mereka bertiga telah berada di depan rumah sewaan Sean.

“Nanti mas Arya dulu ya yang
ngomong”, ujar Ical sambil sibuk melihat keadaan sekeliling, khawatir Lily
tiba-tiba datang.

“Tenaang.. serahkan pada bos”, sahut
Arya sambil menepuk dada.

Mereka pun turun dari mobil dan
menekan bel di pintu pagar. Tak lama kemudian dari dalam muncul seorang lelaki
setengah baya yang membawa keranjang.

“Hah, masa ini ?? Katamu bule ?”,
bisik Ogi kaget.

“Ngawur, ini pasti yang beres-beres
rumah”, balas Ical.

Lelaki itu telah sampai di depan
mereka, “Cari mister ?”, tanyanya sambil membuka gembok pagar.

“Ya pak, dia ada

kan

?”, tanya Arya sambil melirik ke arah
kedua adiknya.

“Ya, masuk saja”, ujar lelaki itu
sambil membuka pagar, “saya nggak perlu mengantar mas-mas ini

kan

?”

“Nggak perlu, kita tahu jalan kok”,
ujar Arya sambil memandang ke arah pintu rumah yang sedikit terbuka, “makasih
pak”, tambahnya. Lalu mereka bertiga masuk.

TOK TOK TOK. Ogi mengetuk pintu tiga
kali tapi pintu tak dibuka.

TOK TOK TOK. Ganti Ical yang
mengetuk pintu tiga kali. Pintu belum terbuka juga.

TOK TOK TOK. Giliran Arya yang
mengetuk pintu sebanyak tiga kali pula.

Ada

orangnya nggak sih ?”, gerutu Ogi sambil
mengintip dari celah pintu.

Ical berinisiatif untuk melihat ke dalam
lewat kaca jendela, “Eh itu orangnya datang “, seru Ical.

Pintu rumah terbuka dan dari baliknya
muncullah seorang lelaki yang sangat tampan, yang membuat ketiga bersaudara itu
terkaget-kaget.

“Waaah….cakep sekali…”, gumam Ical
dengan kagum.

“Pantas Lily semangat sekali”,
timpal Ogi sambil mengangguk-anggukkan kepala. Sebagai orang yang berselera
tinggi dalam menilai wajah, Ogi jarang memberi nilai tinggi kepada seseorang,
namun lelaki di hadapannya kali ini membuatnya berubah dan memberi nilai A
plus.

Lelaki tampan itu memandang
ketiganya dengan wajah heran. ”Siapa ya ?”, tanyanya kemudian setelah ketiga
bersaudara itu tidak ada yang angkat bicara.

Arya yang pertama kali sadar dari
kekagumannya segera menjawab dengan suara berwibawa, “Maaf mengganggu, kamu
Sean Wlliam Atkins

kan

? Saya Arya, lalu mereka berdua adik saya, Ogi dan Ical”, ujar Arya sambil
menunjuk Ogi dan Ical yang masih terkagum-kagum.

“Yes, lalu kalian ?”, tanya Sean
sambil menaikkan kedua alisnya.

“Kami bertiga adalah saudara
laki-laki Lily”, jelas Arya menjawab kebingungan Sean.

Sean memandang ketiganya dengan alis
berkerut. “

Ada

masalah apa ?”, tanyanya curiga.

“Bolehkah kami masuk ? Lebih enak
bicara di dalam”, ujar Ogi yang sudah pulih dari kekagumannya.

Sean memandang Ogi sejenak lalu
menggeser tubuhnya, “Silahkan”

“Hei ayo”, ujar Ogi pada Ical yang
masih terpana.

“Eh ? Oh ya”, Ical gelagapan.

Setelah ketiganya masuk dan duduk
tenang di kursi sofa ruang tamu dan Sean juga telah duduk, akhirnya Arya mulai
berbicara.

“Sebelumnya, kami harap kamu nggak
marah karena kedatangan kami yang mendadak ini, kami cuma mau memastikan
sesuatu”, Arya membuka percakapan.

“Sure”, sahut Sean seraya menaikkan
kedua lengannya di atas sandaran sofa.

“Begini, seperti yang tadi kami
bilang, kami adalah saudara lelaki Lily dan kami ingin tahu apakah Lily sering
kemari ?”, tanya Arya sambil menatap tajam mata Sean.

Biasanya cara ini selalu berhasil
untuk menakuti lelaki yang bernyali kecil yang berani mendekati adik
perempuannya. Ditambah dengan wajah Arya yang penuh wibawa, tubuh tinggi dan
gagah, mata setajam elang serta rambut gondrong dan lurus bak samurai Jepang,
bisa dipastikan akan menyiutkan lelaki penakut.

Tetapi ternyata tidak dengan Sean,
ia balas menatap mata Arya dengan berani “Ya, setiap hari selama dua minggu
ini”, jawabnya.

Dia berani juga, pikir Ogi, biasanya
para lelaki akan mengkerut berhadapan dengan mas Arya.

“Terus dia melakukan apa disini ?”,
Ogi ikut bertanya.

“Aku juga bingung dia melakukan apa
disini, tanyalah padanya”, jawab Sean asal-asalan sambil mengangkat kedua
bahunya.

“Bingung katamu ?”, seru Arya sebal
melihat sikap Sean yang terkesan angkuh, apalagi dengan gayanya duduk yang
sembarangan, “Bagaimana dengan kesibukan Lily membuat kue, pasti buatmu

kan

?”

Sean memandangi Arya, “Memang dia mengirimiku
kue selama seminggu penuh, tapi itu bukan urusanku, aku juga nggak tahu apa mau
dan maksudnya”

“Kamu benar-benar nggak sopan !!”,
seru Ogi emosi.

“Aku cuma mengatakan yang
sebenarnya”, tukas Sean.

“Tapi kamu sama sekali nggak
menghargai Lily”, seru Ogi sambil menunjuk muka Sean yang terus memperlihatkan
sikap cuek dan angkuhnya.

“Kalian yang nggak sopan, tiba-tiba
datang dan menginterogasiku”, balas Sean.

“Kami bukannya mau menginterogasimu,
kami cuma mau tahu, jadi kuharap kamu jangan bersikap seperti ini”, ujar Arya
tenang, ia tak ingin menyulut peperangan.

“Bersikap seperti ini bagaimana ?”,
tanya Sean keras kepala.

“Angkuh dan asal-asalan”, sahut
Arya.

Sean melotot. Setelah berdiam
beberapa lama sambil memperhatikan ketiga bersaudara itu, akhirnya Sean
menjawab, “Oke, aku akan berusaha bersikap ramah…”, ucapnya sambil menatap
Arya, lalu ia melanjutkan, “…selama aku mau”

Ketiga bersaudara itu saling berpandangan
dengan perasaan sebal.

“Baiklah, lagipula kami juga nggak
ingin berlama-lama disini”, ujar Ogi sambil mencibir.

“Aku juga nggak ingin kalian
berlama-lama disini”, balas Sean.

“Pusing aku melihat wajahmu”.

“Apalagi aku”

“Kamu menantang ya ?”, seru Ogi
kesal karena Sean selalu membalas kata-katanya.

“Memang kenapa ?”

“Hei, hei sudah, sudah”, Arya
menengahi, “kalau begini terus kita semua bisa benjol

“Habis..”, gerutu Ogi sambil melotot
pada Sean yang juga melotot padanya.

“Sudah, sekarang aku mau tanya
padamu Sean”, ujar Arya, “apa kamu dan Lily sudah jadi teman dekat ?”

“Biasa saja, bahkan mungkin sama
sekali belum mengenalnya”, jawab Sean.

“Tapi kalian selalu bertemu setiap
hari selama dua minggu ini, masa kamu belum mengenalnya ?”, tanya Arya tak
percaya.

“Yaah…dia yang selalu mengoceh
panjang lebar dan sibuk membuat ini dan itu, aku hanya menanggapinya, jadi
menurutku kami belum berteman karena aku malas berteman dengannya”, ujar Sean.

“Malas berteman dengannya !?”, ucap
Ogi tak percaya ,”apa kamu nggak tahu berapa banyak lelaki yang ingin berteman
dengannya ?”.

“Aku nggak tahu dan nggak mau tahu,
nggak ada hubungannya denganku”, ujar Sean santai.

“Tapi Lily sepertinya menganggap
kamu adalah teman baiknya, setiap hari dia selalu bersemangat kalau mau kesini,
apa kamu nggak merasakan itu ?”, tanya Arya tenang.

“Aku sama sekali nggak merasa”,
jawab Sean angkuh.

“Huh, kalau begitu aku salah
menilaimu, tadinya aku beri nilai A plus, tapi sekarang berubah jadi Z !! Beda
sekali wajah sama sifatmu !”, ejek Ogi sambil mengacungkan jempol tangan lalu
memutarnya ke bawah.

“Memang kamu ini siapa ? Beraninya
menilaiku ? Kalau dibandingkan denganku, kamu nggak ada apa-apanya”, balas Sean
dengan mencibir.

Emosi Ogi mulai tersulut, “kamu
ini…”

“Kurang ajar”, potong Ical yang
sedari tadi hanya diam saja, “dari tadi kamu bersikap angkuh dan sombong,
memangnya kamu pikir kamu itu siapa, jadi orang jangan sombong. Kamu nggak
pantas berteman sama Lily, oh….bukan cuma sama Lily, kamu bahkan nggak pantas
berteman sama manusia dengan sikapmu yang memuakkan ini. Lebih baik berteman sama
monyet aja, monkey you know ?”, Ical
mengomel panjang lebar sambil menunjuk-nunjuk muka Sean.

Sementara itu Arya dan Ogi hanya
terbengong melihat adiknya marah-marah karena mereka belum pernah melihat Ical
yang penyabar bisa marah sampai seperti itu.

Di lain pihak, Sean menjadi naik pitam,
wajahnya memerah karena marah diomeli anak kecil bertubuh kurus kering, marah
karena dia tak merasa bersalah dan terlebih karena ia dibilang pantas jadi
teman monyet.

Sean berdiri lalu berteriak kepada
ketiga bersaudara yang menatapnya dengan berang, “Pulang !! Aku muak !! Go home
!!”

Ogi yang paling pemarah diantara
ketiga bersaudara itu segera berdiri dan balas berteriak, “Dasar kurang ajar,
belum pernah ditendang Jet Li ya ?”

“Hah ?? Jangan bercanda,
paling-paling rasanya seperti ditendang ayam ! Chicken !”, ejek Sean.

“Mau merasakan jurus ayam jantan
berkokok ? Ditanggung kamu pasti tersungkur !”, balas Ogi tak mau kalah.

“Hoh, boleh, akan aku tangkis dengan
jurus macan mengoyak ayam !”, seru Sean.

Arya segera berdiri dan menenangkan
keduanya sebelum keduanya saling memukul. “Sudah, sudah, kalian ini sudah tua,
jangan ribut seperti anak kecil !”, seru Arya. Lalu Arya menatap Sean dengan
sebal, “Dan kamu, awas kalau berani menyentuh adik perempuanku, kujamin tubuhmu
akan jadi mumi”, ancam Arya.

Sean melotot, “Siapa juga yang mau
menyentuh adikmu ? Aku pasti akan mengusirnya kalau ia datang kesini !”,
ujarnya emosi.

“Bagus kalau begitu !”, ujar Arya
sambil menarik kedua adiknya keluar dari rumah itu meninggalkan Sean dengan
hati mendongkol.

 

©©©©©©

TO BE CONTINUED

Berhasilkah rencana Arya, Ogi dan Ical menjauhkan Lilly dari Sean ?
Ikuti kisah lanjutannya pada The Greatest Love of Lilly Part Two. Coming Soon…

dan jangan lupa juga tolong beri comment untuk Novel bagian satu ini

oke.. thank’s b4, aku tunggu ya…

Dita_copy_2

Penulis : Dita Desiana

Malang, Juni 2007